P1150832

Kita memang berbeda, tetapi tidak membuat perbedaan itu sebagai sekat, sebagai tembok yang akan memisahkan kita, kata Kepala TU Masjid Agung Jateng (MAJT) Fatquri Busyeri dalam Halal Bihalal Kebangsaan di Aula Pastoran Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kebon Dalem, Semarang, 12 Agustus 2014.

“Kita diciptakan laki-perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku untuk mengenal satu sama lain,” katanya dalam acara yang dihadiri warga lingkungan Gereja, para aktivis lintas agama, orang muda Katolik, pendeta dan mahasiswa.

Dalam halal bihalal, lanjut Fatquri dalam acara yang diselenggarakan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS) bekerja sama dengan Dewan Harian Paroki Gereja Kebon Dalem itu, setiap orang diajak untuk saling merajut tali silaturahmi, baik yang terhitung dalam satu keluarga maupun untuk seluruh umat manusia.

Acara halal bihalal itu diselenggarakan selain sebagai perayaan hari Idul Fitri, juga diselenggarakan dalam rangka menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69.

Sebagai manusia, tegasnya, ada saatnya kita tidak bisa memilih, seperti lahir di Indonesia. “Kita hidup di dunia ini bukan karena kebetulan, tapi sudah direncanakan oleh Allah SWT,” katanya.

Menurutnya, sesusah apapun, orang yang lahir di Indonesia tidak boleh mengeluh. “Indonesia mempunyai potensi untuk maju dan kita berkeyakinan bahwa bangsa Indonesia suatu saat akan maju. Siapapun presidennya, kita masih harus bekerja,” katanya sebab “orang bisa mencapai taraf hidup lebih baik, jika mau berusaha.”

Kemungkinan Indonesia akan maju, lanjutnya, karena  Indonesia memiliki kekayaan yang melimpah ruah.

Dalam keragaman yang dimiliki masing-masing orang, Fatquri berharap supaya masing-masing orang semakin terbuka. “Kita diciptakan oleh Allah memang beraneka ragam, tidak seiman, tetapi iman yang berbeda jangan menjadi alat untuk pecah belah,” katanya.

Fatquri juga mengajak semua hadirin supaya bersyukur tinggal di Indonesia. “Bangsa kita yang tercinta ini adalah rumah kita. Baik atau buruk ini adalah rumah kita. Kita menyadari kalau sekarang ini masih ada kekurangan, kita akan bersama-sama membangun Republik Indonesia tanpa ngomel, tanpa mencaci,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia itu kaya. “Bahan bakunya di Indonesia sudah siap, tinggal kita mengolah kekayaan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat, yang mberkahi untuk kita semua,” katanya seraya menegaskan, cinta kepada tanah air adalah sebagian dari iman.

Menurut Ketua Komisi HAK KAS Pastor Aloys Budi Purnomo Pr, acara itu diadakan dalam rangka untuk merajut silaturahmi meskipun masing-masing memiliki perbedaan. “Acara ini menjadi simpul silaturahim yang ditandai sikap saling hormat dalam keberagaman” katanya.

Dalam kesempatan itu, Pastor Budi memberikan pesan Vatikan untuk menyambut Idul Fitri 1435 H dan buku “Merajut Persaudaraan Sejati Lintas Iman” kepada Fatquri. Pastor Budi juga sempat berkolaborasi memainkan saksofon bersama dengan kelompok kasidahan Elbita dari IAIN Walisongo Semarang yang melantunkan shalawat.

Tayangan video kolaborasi Tania Kassis, Mohammad Shaar dan Maen Zakaria yang melantunkan Adzan berpadu dengan lagu Ave Maria gubahan Giulio Caccini pun diputar untuk mengajak hadirin supaya menghargai perbedaan. “Kolaborasi yang mengguncang dunia di tengah suasana keprihatinan karena ada sekelompok orang ingin mengacau dan merusak suasana kerukunan dunia,” katanya.(Lukas Awi Tristanto)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan