DSCN4352

Perayaan HUT ke-24 Couple for Christ (CFC) Indonesia memiliki arti penting bagi keluarga Katolik. Sebagai salah satu kelompok kategorial, usia itu tidak muda lagi, maka umat yang tergabung dalam wadah itu perlu mengobarkan cinta kasih dalam keluarga.

Vikaris Episkopalis (Vikep) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Pastor Alexius Andang Listya Binawan SJ berbicara dalam sambutan perayaan itu di hadapan 300-an peserta anggota CFC yang terdiri dari pasangan suami-isteri untuk Kristus (pasukris), anak-anak, kaum muda, serta single parent di sebuah aula Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci, Tangerang, 14 September 2014.

Dalam sambutan perayaan yang juga dihadiri Koordinator Umum CFC Indonesia Alex Gosyanto dan perwakilan CFC Pangkalpinang, Solo, Yogyakarta, Surabaya dan Flores, Pastor Andang mengatakan bahwa pertumbuhan iman keluarga yang baik berdampak bagi kehidupan paroki yang baik. “Maka iman yang baik dalam keluarga perlu terus dikobarkan dengan mewujudkan cinta kasih dalam keluarga, sehingga iman dalam keluarga bertumbuh dengan baik serta berkualitas.”

Perayaan bertema “Family of Love” itu diawali dengan Misa yang dipimpin Rektor Rumah Retret Tigaraksa, Tangerang, Pastor John Tolok SDB. Imam itu menegaskan bahwa usia yang diraih CFC itu menandakan bahwa cinta Tuhan sungguh-sungguh dicurahkan  bagi setiap pasangan anggota CFC.

Imam itu mengamati, pengalaman hidup berkeluarga zaman sekarang cenderung bersungut-sungut. “Pengalaman ini tidak berbeda dengan umat Israel yang dipimpin Musa, yang selalu bersungut-sungut atas kebaikan Tuhan. Maka berkenaan dengan HUT ini, hendaknya keluarga selalu mengosongkan diri sama seperti Yesus, yang menyerahkan seluruh kehendak kepada Bapa di surga,” ajak Pastor John.

Menyinggung Pesta Salib Suci yang juga dirayakan hari itu, imam itu menegaskan bahwa salib diperlukan dalam keluarga, “karena salib sesungguhnya merupakan pengorbanan diri untuk kebahagiaan orang lain,” kata imam itu seraya mengajak keluarga Katolik mengasingkan diri atau ber-kenosis seperti Yesus yang rela mengasingkan diri hingga wafat di salib guna menunjukkan kasih-Nya.

Maryenti-Bernardo, pasukris dari Paroki Santa Helena yang masuk CFC tahun 2008, mengaku mengalami pertumbuhan iman sejak bergabung dalam kelompok kategorial itu. “Sebelum masuk CFC saya kurang aktif, tapi setelah masuk CFC saya rajin ke gereja dan sering membaca Kitab Suci,” kata Maryenti.

Menurut Alex Gosyanto, jumlah anggota CFC di 24 keuskupan di Indonesia sekitar 11.000 orang. “Ke depan, CFC akan dikembangkan ke keuskupan yang belum terjangkau selama ini.”

Komunitas Pasukris mulai berkarya di Jakarta bulan Juli 1990 atas prakarsa top Eksekutif Filipina yang bekerja di perusahaan nasional di Jakarta antara lain pasangan Domi Gregorio-Melen dan Jun Dimarucot-Angie. (Konradus R Mangu)

Tinggalkan Pesan