Popes WC Watch

Menjelang Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil pada hari Minggu malam tanggal 13 Juli 2014, Dewan Kepausan untuk Kebudayaan meluncurkan kampanye “Berhenti Sebentar untuk Perdamaian,” demikian laporan Zenit.org dan Radio Vatikan dari Kota Vatikan.

Pendukung kampanye itu meminta dilaksanakan hening cipta sebentar saat pertandingan hari Minggu 13 Juli 2014 untuk mengenang mereka yang dilanda perang dan kerusuhan di seluruh dunia. “Beberapa pendukung menginginkan adanya hening cipta di saat pertandingan. Semua menginginkan berhentinya pertumpahan darah di banyak daerah di dunia yang mengalami konflik dramatis di hari-hari ini,” kata Dewan Kepausan itu dalam pernyataan yang dikeluarkan 11 Juli 2014.

Presiden dewan itu, Kardinal Gianfranco Ravasi mempromosikan prakarsa itu di Twitter (@ CardRavasi), dengan menulis: “’Suatu suara yang kecil lembut’ (1 Raja-raja 19:12) #PAUSEforPeace #WorldCup2014.”

Mgr Melchor Sanchez de Toca y Alameda, wakil dari Dewan Kepausan untuk Kebudayaan dan ketua seksi Kebudayaan dan Olahraga mengatakan, “Olah raga lahir di sekitar pesta-pesta keagamaan. Kegiatan-kegiatan olah raga adalah momen-momen perdamaian, saat peperangan berhenti, seperti untuk Olympic Truce. Mengapa tidak untuk Piala Dunia, mengapa tidak berhenti sebentar, mengheningkan cipta, gencatan senjata untuk perdamaian?”

Olympic Truce adalah tradisi yang berasal dari Yunani Kuno tahun 778 SM di abad ke-8 SM. Truce (Yunani Kuno: ékécheiria, berarti “meletakkan senjata”) diumumkan sebelum dan selama Pertandingan Olimpiade untuk memastikan negara tuan rumah tidak diserang dan para atlet dan penonton bisa bepergian dengan aman menyaksikan pertandingan-pertandingan dan kembali dengan damai ke negara masing-masing. Selama periode Truce (berlangsung hingga tiga bulan), peperangan dihentikan, tentara dilarang mengancam pertandingan-pertandingan, sengketa hukum dihentikan, dan hukuman mati dilarang.

Prakarsa ini sedang dipromosikan di media sosial dengan hashtag #PAUSEforPeace.

Pertandingan sepak bola hari Minggu antara Argentina dan Jerman menarik banyak perhatian di seluruh dunia, terutama di dalam Gereja, karena dua tim yang masuk final berasal dari negara-negara kelahiran Paus Fransiskus dan Paus Emeritus Banediktus XVI.

Sungguh pun demikian, ada yang kuatir bahwa turnamen itu mengurangi perhatian orang akan konflik serius di dunia, terutama di Timur Tengah. Baru-baru ini, Patriark Louis Raphael I Sako dari Baghdad mengecam negara-negara Barat yang, katanya, “merasa sepak bola” dalam Piala Dunia saat ini “lebih menarik daripada situasi di sini atau di Suriah.”(pcp

Tinggalkan Pesan