Uskup Agung Tomasi

Pengamat Tetap Takhta Suci untuk PBB di Jenewa, Uskup Agung Silvano Tomasi memperbaharui seruan kepada masyarakat internasional untuk menghentikan militan Negara Islam (ISIS) dari penganiayaan dan pembasmian umat Kristiani dan minoritas lainnya di Irak dan bagian-bagian lain wilayah itu.

Sebelumnya, Wakil Tetap Ordo Pewarta atau Dominikan (OP) untuk PBB Pastor Mike Deeb OP mengeluarkan seruan dari Master Ordo Dominikan Pastor Bruno Cadoré OP kepada semua pemimpin dunia dan negara-negara anggota PBB untuk segera bertindak mengatasi masalah di Irak.

Berbicara kepada Radio Vatikan, 27 Agustus 2014, Uskup Agung Tomasi mengatakan, “Dalam konteks kekerasan tragis ini, tugas Gereja sulit tetapi terus berlanjut. Teladan dari Bapa Suci jelas: ia terus berseru kepada masyarakat internasional dan kepada semua umat beriman untuk berdoa agar langkah menuju perdamaian ditemukan, dengan mengajak setiap orang untuk negosiasi dan negara-negara yang mampu menghentikan agresor – melalui mekanisme PBB – (untuk mengambil tindakan).”

Beberapa hari lalu, kata uskup agung itu, para uskup setempat, para Patriark, umat Katolik dan Ortodoks dari berbagai ritus – Siria, Kasdim, Melkite – bertemu dan merumuskan dengan jelas rencana-rencana aksi yang penting.

Rencana aksi pertama adalah “meminta bantuan masyarakat internasional untuk menghentikan kekerasan dan pembunuhan tidak hanya terhadap orang Kristen tetapi juga terhadap orang Yazidi dan kelompok-kelompok lain.

Kami mengira orang-orang Kristiani dipenggal kepalanya dan dari foto-foto itu, kalian bisa melihat kepala-kepala digantung seperti dinding atau dekorasi gerbang. Ini benar-benar keterlaluan, benar-benar tidak dapat diterima!”

“Kedua, mereka meminta agar ada kehadiran internasional yang menjamin kembalinya umat Kristiani ke desa-desa mereka dan ke rumah-rumah mereka. Mereka berhak tinggal di kampung halaman yang sudah mereka diami selama 1.700 tahun, sejak sebelum kedatangan Islam. Mereka harus terus (tinggal di sana) bukan hanya karena itu hak mereka, tetapi juga karena mereka merupakan kehadiran yang bermanfaat bagi umat Islam dan yang ikut menganekaragamkan konteks sosial yang perlahan-lahan bisa dapat menyokong demokrasi yang menghormati identitas setiap orang dan setiap kelompok.”

Tentang tindakan kelompok militan Islam, Boko Haram, yang telah meneror dan baru-baru ini memproklamirkan kekhalifahan di Nigeria, Uskup Agung Tomasi mengatakan, “kekerasan yang digunakan Boko Haram mengkhawatirkan.”

Nigeria sedang berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi sekte fundamentalis ini, yang menyamarkan kehausan mereka akan kekuasaan dengan bahasa agama, namun kenyataannya, yang menjadi akar gerakan ini adalah (keinginannya untuk) penguasaan wilayah ini.

Jadi, masyarakat internasional harus mengutuk (Boko Haram) dan menjelaskan bahwa metode-metode yang digunakan orang-orang ini benar-benar tidak dapat diterima. Dengan cara apa pun yang dianggap berguna, masyarakat internasional harus juga mendukung pemerintah Nigeria untuk memenuhi upayanya untuk menolak kelompok ini.”

Dalam seruan, Pastor Bruno Cadoré OP mengatakan bahwa memiliki sebuah forum seperti PBB yang berkomitmen untuk membangun dunia yang rukun dan damai adalah sebuah berkat. “Namun, banyak orang banyak orang dalam situasi yang rapuh menjadi sinis melihat operasi PBB saat teriakan mereka untuk mendapatkan bantuan dan perlindungan tidak didengar.”

Seraya memuji negara-negara yang membantu para pengungsi Irak, dan percaya bahwa masyarakat internasional bisa dan wajib campur tangan menghentikan kekuatan para pelaku kekerasan itu, Pastor Bruno menyerukan kepada semua negara anggota PBB agar “tetap mempertimbangkan krisis di Irak dan memastikan penyebaran segera unit-unit militer khusus dari sebanyak mungkin negara yang memiliki kapasitas yang diperlukan guna menghentikan pembersihan etnis dan sektarian yang sedang berlangsung, guna memastikan bahwa para pengungsi bisa pulang dengan aman ke rumah-rumah mereka dan membawa para pelaku ke pengadilan.”

Juga diserukan agar pengadaan senjata apapun kepada para pelaku dihentikan dan mereka yang terus memberikan senjata kepada mereka diberikan sangsi, agar krisis kemanusiaan yang meningkat saat ini segera diredakan, agar anggota-anggota kelompok minoritas yang dianiaya dilindungi dan memberikan mereka suaka tanpa penundaan sesuai Hukum Humaniter Internasional, dan agar dialog dan pembicaraan damai yang mencakup semua sektor masyarakat segera dipersiapkan.

“Kami berharap dan berdoa agar kalian serta pemerintahan kalian akan menanggapi seruan mendesak ini,” tulis Pastor Bruno Cadoré OP di akhir seruan. (pcp)

Tinggalkan Pesan