John Prior 

“Jika dialog menjadi model untuk mewartakan Firman, maka yang kita perlukan adalah kemauan dan kemampuan untuk mendengarkan, mendengarkan sebaik-baiknya dengan telinga hati.”

Pastor John Mansford Prior SVD menjadi pembicara pertama dalam Konferensi Bersama JPPC Asia Pasifik, yang bekerja untuk keadilan dan perdamaian serta kepedulian akan ciptaan, dan JRD yang bekerja untuk dialog dengan agama Islam, di Surabaya, tanggal 12 Agustus 2014.

Imam dari Inggris yang sudah 40 tahun menjadi misionaris di Indonesia itu menegaskan bahwa  “Panggilan misionaris lintas budaya lebih merupakan kerasulan mendengarkan dan memahami, karena dengan demikian rintangan akan hilang, dan iman seseorang tidak hanya akan terkurung dalam bingkai personal, budaya, denominasi atau agama tertentu.”

Mantan anggota Dewan Kepausan untuk Kebudayaan di Vatikan itu memberikan masukan dengan tema “Dialog sebagai sebuah Model Pewartaan Sabda” di depan sekitar 90 imam, frater, suster dan awam Dominikan dari 30 negara.

Menanggapi pertanyaan PEN@ Katolik tentang berbagai kelompok radikal, Pastor Prior mengatakan, “Kita harus mendengar segala suara, suara marah dan jengkel, suara pahit dan benci, serta sungguh memahami latar belakang mereka.” Sekurang-kurangnya, kata imam itu, harus ada jalan untuk diskusi dengan mereka, “paling kurang kita dengar mereka.”

Imam yang berkarya di Folres itu bercerita bahwa di masa Suharto, politik terbungkam, ekonomi tak pernah maju, budaya ketinggalan, dan pendidikan tidak maju. Kalau demikian, “dari mana orang mendapat harga dirinya? Saat itu yang tertinggal hanya etnis dan agama, sehingga membuat orang menjadi fanatik.”

Maka, jelasnya, kalau imam itu melihat dan beberapa orang yang sungguh fanatik, dia mau bertanya apa politiknya, apa yang terjadi dengan ekonomi, pendidikan dan budaya mereka. “Dan saya kira kalau kita menjawab masalah-masalah umum seperti itu, saya yakin tidak akan ada banyak yang fanatik lagi. Kalau semua jalan lain sudah buntu dan hanya tertinggal etnis dan agamanya, itulah jalan akhir untuk mempertahankan rasa harga diri dan ada tempat di dunia ini.”(paul c pati)

 

 

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan