DSCN6232

Sudah 90 tahun lamanya Wanita Katolik RI (WKRI) berdiri dan dalam cahaya iman seorang kepala paroki berharap agar para anggotanya berubah untuk menjadi lebih baik dalam persatuan dan kesatuan di dalam organisasi tanpa melupakan bahwa di samping kesibukan organisasi ada satu hal yang sangat penting yakni keluarga.

“Janganlah kita melupakan satu hal yang sangat penting dalam kesibukan organisasi. Organisasi bukanlah yang inti dan paling utama, karena yang inti dan paling utama adalah keluarga,” kata Kepala Paroki Kristus Raja Kotamobagu, Sulawesi Utara, Pastor Fidelis Donald Liuw Pr.

Bersama seluruh cabang dan ranting WKRI se-Indonesia, WKRI Cabang Paroki Kristus Raja Kotamobagu merayakan HUT WKRI ke 90 tanggal 29 Juni 2014. Tema HUT ke-90 WKRI Kotamobagu adalah “Dengan Cahaya Iman Kita Berani Berubah.”

Pastor Liuw mengajak seluruh anggota WKRI untuk pertama-tama memberikan yang terbaik kepada keluarga baru kepada organisasi. “Jika tidak ada kebersamaan dalam keluarga, bagaimana kita bisa menjalin hubungan antara sesama dalam organisasi?” tanya imam itu.

Ketua WKRI Kotamobagu, Yanti Sugiyanti, juga menegaskan bahwa anggota WKRI harus berani merubah sikap, perilaku dan tingkah laku untuk menjadi lebih baik, “menjadi cahaya bagi orang lain dengan penuh kerelaan diri.”

Organisasi WKRI, jelasnya, harus lebih melihat ke depan, berwawasan luas, tidak hanya di lingkup organisasi tapi lebih keluar mengikuti perkembangan jaman, “dan dengan kebersamaan lebih aktif bekerjasama dari pengurus cabang hingga ke ranting, bahkan dengan masyarakat luas.”

Kebersamaan dirasakan oleh para anggota WKRI Cabang dan Ranting di Kotamobagu dalam perayaan HUT WKRI ke-90 dengan berbagai kegiatannya.

Linda Veronica Lumangkun dari Ranting Santa Angela mengaku bahwa kegiatan yang dilaksanakan WKRI dalam rangka hari ulang tahun itu membuat dia makin bergerak aktif di cabang maupun ranting. “Dengan kebersamaan kita saling membantu memperoleh kemenangan dalam berbagai lomba. Namun, menang maupun kalah bukan yang utama. Yang utama adalah persatuan dan kesatuan di dalam WKRI.”

Meilany Tiolung dari Ranting Santa Elisabeth juga merasakan kebersamaan itu. Bahkan demi kebersamaan dalam organisasi WKRI Ranting, katanya, “Semua mengorbankan waktu dan pekerjaan untuk mengurus anak dan keluarga. Tiap malam selalu berlatih untuk sebuah hasil yang memuaskan.”

HUT WKRI ke-90 tahun 2014 dibuka tanggal 26 Juni dengan donor darah bekerja sama dengan PMI Kotamobagu. Sehari kemudian, tanggal 27 Juni, seluruh umat khususnya anggota WKRI melakukan Jalan Sehat serta senam Zumba.

Dengan tema “Memperkokoh Kesatuan Wanita Katolik RI dalam Meningkatkan Karya Pelayanan,” HUT WKRI ke-90 Cabang Hati Tersuci Maria Katedral Manado juga dilaksanakan dengan berbagai perayaan antara lain pemberian beasiswa kepada anak-anak kurang mampu, seminar keluarga, lomba taman antarranting, serta lomba menu bukan beras dan terigu.

WKRI dibentuk oleh ibu RA Soejadi Sisrodiningrat Darmo Sapoetro tanggal 26 Juni 1924 saat dia masih berusia 17 tahun dengan tujuan untuk memberi keterampilan bagi para wanita yang tidak dapat membaca dan menulis. Dia sangat prihatin akan nasib para wanita. Waktu itu wanita tidak perbolehkan belajar dan menulis. Berkat perjuangan RA Soejadi maka wanita di Jogjakarta mendapatkan keterampilan membaca dan menulis, dan akhirnya tidak ada beda tingkat pendidikan antara wanita dan pria. (Michael Pati)

DSCN6233

 

Tinggalkan Pesan