15069027197_736c3179db_b

Lonceng pernikahan berdentang di Basilika Santo Petrus di pagi hari 14 September 2014 saat Paus Fransiskus memimpin Misa pernikahan untuk 20 pasangan dari Keuskupan Roma. Perayaan itu terjadi hanya tiga minggu sebelum dimulainya Sinode tentang Tantangan-Tantangan Pastoral Keluarga dalam Konteks Evangelisasi.

Ketika merefleksikan bacaan pertama, yang mengenang perjalanan bangsa Israel di padang gurun, Paus mengatakan bahwa perjalanan berbahaya mereka mengingatkan perjalanan Gereja melalui “gurun dunia yang kontemporer.”

Hal itu, “membuat kita berpikir tentang keluarga, keluarga kita, yang sedang menjalani langkah-langkah kehidupan yang disertai pengalaman hari ke hari,” kata Paus.

“Tak mungkin mengukur kekuatan dan kedalaman kemanusiaan yang terkandung dalam keluarga: saling membantu, dukungan pendidikan, hubungan-hubungan yang berkembang saat anggota-anggota keluarga menjadi dewasa, berbagi sukacita dan kesulitan. Keluarga adalah tempat pertama kita dibentuk sebagai pribadi dan sekalian sebagai ‘batu bata’ untuk membangun masyarakat,” lanjut Paus.

Namun, seperti orang Israel, ada saat-saat ketidaksabaran dan godaan, yang juga kadang-kadang terjadi dalam pernikahan dan kehidupan keluarga, kata Paus. “Kesulitan dalam perjalanan itu menyebabkan mereka mengalami kelelahan batiniah, kehilangan aroma pernikahan, dan berhenti untuk menimba air dari sumur Sakramen.”

Bacaan pertama bercerita tentang ular-ular beracun yang memagut orang-orang Israel. Mereka kemudian bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan. Obat yang berikan oleh Allah adalah meminta menaruh seekor ular di atas tiang dan semua orang yang dipagut ular sembuh saat melihat ular itu.

Paus mencatat bahwa Tuhan tidak menghancurkan ular-ular itu, melainkan memberikan penangkal yang lebih kuat dari “racun pencoba itu.”

“Secara khusus, obat yang Allah berikan itu berlaku juga bagi pasangan-pasangan yang ‘sudah tidak sabar di jalan itu’ dan yang menyerah pada godaan berbahaya berupa keputusasaan, perselingkuhan, kelemahan dan pemutusan,” kata Paus. Karunia menyembuhkan dari Salib memperbaharui pasangan-pasangan nikah dan keluarga-keluarga dan menempatkan mereka ke jalan yang benar, tegas Paus..

Menyalami pasangan-pasangan itu secara langsung, Paus meminta mereka menempatkan kasih Kristus di tengah-tengah kehidupan perkawinan mereka dan membiarkan terjadi ‘pertukaran perbedaan’ dalam diri mereka.

“Itulah perkawinan,” kata Paus. “Pria dan wanita berjalan bersama-sama, dan dalam perjalanan itu suami membantu istrinya untuk menjadi lebih wanita, dan wanita bertugas membantu suaminya untuk menjadi lebih pria.”

Bapa Suci juga menekankan pentingnya rekonsiliasi kalau terjadi argumen atau perselisihan. “Jalan itu tidak selalu mulus dan bebas dari perbedaan pendapat,” kata Paus.

Sebelum mengakhiri homili dan melanjutkan dengan Ritus Perkawinan, Paus Fransiskus mengingatkan pasangan-pasangan itu bahwa pernikahan adalah simbol dari kehidupan nyata, dengan menekankan bahwa “perkawinan bukanlah ‘fiksi’,” tetapi ”Sakramen cinta Kristus dan Gereja, cinta yang menemukan bukti dan jaminannya pada Salib.” (Terjemahan pcp dari tulisan Junno Arocho Esteve dari Zenit.org)

Tinggalkan Pesan