P1150816

Nasi putih melambangkan hati bersih untuk merekat persaudaraan. Ikan pindang menggambarkan rapi saling mengundang untuk silaturahmi. Tempe itu suatu kritik untuk kita, jangan sampai “esok tempe, sore dele” atau tidak konsisten. Sikap itu yang harus kita jaga secara konsisten. Merajut persaudaraan sejati butuh konsistensi.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnono Pr menegaskan hal itu beberapa saat sebelum berdoa makan dalam acara halal bihalal Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, di Ngaliyan, Semarang, 7 Agustus 2014.

Silaturahmi yang sudah berjalan selama 10 tahun itu diawali oleh Pastor Budi dengan Direktur eLSA Tedi Kholiludin yang akrab dipanggil Mas Tedi. Itulah “virus pertama perjumpaan kita, silaturahmi,” kata imam itu dalam syukuran atas selesainya studi seorang staf eLSA, selamatan untuk studi lanjut yang akan ditempuh tiga orang staf, dan ulang tahun ke-9 dari eLSA.

Pastor Budi menyampaikan apresiasi atas upaya merajut silaturahmi dan membangun perdamaian khususnya di Semarang. “Dalam arti ini saya harus acungkan dua jempol,” kata imam itu memuji regenerasi di eLSA.

Meski yang hadir dalam acara itu berbeda agama, lanjut Pastor Budi, tetapi mereka “satu di dalam iman akan Tuhan Yang Esa, Yang Maharahim, dan Yang Mahabaik untuk kita semua.” Hal itu, tegasnya, lebih indah daripada satu agama tetapi berbeda iman karena kebencian, kekerasan, bahkan saling bunuh, satu sama lain. “Lebih baik kita berbeda agama tetapi satu iman dalam kerukunan dan persaudaraan.”

Halal bihalal itu diawali dengan sharing pengalaman Pastor Budi selama Lebaran. Selama kurun waktu itu, demikian Pastor Budi, dia melakukan silaturahmi dengan sejumlah tokoh Islam baik yang di pondok pesantren maupun tokoh pemerintahan yang beragama Islam di sekitar Semarang dan Salatiga.

Salah seorang staf eLSA, Siti Rofi’ah, mengatakan bahwa Pastor Budi sangat piawai dalam memaknai peristiwa sederhana sehari-hari dengan cara yang mendalam, termasuk kisah-kisah perjumpaan dalam silaturahmi selama Lebaran.

Menurut Mas Tedi, halal bihalal yang sebenarnya biasa dan hanya untuk kalangan internal eLSA, “menjadi luar biasa karena kedatangan Pastor Budi meskipun sangat sibuk.” Silaturahmi dan kerja sama yang dilakukan dengan eLSA, lanjutnya, awalnya hanya dengan dosen kemudian dalam perjalanan waktu meluas dengan mahasiswa dan adik-adik angkatan.

Meski di tengah gelombang intoleransi seperti kerap terjadi, sejak tahun 2005, “kita sudah bekerja sama, bersilaturahmi,” kata Mas Tedi yang berharap agar silaturahmi itu terus langgeng. “Bahkan tidak hanya di lingkungan kita saja, namun bisa meluas. Semakin luas perkenalan ini kita bangun, juga semakin baik,” katanya.

Lembaga nirmala dengan nama eLSA itu bekerja untuk mendiseminasikan gagasan keberagamaan yang inklusif dan toleran, demokrasi, hak sipil, hak kelompok minoritas dan penegakan hak asasi manusia.(Lukas Awi Tristanto)

 

Tinggalkan Pesan