AP Alessandra Tarantino

Untuk pertama kalinya Paus Fransiskus bertemu dengan para korban pelecehan seksual yang dilakukan para imam dan kepada mereka Paus meminta maaf atas dosa kelalaian Gereja dalam skandal pelecehan seksual serta mencela pelecehan seksual yang dilakukan klerus sebagai “tindakan menjijikkan.”

Paus mengungkapkan permohonan maaf itu dalam Misa untuk perdamaian dan keadilan di Kapel Santa Marta, Vatikan, tanggal 7 Juli 2014 pagi. Misa itu dihadiri beberapa korban pelecehan seksual yang dilakukan para imam bersama keluarga dan pendamping mereka serta para anggota  Dewan Kepausan untuk Perlindungan Anak Kecil.

“Di depan Allah dan umat-Nya, saya mengungkapkan kesedihan saya atas dosa-dosa dan kejahatan berat berupa pelecehan seksual yang dilakukan para imam terhadap kalian. Dan dengan rendah hati saya meminta maaf,” kata Paus.

Selanjutnya Paus mengatakan, “Saya juga memohon maaf untuk dosa-dosa kelalaian pemimpin Gereja yang tidak cukup menanggapi laporan-laporan pelecehan yang disampaikan oleh anggota keluarga, serta oleh para korban pelecehan itu sendiri. Ini semakin memperbesar penderitaan mereka yang dilecehkan.”

Paus Fransiskus menekankan bahwa pelecehan itu melebihi dari tindakan keji. “Seperti kultus asusila, karena anak-anak lelaki dan perempuan ini telah dipercayakan kepada karisma imamat guna dibawa kepada Allah. Dan orang-orang itu mengorbankan mereka demi nafsu mereka sendiri.”

Hari ini, kata Paus, “jantung Gereja memandang mata Yesus dalam diri anak-anak lelaki dan perempuan ini dan ingin menangis; Gereja mau menangisi tindakan-tindakan pelecehan menjijikkan yang telah meninggalkan bekas luka yang abadi.”

Sebanyak enam orang dewasa, tiga pria dan tiga wanita, dari Jerman, Irlandia, dan Inggris hadir dalam Misa itu. Setiap korban didampingi seorang anggota keluarga atau pendamping lainnya. Mereka diundang oleh Kardinal O’Malley dari beberapa negara untuk bertemu Paus.

Dalam Misa itu, Paus membawakan homili dalam bahasa Spanyol dan setiap peserta mengikutinya lewat teks terjemahan dalam bahasa mereka sendiri. Setelah Misa, Paus menyalami mereka, dan setelah sarapan, Paus Fransiskus menerima mereka satu persatu dalam sebuah ruangan untuk pembicaraan pribadi. Dalam pertemuan dari pukul 9.00 hingga pukul 12:20 itu, mereka dibantu oleh interpreter.

Setelah pembicaraan pribadi, mereka mengungkapkan perasaan dan kepuasan atas perhatian dan kemauan besar Paus untuk mendengarkan mereka. Paus menunjukkan bahwa dengan mendengarkan mereka bisa dibantu untuk mengembalikan kepercayaan, menyembuhkan luka, dan membuka kemungkinan rekonsiliasi dengan Allah dan dengan Gereja.

Paus memuji keberanian mereka untuk menceritakan apa yang dialaminya dan mengatakannya sebagai “pelayanan cinta, karena bagi kami itu menjelaskan kegelapan mengerikan dalam kehidupan Gereja.” Paus menegaskan bahwa tidak ada tempat dalam pelayanan Gereja bagi pelaku pelanggaran itu, dan “saya berkomitmen tidak mentolerir kesalahan yang dilakukan kepada anak kecil oleh siapa pun, apakah imam atau bukan.”

Semua uskup harus melakukan pelayanan pastoral dengan sangat hati-hati demi meningkatkan perlindungan terhadap anak kecil, dan mereka bertanggung jawab, kata Paus yang bertekad “mewaspadai pembinaan imamat.” Untuk maksud itu, Paus meminta bantuan Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak Kecil. “Pastikan bahwa kita mengembangkan kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur yang lebih baik dalam Gereja universal untuk perlindungan anak kecil dan untuk pembinaan personil Gereja dalam menerapkan kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur itu.”

Paus Fransiskus meminta para korban untuk mendoakan dia, “agar mata hati saya akan selalu melihat dengan jelas jalan cinta yang penuh belas kasih, dan agar Allah memberikan saya keberanian untuk bertahan di jalan ini demi kebaikan semua anak-anak dan kaum muda.”(pcp)

 

2 KOMENTAR

  1. Great thanks and honor to our Pope Fanciscus to express sincere heartily apology that should sound genuine since then and ever with no fail, reveal, admit and punishment by Church Teaching to any people in Catholic Church and no differ.
    I love my church and I am no perfect a long my life but I dare to say, admit my sin and any punishment imposed as my belief the priest as represent of God in the world, as in God I trust. Amen.

  2. Great thanks and honor to our Pope Fanciscus to express sincere heartily apology that should sound genuine since then and ever with no fail. To reveal, admit and punishment by Church Teaching to any people in Catholic Church and no differ.
    I love my church and I am no perfect a long my life but I dare to say, admit my sin and any punishment imposed as my belief the priest as represent of God in the world, as in God I trust. Amen.

Tinggalkan Pesan