safe_image (1)

Pada hari kedua kunjungannya ke Korea Selatan, tanggal 15 Agustus 2014, Paus Fransiskus meminta orang muda Katolik (OMK) se-Asia untuk berdoa bagi persatuan keluarga Korea, demikian laporan Radio Vatikan dari Tempat Suci Para Martir Korea di Solmoe.

Menanggapi serangkaian pertanyaan yang diajukan oleh sebagian OMK yang hadir, termasuk pertanyaan seorang gadis Korea tentang penderitaan bangsanya akibat pemisahan antara Utara dan Selatan, Paus spontan mengatakan dalam bahasa Italia bahwa dalam kenyataannya tidak ada dua Korea, hanya satu, Korea yang terbagi, dan hanya seperti sebuah keluarga yang menderita perpecahan.

Perjumpaan Paus dengan OMK yang berkumpul mengikuti Hari Kaum Muda Asia (Asian Youth Day, AYD) Keenam berlangsung di Solmoe, tempat kelahiran Santo Andrew Kim Taegon. Imam pertama orang Korea, Santo Andrew, berasal dari keluarga dengan 11 martir, termasuk ayah dan kakeknya. Santo Andrew sendiri mati sebagai martir tahun 1846, hanya 13 bulan setelah ditahbiskan imam, ketika ia baru berusia 25 tahun.

Saat Misa di Stadion Piala Dunia di Daejoen, Paus Fransiskus mendesak OMK Korea untuk menjadi kekuatan untuk pembaharuan rohani di setiap tingkat masyarakat, serta memperingatkan mereka akan “godaan materialisme yang menghambat nilai-nilai spiritual dan budaya  otentik serta semangat persaingan yang tak terkendali yang menyebabkan keegoisan dan perselisihan.”

Paus meminta agar mereka melihat Maria sebagai Bunda Harapan dan mendorong mereka “menolak model ekonomi yang tidak manusiawi yang menciptakan bentuk-bentuk kemiskinan baru dan memarginalkan pekerja, serta menolak budaya kematian yang merendahkan citra Allah, Allah kehidupan, dan melanggar martabat setiap pria, wanita dan anak-anak.”

Sedangkan kepada para uskup Korea yang ditemuinya di Seoul tanggal 14 Agustus 2014, Paus meminta mereka untuk menjaga memori dan harapan. Paus mengenang benih yang ditaburkan para martir Korea yang, “menghasilkan panen berlimpah rahmat,” dan meminta para uskup sesuai harapan Injil untuk “tetap menghidupkan api kekudusan, kasih persaudaraan dan semangat misionaris.”

Gereja di Korea, kata Paus, dihargai karena perannya dalam kehidupan spiritual dan budaya bangsa serta dorongan misionaris yang kuat. “Menjadi penjaga memori bukan saja mengingat dan menghargai rahmat masa lalu, tetapi mengambil daya spiritual dari rahmat-rahmat itu guna menghadapi harapan, tantangan dan janji masa depan.”

Menjaga harapan, jelas Paus, berarti menunjukkan perhatian dan kepedulian kepada anak-anak dan orangtua, serta memastikan bahwa visi kenabian Gereja tetap terlihat “dalam kepeduliannya terhadap kaum miskin dan program-program Gereja untuk pengungsi, kaum migran, dan mereka yang terpinggirkan.”

Paus  disambut di bawah tangga pesawat oleh Presiden Park Geun-hye. Setelah kedatangannya, Paus merayakan Misa pribadi di Kedutaan Vatikan dan berkunjung ke Istana Kepresidenan “Blue House”. Paus mengatakan bahwa dia senang menikmati keindahan masyarakat, serta kekayaan budaya dan sejarah di negeri itu. Untuk pertama kalinya Paus menggunakan bahasa Inggris saat memberikan sambutan kepada otoritas politik dan sipil Korea Selatan.(pcp)

Paus Korea1

 

 

 

Tinggalkan Pesan