20140712_224110

Malam minggu yang disertai hujan rintik-rintik hampir larut, namun sedikitnya 90 orang muda Katolik (OMK) Keuskupan Agung Semarang (KAS) dari Kevikepan Yogyakarta, Kedu, Surakarta dan Semarang masih berdiri dengan lilin perdamaian di tangan mereka sambil berdoa bersama untuk solidaritas Palestina dan para korban konflik yang terjadi Jalur Gaza.

Dalam keheningan malam tanggal 12 Juli 2014, terdengar alunan saxofon yang ditiup Pastor Aloys Budi Purnomo Pr mengiringi mereka menyanyikan kidung pujian Amazing Grace, diikuti lantunan senandung pujian “Yesus… Yesus… Yesus…” mengiringi mereka mendaraskan doa demi perdamaian Timur Tengah, khususnya Palestina-Israel, dan bagi para korban konflik terutama anak-anak dan perempuan.

Mereka diingatkan bahwa di Palestina dua ribu tahun silam Yesus lahir dan diwartakan sebagai pembawa damai bagi semua orang yang berkenan kepada Allah.

Di awal doa, Pastor Budi, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan  (Kom HAK) KAS juga menegaskan bahwa Allah tidak menghendaki peperangan dan konflik. “Perang dan konflik tidak selaras dengan kehendak Allah dan tidak berbuah damai-sejahtera. Mari berdoa bagi saudari-saudara kita di Tanah Suci agar konflik segera berakhir dan damai-sejahtera diwujudkan tanpa diskriminasi!”

Malam semakin larut dan disertai berkat dari imam itu mereka beristirahat di Wisma Salam, Muntilan, tempat mereka mengikuti Weekend OMK KAS untuk mengkader minat dan komitmen OMK dalam merajut hubungan antaragama dan kepercayaan.

Menurut tulisan yang dibagikan Pastor Budi ke milis wartawan Katolik, weekend itu diselenggarakan oleh Kom HAK KAS dengan tema “Mengurai Spiritualitas Dialog Ekumene dan Interreligius” itu menggunakan bukunya yang terbaru.

Buku itu diterbitkan oleh Dewan Karya Pastoral KAS dalam kerja sama dengan penerbit Kanisius, Yogyakarta. Buku berjudul “Merajut Persaudaraan Sejati Lintas Iman” itu diterbitkan dalam rangka fokus pastoral KAS beriman cerdas, tangguh dan mendalam dalam corak ekumenis dan anrarumat beriman.

Dua sasaran pokok yang mau dicapai dengan fokus pastoral itu, kata Pastor Budi, adalah terbukanya pandangan umat mengenai pluralitas iman, dan terwujudnya persaudaraan sejati lintas iman. “Kita hidup tidak sendirian tetapi bersama dengan yang lain. Maka hidup harus ditandai keterbukaan dan sikap inklusif, bukan ketertutupan dan eksklusif, apalagi berprasangka buruk terhadap yang lain,” kata imam itu.

Untuk itu, kata Pastor Budi, siapa pun, termasuk OMK harus mengembangkan spiritualitas dialog. “Dua aras spiritualitas dialog adalah dialog ekumenis antarumat Kristiani dan dialog antarumat beriman.”

Di hari Minggu pagi 13 Juli 2014, peserta diajak merefleksikan ajaran Konsili Vatikan II terkait dengan dialog antarumat beriman. “Prinsip persaudaraan sejati adalah memuliakan manusia sebagai ciptaan Allah. Maka, tidak ada ruang bagi diskriminasi. Kita tidak menyerukan nama Allah sebagai Bapa kita, bila terhadap sesama kita tidak mempunyai rasa hormat dan kasih,” jelas Pastor Budi.

Dengan mengutip Nostra Aetate, salah satu dokumen Konsili Vatikan II, imam itu menambahkan, “Gereja tidak menolak apa pun yang baik, benar dan suci yang terdapat dalam agama-agama lain. Gereja juga mendorong kita untuk bekerjasama dan melakukan dialog dengan semua orang.”

KH Abdul Muhahaimin, pengasuh Ponpes “Nurul Ummahat” Kotagede juga menjelaskan bahwa merajut dialog harus dilakukan semua orang dalam tingkat apa pun. Namun untuk mau membuka diri kepada pihak lain “butuh pertobatan diri,” katanya.

“Proses ini membawa kesadaran baru bahwa pihak lain bukan musuh tetapi rekan seperjalanan,” katanya seraya menegaskan bahwa dalam konteks NKRI dialog diperlukan untuk menjaga harmoni dengan segala risiko yang harus ditanggung.*(pcp, berdasarkan berita yang disebarkan oleh Pastor Aloys Budi

1924348_702054299831485_8274777560826798816_n

1 komentar

  1. Romo Aloys, banyak salam dari saya pembaca dan pengagum buku2 kecil tulisan Romo.

    Ternyata Romo juga tidak berhenti pada gerak pena, tetapi juga gerak tangan dan kaki, seperti mengajak OMK Kevikepan Semarang untuk masuk dalam konteks dialog antarumat beragama.

    Bukan tidak ada, tetapi saya rindu seandainnya semakin banyak seperti Romo di keuskupan saya.

    Mohon berkat dari Romo

Tinggalkan Pesan