IMG_2021

“Berpikirlah global, bertindaklah lokal,” dan untuk bisa bertindak secara lokal dan kontekstual, diperlukan persiapan matang. Dalam kaitan itu, Pastor Yohanes Berchmans Heru Prakosa SJ melihat “belajar” sebagai yang sangat penting seperti dikatakan oleh Master Ordo Dominikan Pastor Bruno Cadoré OP dalam sebuah diskusi kelompok JRD di Surabaya, “karena hanya melalui belajar kita dapat mengetahui persoalan secara mendalam, dan hanya melalui belajar kita dapat berpikir global dan memperluas cakrawala.”

Pastor Heru, dosen tetap Program Magister Teologi di Universitas Sanata Dharma, memberikan catatan kesimpulan di akhir Konferensi Bersama 2014 dari Justice, Peace and Care of Creation (JPCC) Asia-Pasifik dan Journées Romaines Dominicaines (JRD) yang berlangsung di Surabaya, 11-16 Agustus 2014.

JRD adalah pastor, suster, dan awam Dominikan (OP) yang bekerja di negara-negara atau komunitas-komunitas Muslim dan rutin berbagi pengalaman dialog dengan umat Islam, dan JPCC adalah kelompok pastor, suster dan awam OP yang berkarya untuk keadilan, perdamaian dan kepedulian terhadap ciptaan yang juga rutin berbagi pengalaman mereka dalam karya-karya itu.

Selain belajar, lanjut Pastor Heru, tantangan lain adalah melakukan penelitian, publikasi, dan pelatihan. Dalam hal itu, tegas imam itu, “kita pasti harus bekerja sama juga dengan semua kelompok dalam keluarga Dominikan, bahkan dengan ordo lain, di tingkat provinsi dan regio, singkatnya membangun jaringan dengan semua kelompok yang berkarya dalam bidang dialog antaragama demi keadilan, pengembangan perdamaian dan kesatuan ciptaan.”

Ada beberapa proyek menjanjikan yang bisa dilakukan bersama. Namun, “belajar dan pelatihan bersama adalah program konkret yang harus disebutkan di sini,” kata imam itu seraya menegaskan bahwa yang dilakukan Keluarga Dominikan sedunia di Surabaya adalah semacam dialog, dan tentu saja “itu adalah sebuah cara untuk mewartakan nilai-nilai Kristiani bagi orang lain.”

Dialog antaragama, jelas imam itu, tidak harus dilihat hanya sebagai cara untuk menangani masalah seperti fundamentalisme dan kekerasan. “Sudah lama kami berupaya menangani kemiskinan, namun faktanya kemiskinan selalu ada. Paus sudah mengundang Presiden Israel dan Presiden Palestina untuk bertemu bersama, namun perang masih pecah.”

Maka, kepala Pusat Penelitian dan Pelatihan Teologi Kontekstual pada Fakultas Teologi di Universitas Sanata Dhama itu mengatakan, “Dialog antaragama harus juga dipahami sebagai tantangan bagi pengembangan iman. Kita didorong untuk terbuka kepada penganut agama lain, atas dasar pemahaman bahwa iman kita akan berkembang dan semakin  mendalam dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk situasi negatif.”

Menurut Pastor Heru, “dialog adalah cara pewartaan baru, karena hanya melalui perjumpaan kita akan bisa memberi kesaksian dan mewartakan Kabar Gembira.”

Dalam perspektif itu, jelas imam itu, dialog tidak harus dipandang sebagai strategi agar orang lain pindah agama, tetapi mengarahkan orang dari berbagai latar belakang agama untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi. “Dalam dialog dengan budaya dan tradisi keagamaan, Gereja akan mampu menemukan kembali dinamisme murninya yang menuntut pengosongan radikal (kenosis) dalam pola pikir, bentuk ritual dan struktur masyarakatnya.”

Dalam masyarakat majemuk, kata imam itu, dialog antaragama dan perjuangan untuk perdamaian serta upaya untuk memelihara ciptaan dan memerangi ketidakadilan saling terkait erat. Dialog antaragama diarahkan untuk ‘transformasi sosial’ yang hanya bisa diwujudkan dengan kerja sama di antara banyak orang dari berbagai latar belakang, termasuk latar belakang iman.

Dengan kata lain, “dialog antaragama dapat dipahami sebagai ‘bagaimana’, sedangkan keadilan-perdamaian dan kepedulian terhadap ciptaan sebagai ‘apa’,” tegas Pastor Heru seraya menambahkan bahwa pendekatan harus dimulai dari bawah, dari kenyataan, dari konteks hidup sehari-hari.(paul c pati)

 

Tinggalkan Pesan