Peace

Sebuah nota verbale atau nota diplomatik yang ditandatangani Menteri Luar Negeri Vatikan Kardinal Pietro Parolin dikirim ke semua kedutaan yang diakreditasikan kepada Tahta Suci atas nama Paus Fransiskus yang mendesak duta besar-duta besar untuk mengupayakan perdamaian.

Menurut Radio Vatikan, catatan yang belum dipublikasikan itu dikeluarkan oleh Kardinal Parolin dalam upaya untuk meningkatkan perdamaian. Catatan itu juga berisi teks-teks dari sambutan-sambutan belakangan ini yang Paus Fransiskus sampaikan untuk menyerukan perdamaian, khususnya di Timur Tengah.

Dalam komentarnya, sekretaris hubungan dengan negara-negara di Kuria Roma, Mgr Dominique Mamberti menjelaskan pentingnya pengiriman nota verbale yang menekankan bahwa situasi saat ini di Timur Tengah merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia.

Dengan seruan perdamaian itu, lanjut imam itu, Tahta Suci mengajak seluruh masyarakat internasional untuk memperhatikan persoalan perdamaian.

Dalam minggu-minggu terakhir ini, Paus Fransiskus telah mengeluarkan beberapa seruan perdamaian. Lewat telepon pribadi, Paus meminta presiden Israel dan presiden Palestina untuk lebih mengupayakan perdamaian.

Paus juga menelepon Patriark Siro-Katolik Ignatius Youssef III Younan dari Antiokhia dan Patriark Khaldea dari Babilonia Louis Raphael I Sako untuk meyakinkan mereka bahwa Paus tetap berdoa bagi mereka di tengah kekerasan yang semakin meningkat terhadap umat Kristiani di Irak.

Setelah seruan perdamaian setelah Doa Angelus mingguannya selama hampir satu bulan terakhir, dengan tulus hati Paus Fransiskus kembali menyampaikan seruan yang sama saat memperingati 100 tahun awal Perang Dunia Pertama, 28 Juli 1914.

Dalam Doa Angelus 27 Juli 2014, Uskup Roma itu merujuk cara Paus Benediktus XV menyebut perang yang berlangsung hingga 11 November 1918 itu sebagai “pembantaian yang tak ada gunanya” karena “setelah empat tahun yang panjang” menghasilkan “perdamaian yang sangat rapuh.”

Meratapi jutaan orang yang tewas dalam “penghancuran besar” dalam perang itu, paus itu mendorong semua orang yang hadir untuk belajar dari sejarah yang “semakin didominasi oleh tuntutan perdamaian melalui dialog yang sabar dan berani.”

Mengenang pertikaian yang sedang berlangsung di Timur Tengah, Irak dan Ukraina, Paus meminta agar “kalian terus ikut berdoa bersama saya agar Tuhan memberikan kepada masyarakat dan pihak-pihak yang berwenang di daerah-daerah itu kebijaksanaan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk mendorong langkah perdamaian dengan mengatasi setiap perselisihan dengan kegigihan dialog dan negosiasi demi rekonsiliasi.”

“Saudara dan saudari: Jangan pernah berperang! Jangan pernah berperang!” seru Paus.

Mengingat dampak perang terhadap anak-anak yang terbunuh, terluka, cacat atau yatim piatu, Paus berduka karena banyak anak telah kehilangan “harapan untuk hidup layak” dan “tidak tahu bagaimana tersenyum” lagi.

“Hentikan, tolong!” ujar Paus kepada mereka yang terlibat dalam konflik kekerasan. “Saya meminta kepada kalian dengan sepenuh hati.” (diterjemahkan oleh pcp dari tulisan Elise Harris yang dimuat dalam EWTN News/CBA dari Kota Vatikan 30 Juli 2014)

Tinggalkan Pesan