IMG_0787

Pemahat yang sedang memahat bongkahan batu mampu melihat bahwa batu itu bisa dibuat menjadi patung seekor singa yang gagah. Dia mampu melihat lebih jauh daripada yang tampak. Itulah mata kontemplatif, itulah mata iman.

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo bercerita tentang mata kontemplatif seorang pemahat dan perlunya bersyukur dalam keadaan apa pun dalam homili Perayaan Ekaristi Syukur Ulang Tahun Paguyuban Para Romo Praja atau Diosesan (UNIO) Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang ke-59 dan Ulang Tahun Tahbisan Uskup keenam Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta.

“Mata iman atau mata kontemplatif mampu menembus realitas yang buruk dan melihat di balik itu semua bahwa Allah tidak pernah berhenti berkarya serta mampu melihat lebih jauh daripada yang tampak,” tegas Mgr Suharyo dalam Misa di Gereja Santo Athanasius Agung Karang Panas, Semarang, 15 Juli 2014.

Selain memiliki mata iman, kata Mgr Suharyo dalam pesta ulang tahun UNIO yang bertema “Saras  (sehat), Setya (setia), dan Sumadulur (bersaudara)” itu, para imam diosesan harus selalu bersyukur dalam keadaan apapun, agar “hidupnya ringan, tidak kuatir akan apa pun.”

Ketika tidak cemas dan tidak kuatir mengenai hal-hal yang sama sekali tidak penting, beban akan ringan atau tidak ada beban, dan “buahnya adalah saras,” kata Mgr Suharyo yang juga mengatakan bahwa syukur adalah sumber dari setya, “seperti halnya Yesus yang selalu bersyukur melalui doa-Nya kepada Allah Bapa.”

Dalam hal sumadulur, menurut Mgr Suharyo, orang yang hidupnya dipenuhi syukur tidak akan berbicara dengan kata-kata yang tidak meneguhkan. “Apa pun yang keluar dari mulutnya seperti air dan salju yang turun dari langit yang membasahi bumi, menyuburkan tanaman dan akhirnya menghasilkan buah.”

Kata-kata yang meneguhkan seperti itu, tegas Uskup Agung Jakarta kepada para imam diosesan KAS dan sejumlah umat yang hadir, membuat semua orang yang bersyukur, sadar atau tidak, akan menunjukkan semangat persaudaraan itu.

Mengomentari mengenai setya, Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta mengenang saat sebelum ditahbiskan uskup, mendiang ibunya meletakkan cincin uskup di jari manisnya sebagai lambang ikatan kasih kepada Kristus dan Gerejanya, yang mirip ikatan perkawinan suami-istri, yang berjanji tetap setia dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit.

“Saya mengiyakan itu, bahwa Kristus mencintai Gereja-Nya, Kristus mencintai saya, menunjukkan kesetiaan-Nya, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit. Kesetiaan menjadi suatu dasar, untuk bisa mengalami peristiwa kehidupan,” ungkap Mgr Pujasumarta.

Ekaristi syukur itu juga dihadiri Uskup Emeritus Ketapang Mgr Blasius Pujaraharja. Mgr Pujaraharja berharap supaya anggota UNIO saling mendukung dan membantu dalam karya, baik spiritual maupun material. Sedangkan Ketua UNIO KAS Pastor Antonius Dodit Haryono Pr berterima kasih atas berbagai dukungan kepada para imam praja KAS.

Hari Ulang Tahun UNIO juga diisi berbagai pertandingan di antara para imam diosesan, yakni bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, dan futsal. (Lukas Awi Tristanto)

 

Tinggalkan Pesan