Picture 1376

Kita hidup di satu planet. Ada planet lain, tapi belum terbukti bisa untuk tinggal di sana, sehingga sebagai satu warga, satu komunitas yang sama-sama hidup di bumi, siapa lagi yang akan membantu supaya kehidupan  bisa berlangsung terus?

Suster Amelia Hendani SGM bertanya kepada 70 peserta rekoleksi ekologi di aula Gereja Santa Teresia Bongsari, 22 Juni 2014, dan mengajak mereka berkomitmen mewujudkan kehidupan yang mampu menghadirkan lingkungan hidup berkelanjutan, memuaskan secara spiritual dan berkeadilan sosial.

Untuk mewujudkan hal itu, Suster Amie yang tinggal di Greensboro, Vermont, Amerika Serikat, melihat tantangan yang sangat besar, “namun kita harus mewujudkannya.”

Menurut suster itu, isu lingkungan hidup, keadilan sosial, dan kepuasan spiritual terlihat berada dalam tiga area, namun tak bisa dipisahkan. “Kalau kita telaah sama-sama, ini merupakan satu isu. Tak bisa menciptakan lingkungan hidup berkelanjutan tanpa memperhatikan ketidakadilan sosial. Tak bisa mengalami kepuasan spiritual kalau masih mengalami ketidakadilan sosial dan melakukan cara hidup yang tidak berkelanjutan.”

Beberapa video ditampilkan Suster Amie untuk menggugah kesadaran untuk membangun komitmen mencintai bumi.  Peserta lalu diminta membaca dengan hati data dan informasi melalui tayangan video sehingga peserta merasakan keprihatinan dan tergerak melakukan upaya tertentu.

Dalam rekoleksi, peserta diajak melihat data mutakhir terkait lingkungan, keadilan sosial dan kepuasan spiritual, baik melalui analisa para ahli maupun temuan sendiri yang berdasarkan pengalaman dan mencari permasalahan terkait kerusakan bumi yang dialami sehari-hari.

Setelah mengetahui kondisi kerusakan bumi dan rusaknya keadilan sosial, peserta diajak melihat aktor-aktor yang berkontribusi pada kerusakan. Selain karena keserakahan pihak-pihak tertentu, terlihat kemungkinan bahwa peserta berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial lewat perilaku sehari-hari.

Banyak orang, kata Suster Amie, merasa menjadi korban kerusakan lingkungan, namun kalau ditelaah lebih jauh, sebenarnya mereka pun berkontribusi dalam kerusakan lingkungan melalui asumsi-asumsi yang belum terbukti tapi  terlanjur dipercaya dan dipakai seperti kaca mata. “Kita ikut ambil bagian merusak alam dengan cara yang mungkin tidak kita sadari.”

Setelah tahu permasalahan dan faktor penyebabnya, peserta diajak melihat kemungkinan untuk menyelamatkan lingkungan, mewujudkan keadilan, dan mewujudkan kepuasan spiritual. Peserta melihat tayangan yang menceritakan upaya besar maupun kecil dalam menyelamatkan alam ciptaan. “Kita lihat aktivitas di seluruh dunia, sehingga kita merasa tidak sendiri mengalami situasi sulit ini,” katanya.

Dalam salah satu video, Suster Amie menampilkan kearifan suku-suku asli yang masih menghormati alam yang diharapkan dapat menjadi inspirasi peserta. “Yang ideal adalah bagaimana memadukan kearifan suku-suku asli dengan kemajuan teknologi sehingga keduanya seimbang. Akhirnya masa depan menjadi lebih baik,” kata suster yang pernah belajar psikologi itu.

Di akhir rekoleksi, peserta diajak membangun komitmen sederhana, namun terus dihidupi hari demi hari.

Suster yang lahir di Jakarta itu meyakinkan peserta bahwa seluruh ciptaan saling berhubungan. “Kalau pohon ditebang semakin panas dan kita terkena imbasnya karena semua tidak terlepas satu sama lain,” katanya.

Ada tiga kekuatan besar mempengaruhi alam dan keadilan sosial, yakni pemerintah, masyarakat sipil dan pelaku bisnis. Peserta diharapkan memilih pemimpin yang mempunyai kepedulian pada lingkungan dan keadilan sosial. Gerakan masyarakat sipil bisa dilakukan seperti yang diupayakan Suster Yohanita PI dalam menyelamatkan lingkungan di Kudus dan Pati. Penyelamatan lingkungan oleh gerakan masyarakat sipil, menurutnya, membutuhkan upaya kreatif. Suster Amie berharap peserta membangun sikap peduli pada alam ciptaan.

Kepala Paroki Santa Teresia Bongsari Pastor Romualdus Maryono SJ selalu menanam pohon di seminari dan paroki yang ditinggalinya, supaya lingkungan menjadi hijau. “Tetapi saya berharap semua jemaat memperhatikan dan merubah karakter, antara lain, terhadap sampah, yang plastik dengan anorganik dipisahkan. Kalau memiliki semangat ekologis, kita bukan hanya menanam pohon tetapi memiliki karakter yang berubah,” kata imam itu.

Pastor yang membuat tempat pengomposan sampah di parokinya berharap, semua itu tidak hanya menjadi pengalaman manusiawi, tetapi menjadi pengalaman iman masing-masing.(Lukas Awi Tristanto)

Tinggalkan Pesan