AP2333585_Articolo

Pertemuan-pertemuan Paus Fransiskus dengan enam korban pelecehan seksual dalam minggu ini merupakan langkah “penting dan sangat positif” di jalan menuju penyembuhan dan perlindungan anak yang lebih baik dalam Gereja Katolik.

Pernyataan itu dikemukakan seorang perempuan korban pelecehan seksual asal Irlandia yang kini bertugas di Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak Kecil, seperti dilaporkan oleh Radio Vatikan tanggal 09 Juli 2014. Komisi Vatikan itu baru dibentuk bulan Maret 2014 untuk menasihati Paus tentang cara melindungi anak-anak dari para imam yang paedophilia dan tentang cara menasihati para korban.

Sebagai seorang gadis berusia 13 tahun, Marie Collins dilecehkan tahun 1960-an oleh seorang pastor rumah sakit, yang kemudian dilindungi oleh uskup agungnya dan terus melecehkan dan memerkosa anak-anak lain selama 30 tahun.

Minggu ini Marie Collins berada di Vatikan untuk menemani salah satu dari enam korban pelecehan dari Irlandia, Jerman dan Inggris untuk merayakan Misa dan serangkaian perjumpaan pribadi dengan Paus Fransiskus di kediamannya Santa Marta.

Philippa Hitchen dari Radio Vatikan duduk bersama Marie mendengar kesan-kesannya setelah para korban bertemu dengan Paus Fransiskus di hari Senin 7 Juli 2014.

Kepada Philippa Hitchen, Marie menegaskan indahnya melihat Paus mendengarkan dengan penuh perhatian dan melihat para korban merasa didengarkan dan memiliki kesempatan untuk mengatakan segala sesuatu yang ingin mereka katakan ….. “yang sangat mengesankan saya dalam pertemuan itu adalah kenyataan bahwa Paus memberi begitu banyak waktu, tanpa terburu-buru.”

Marie menambahkan, “Saya bicara dengan sebagian besar korban saat mereka keluar dari pertemuan mereka dan umumnya mereka merasa senang karena telah mengatakan apa yang ingin mereka katakan dan telah didengarkan ….”

Seberapa pun seseorang memahami tentang pelecehan seksual atau membaca hal itu dalam teori, namun bagi Marie, “duduk bersebelahan dengan para korban pelecehan yang menceritakan akibat pelecehan itu terhadap kehidupan mereka dan terhadap keluarga mereka, betapa menghancurkan semua itu, pastilah emosional dan saya tentu menghormati Paus yang bereaksi terhadap apa yang dikatakan kepadanya dan saya kira pagi itu menjadi sangat emosional bagi dirinya maupun bagi para korban …”

Sebagai seseorang korban, Marie secara pribadi mengatakan bahwa dia selalu mengkampanyekan  akuntabilitas, “karena boleh saja ada kebijakan-kebijakan perlindungan yang kuat … tetapi jika orang yang seharusnya menerapkan kebijakan-kebijakan itu memutuskan untuk mengabaikannya dan melindungi pelaku pelecehan dan tidak ada sanksi bagi orang itu, maka tak ada gunanya …..”

Dari para korban, Marie tahu atau mendengar apa yang Paus katakan, dan bagi dia semua itu sangat penting dan sangat positif. “Kami tahu ada pelaku pelecehan dalam setiap jalan kehidupan, tetapi yang berbeda dengan Gereja dan yang membuat krisis ini begitu memalukan adalah bahwa para pelaku pelecehan itu dilindungi …….”

Menurut perasaan Marie, “Paus sedang memberi contoh kepada para uskup dan uskup agung lain di seluruh dunia apa yang mereka harus lakukan ….. bukan hanya (mendengar) sekelompok korban, tapi duduk dan mendengarkan kisah-kisah pribadi, satu per satu ….. itulah situasi win-win, untuk para korban cara itu bisa sangat menyembuhkan, tetapi juga dari sudut pandang klerus, mereka lebih banyak belajar tentang dampaknya …”(pcp)

 

Tinggalkan Pesan