Picture 1346 (1)

“Dengan sepenuh hati, saya menganjurkan kepada para gembala Gereja dan umat Allah agar membiasakan diri mengadakan Adorasi Ekaristi, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam komunitas. Manfaat besar akan mengalir dari katekese serasi yang menjelaskan pentingnya ibadat ini, yang memampukan kaum beriman mengalami perayaan liturgis dengan lebih penuh dan berbuah.”

Ajakan Paus Emeritus Benediktus XVI supaya umat Katolik beradorasi yang dikutip dari Sacramentum Caritatis nomor 67 itu terdengar di Gondangwinangun, Klaten, beberapa saat sebelum peresmian Kapel Adorasi Ekaristi Abadi Paroki Santo Yusuf Pekerja di daerah itu.

“Di mana mungkin, khususnya di daerah-daerah yang padat penduduknya, kiranya baik untuk mengkhususkan Gereja atau rumah doa tertentu untuk adorasi abadi,”  lanjut ajakan itu seperti dibacakan oleh Pastor Aloysius Budi Purnomo Pr.

Menurut Pastor Budi, liturgi adalah perayaan misteri Kristus, khususnya wafat dan kebangkitan-Nya. “Maka waktu adorasi, kita juga mengenang wafat dan kebangkitan Kristus. Yesus, yang wafat dan bangkit dan menyertai kita setiap saat, kita rasakan melalui Sakramen Mahakudus,” kata imam itu.

Imam itu juga menegaskan bahwa kurang tepat jika mengatakan Adorasi Ekaristi Abadi hanya menghabiskan waktu. “Justru Adorasi Ekaristi Abadi menjadi kesempatan untuk sujud dan bersembah syukur, sesal silih, sehingga kita semakin berserah kepada Yesus dan akhirnya bisa selamat dunia dan akhirat.”

Dalam adorasi, lanjut Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK KAS), seorang adorator bisa menyesali dosanya, “menyesali kerapuhan dan keringkihan kita, mohon ampun, maka ada sesal silih.”

Silih, jelas imam itu, bukan hanya untuk dosa-dosa sendiri tapi juga untuk dosa-dosa orang lain, untuk keluarga, tetangga bahkan musuh.

Pastor Budi juga mengutip tulisan Santo Yohanes Paulus II bahwa Ekaristi adalah jantung Gereja, dari padanyalah Gereja hidup. Dari Roti Hidup inilah Gereja beroleh makanannya (EE 7). “Adorasi Ekaristi Abadi merupakan perpanjangan dari Sakramen Ekaristi yang adalah jantung Gereja Katolik,” kata imam itu.

Tanggal 2 Desember 1981, Santo Yohanes Paulus II mengawali Gerakan Adorasi Ekaristi Abadi di Basilika Santo Petrus Vatikan. Saat itu, Santo Paus itu berharap agar di setiap paroki di seluruh dunia diadakan Gerakan Adorasi Ekaristi Abadi.

Kepala Paroki Gondangwinangun Pastor Ignatius Sukawalyana Pr mengatakan bahwa proses menyiapkan Adorasi Ekaristi Abadi di parokinya sudah cukup lama. Imam itu menyiapkan 30 orang yang bergerak di lingkungan-lingkungan untuk melakukan sosialisasi Adorasi Ekaristi Abadi. Dari usaha tersebut, 243 orang menyatakan siap menjadi adorator.

Dengan adanya kapel adorasi itu, Pastor Suka berharap orang semakin bisa berdoa secara pribadi dalam pertemuan dengan Tuhan Yesus sendiri. Dia juga berharap agar umat semakin cerdas dalam beriman dengan menimba kekuatannya melalui adorasi.

Bangunan yang kini menjadi kapel adorasi itu adalah bekas garasi. “Bangunannya menggunakan bangunan yang ada dulu. Tidak membangun baru tetapi memfungsikan yang ada,” kata Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang itu.

Di kapel itu, Pastor Suka menyediakan buku-buku bacaan rohani, Kitab Suci, dan sharing mengenai adorasi. Dengan demikian, menurut imam itu, sambil beradorasi dan berdoa, para adorator membaca buku-buku itu, “sambil mencerdaskan imannya dan mengalami kehadiran Tuhan.”***

 

Tinggalkan Pesan