100_1542

Suksesi dalam Gereja Katolik sangat normal dan terjadi sejak Gereja berdiri, saat para Rasul meneruskan tugas pewartaan dan pembangunan jemaat sampai Tuhan datang kembali, kata Pastor Johanes Robini Marianto OP saat berbicara dengan PEN@ Indonesia untuk menanggapi pengangkatan Uskup Sintang Mgr Agustinus Agus Pr sebagai Uskup Agung Pontianak.

Pastor Robini, Doktor Teologi Dogmatik dengan konsentrasi studi Eklesiologi untuk tesis S2 dan S3, menjelaskan, suksesi berarti misi Tuhan Yesus harus berlanjut sampai akhir jaman dan tugas pewartaan harus dijalankan sehingga semua orang mengenal nama-Nya. “Maka tak ada yang harus menghebohkan seperti Pemilu 2014,” kata Pastor Robini yang mengakui pengangkatan itu mungkin unik dan tidak biasa bagi komunitas keuskupan.

Menurut Hukum Gereja, jelas Pastor Robini, Paus sebagai pemimpin tertinggi mempunyai hak prerogatif untuk memilih siapa yang dikehendakinya sebagai pimpinan Gereja lokal setelah mendengar masukan para uskup, konferensi waligereja, Duta Vatikan, superior kongregasi atau ordo, bahkan awam.

Tapi pertimbangan-pertimbangan itu tidak mengikat. “Paus berhak memutuskan lain dari masukan siapa saja. Tentu Paus tidak semena-mena. Imam atau uskup yang dipilih tidak bisa menolak, kecuali alasan sangat berat. Sebaliknya, berambisi menjadi uskup tidak bisa. Semua tergantung keputusan Paus.”

Pastor Robini menjelaskan, uskup atau “episkopoi” (bahasa Yunani) berarti penilik atau presider atau yang memimpin. Uskup memimpin gereja lokal. Santo Ignatius Antiokhia mengatakan, “Di mana ada uskup di situ ada Gereja.” Berarti, keabsahan komunitas gerejani harus ditandai adanya pimpinan sah yang merupakan bagian dari pengganti para Rasul tanpa terputus. “Itu juga argumen Santo Ireneus Lyon ketika melawan bidaah Gnostik. Bidaah tak punya mata rantai suksesi yang bisa ditelusuri ke asalinya yaitu para Rasul sehingga tidak bisa mengklaim mereka benar.”

Tugas utama uskup bukan hanya manajer tetapi presider yang merayakan “altar Tuhan” atau Ekaristi. Maka skisma atau memisahkan diri dari Gereja, menurut Thomas Aquinas, artinya mendirikan meja Ekaristi lain selain yang sah di bawah kepemimpinan uskup. Vatikan II memperluas fungsinya sebagai pemimpin, pewarta Sabda dan pengudusan lewat sakramen-sakramen. Teologi Imamat mengatakan, kepenuhan Sakramen Imamat ada pada uskup dan para imam mengambil bagian dari imamat uskup. Maka, yang sah menabiskan imam hanyalah uskup.

Keuskupan, jelasnya, adalah Gereja lokal yaitu umat yang berkumpul di bawah kepemimpinan uskup yang sah di sekitar meja Ekaristi dan Sabda. “Uskup sah artinya dipilih oleh Paus atau minimal disetujuinya. Dalam kasus Gereja bawah tanah di Cina persetujuan Paus kadangkala didapat setelah beberapa tahun tahbisan. Tetapi intinya sama, sah berarti mendapat persetujuan Paus. Menahbiskan uskup tanpa ijin Paus terkena ekskomunikasi otomatis, seperti Uskup Agung Lefevbre.”

Gereja Katolik percaya, lanjutnya, Yesus mendirikan Gereja dengan mengumpulkan dan memanggil keduabelas Rasul yang bukan berdiri sendiri tetapi di bawah kepemimpinan Petrus. Mereka adalah dewan. Maka para uskup sebagai pengganti para Rasul selalu dan tidak pernah tanpa Paus sebagai ketua dewan. “Paus sebagai ketua dewan para uskup menggembalakan Gereja di dunia ini. Artinya, dengan tahbisan uskup, dia juga ikut langsung atau tidak langsung dalam penggembalaan universal.”

Paus, lanjut Pastor Robini, adalah pimpinan tertinggi dan langsung, maka keputusannya mengikat semua orang beriman. “Suksesi adalah biasa dan normal. Umat beriman taat pada keputusan Paus. Gereja tidak memiliki demokrasi seperti negara sipil modern, karena Gereja didirikan oleh Tuhan. Kalau terpilih, tidak ada orang bisa menolak tanpa alasan berat, dan kadangkala dalam beban nurani berat. Tidak ada orang bisa merasa berhak, apalagi berambisi, menjadi uskup. Maka menerima uskup terpilih bukan persoalan menerima si uskup pribadi tapi menerima keputusan Paus. Inilah ketaatan dalam Gereja. Tentu bukan ketaatan buta tapi iman yang bermain di sini. Menerima Gereja berarti menerima semua dalam Gereja.”

Menurut Konsili Vatikan II, tugas uskup mengacu pada kepemimpinan, pewartaan dan pelayanan umat dalam pengudusan melalui sakramen-sakramen. Tentu itu dilaksanakan oleh para pembantu uskup yaitu imam dan diakon. Di sinilah uskup harus menjadi bapa dan pemersatu sekaligus mengkoordinir semua imam di wilayah gerejaninya, imam diosesan dan religius.

Imam religius dan diosesan sama-sama dibutuhkan. Imam diosesan adalah bagian tidak terpisahkan dan ditahbiskan untuk keuskupan, imam religius, dengan karisma khas mereka, bisa mewarnai keuskupan sesuai arahan ordo, kongregasi atau serikatnya. “Mereka bisa diminta membantu keuskupan, kalau dibutuhkan. Yang terpenting imam religius mengembangkan karisma khas mereka. Saya pikir itulah kontribusi terbesar imam religius dalam Gereja lokal.”

Semua imam mengabdi satu Gereja. “Perbedaan diosesan dan religius bukanlah pemisahan, semua satu dan sama. Hanya panggilan dan fungsi dalam Gereja berbeda. Sebagai imam Katolik, semua harus membangun Gereja lokal atau karya yang dipercayakan atau diminta uskup. Keuskupan itu milik Gereja, bukan milik imam religius atau diosesan,” jelas imam Dominikan (OP) itu.

OP akan berusia 800 di tahun 2016. Banyak imam OP menjadi uskup, bahkan empat Paus dari OP digelari kudus (Santo dan Beato). “Di provinsi saya (Filipina) tidak ada lagi uskup. Uskup terakhir, Leonardo Legazpi OP, pensiun sebagai Uskup Caceres, Naga, Filipina. Keuskupan Manila berkembang dari OP. Uskup pertamanya adalah Dominikan. Pendiri Universitas Santo Tomas Manila (1611) adalah anggota OP dan uskup keempat Manila. Kini OP tidak terlibat dalam struktur keuskupan, paroki pun hampir tidak punya. Paroki yang ada hanyalah tempat ziarah yang diminta menjadi paroki. Selain itu ada tiga daerah misi terpencil yang masih dipegang.”

Sesuai kebijakan, sudah lama OP tidak terlibat dalam struktur keuskupan. “Karya paroki bukan pilihan OP, bahkan banyak pihak menolak. Master Jenderal Bruno Cadore OP mengingatkan bahwa kami sebagai OP tidak dididik sebagai pastor paroki, maka jangan bercita-cita jadi pastor paroki. Paroki Redemptor Mundi Surabaya yang diserahkan kepada OP mempunyai status khusus yaitu rumah dosen untuk membantu calon imam Keuskupan Surabaya dan Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) serta melayani ekspatriat berbahasa Inggris.  Kami sadar, sebagaimana diingatkan Provinsial dan Master Jenderal, suatu hari paroki itu mungkin dilepaskan demi karya pendidikan yang diminta Uskup Surabaya dan dikembalikan kepada imam diosesan.”

Sebentar lagi, Mgr Agus akan menduduki kursi Uskup Agung Pontianak. Pastor Robini percaya, mantan Ketua Komisi Kerawam KWI itu akan memperhatikan kerasulan awam. “Bukan rahasia lagi awam kita ada yang gubernur, bupati, kepala dinas, militer atau polisi, jaksa, pengusaha, bahkan intelektual. Kerawam bagi mereka sangatlah penting, apalagi bidang sosial kemasyarakatan atau politik. Saya yakin Mgr Agus sangat sadar itu.”

Melihat perkembangan Gereja di Jawa Tengah, yang merupakan karya Pater Van Lith SJ dan imam-imam Yesuit lain, diawali dengan budaya lokal, Pastor Robini mengingatkan bahwa 80% umat Katolik di Kalbar adalah orang Dayak. “Maka inkulturasi kebudayaan Dayak harus dilakukan. Kita perlu TPE khusus Misa Bahasa Dayak. Ini bukan sukuisme melainkan inkulturasi.”

Selain itu, kata imam itu, uskup agung baru harus memperjuangkan saudara-saudari Dayak yang selama puluhan tahun tersingkir, terutama efek pembangunan timpang jaman ORBA, sehingga menjadi bagian dari pemain nasional. “Ini tugas berat.”

Pembinaan generasi muda diharapkan mendapatkan alokasi dana lebih banyak. “Suka atau tidak suka, merekalah Cornelis masa depan, Adrianus masa depan, Paulus Hadi masa depan,” kata Pastor Robini seraya menegaskan bahwa media massa perlu mendapat perhatian untuk wilayah keuskupan agung luas itu.  “Kita perlu media komunikasi dan corong publik untuk suara dan kepentingan Gereja di masyarakat.”(paul c pati)

100_1456

Tinggalkan Pesan