398768_3110048000001_668189798_n

Pastor Max Regus Pr adalah imam diosesan Keuskupan Ruteng yang telah menyelesaikan master sosiologi politik pembangunan di Universitas Indonesia, Jakarta. Mantan Kepala Paroki Kristus Raja, Ruteng, itu sedang studi doktoral di The International Institute of Social Studies, Erasmus University, Belanda.

Mendekati pemilihan presiden dan wakil presiden 2014, penulis dan kolumnis yang lahir di Ruteng, 23 September 1973, dan pernah studi di Seminari Menengah Pius XII Kisol dan Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret itu berbicara dalam wawancara dengan Paul C Pati dari PEN@ Indonesia dan Arue tentang pemimpin yang ideal saat ini untuk Indonesia, bahkan yang sesuai ajaran Gereja.

Bagaimana situasi bangsa Indonesia saat ini?

Saya melihat Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah, antara harapan ke masa depan lebih baik tetapi tetap berada dalam persepsi negatif, akibat perilaku kekuasaan yang korup dan sejarah kelam masa lalu yang belum tuntas dibuka.

Saya lihat dua hal, segi struktur politik dan segi sosial. Indonesia kini kehilangan kultur paling fundamental yang sudah lama ada dalam filosofi keindonesiaan, yakni Pancasila dan UUD 45. Nilai-nilai itu makin menjauh akibat keroposnya struktur kekuasaan di tangan elite.

Dari segi sosial, Indonesia menderita akibat banyaknya ketegangan antargrup, dengan alasan agama, ekonomi dan lain-lain. Ketegangan-ketegangan itu memburuk hingga membentuk pola kekerasan yang terus berulang. Masalah semakin rumit karena negara seolah membiarkan kekerasan itu terjadi.

Bagaimana presiden ideal untuk memimpin Indonesia sekarang?

Publik membutuhkan pemimpin yang mempunyai hubungan langsung dengan kebutuhan rakyat, dengan mimpi rakyat, dengan kondisi konkret rakyat. Presiden ideal adalah pemimpin yang datang dari rakyat sendiri, yang tumbuh di tengah rakyat, yang merasakan penderitaan rakyat.

Saya kira Indonesia masih punya harapan dengan munculnya segelintir tokoh politik pro rakyat yang sekarang hadir dan dicintai rakyat. Menurut saya, ini berkah untuk Indonesia. Rugi Indonesia kalau tidak memanfaatkan berkat politik ini. Pilpres 2014 adalah momentum untuk memilih pemimpin yang mengerti persoalan rakyat karena mereka lahir dari kondisi konkret rakyat sendiri.

Bagaimana sejatinya seorang presiden menurut ajaran Gereja?

Politik mesti menjadi medan profetik, yang selalu berurusan dengan nilai-nilai utama kehidupan. Yang mendapatkan amanah untuk memimpin bangsa harus menjadi pemimpin profetik, memimpin bangsa dan rakyat menuju nilai-nilai utama kehidupan, bukan mengancam nilai-nilai kehidupan. Maka, saya melawan calon-calon presiden yang masih punya utang sejarah, terutama sejarah kejahatan impunitas politik masa lalu.

Apakah Indonesia punya pemimpin yang mementingkan orang banyak?

Konteks sosial politik sekarang, saat banyak penyelewengan kekuasaan dalam banyak bentuk, menghasilkan persepsi negatif yang luar biasa. Tetapi saya percaya dengan keajaiban demokrasi dan politik, selalu ada calon-calon pemimpin yang mementingkan kehidupan orang banyak.

Mereka terlalu sedikit, tetapi mereka ada. Gebrakan mereka berhasil menjaga atau memelihara harapan di hati publik tentang Indonesia yang lebih baik. Itu yang penting, sebab Indonesia mengalami krisis harapan yang akut. Segelintir pemimpin semacam ini akan membantu Indonesia.

Siapakah contoh-contoh pemimpin yang baik yang dimiliki Indonesia?

Saya tidak segan menunjuk tokoh-tokoh politik seperti Jokowi, Ahok, dan beberapa lain sebagai titian bagi Indonesia untuk melihat masa depan lebih baik. Rakyat harus berani menjaga orang-orang baik seperti ini dari sekian banyak gerakan pembusukan karakter dan sejenisnya. Mereka ini berkat politik untuk Indonesia.

Apakah sifat “melayani” cukup untuk pemimpin? 

Melayani adalah keutamaan tertinggi dalam kerja publik dan politik. Jika pemimpin berada di level itu, komunitas politik tidak bakalan mengalami kemerosotan. Sebab melayani adalah tindakan yang di ujungnya tidak menuntut pamrih. Itu kebajikan tertinggi dalam politik dan karya-karya kekuasaan. Bagaimana Indonesia menghasilkan pemimpin yang mau dan rela melayani, itu problematika kontemporer bangsa. Melayani mutlak ada dalam politik. Melayani dengan nilai kerelaan sebagai landasannya.

Apa yang harus dibuat umat Katolik dalam Pilpres 9 Juli?

Politik adalah bagian dari pelayanan Gereja. Umat Katolik adalah bagian dari keindonesiaan. Mesti ada kesadaran untuk mengekspresikan panggilan dan tanggung jawab sebagai orang Katolik Indonesia secara utuh. Umat Katolik atau Gereja perlu melihat ke luar, menyapa dunia dengan cara-cara lebih konkret, aktif dalam kerja-kerja politik nyata, tidak perlu menunggu proses-proses politik formal seperti Pemilu.

Umat Katolik dan hirarki harus mendorong perubahan politik dengan keterlibatan aktif dan demokratis. Gereja harus berani mendorong dan membela calon-calon pemimpin yang nyata bekerja untuk rakyat. Kita tidak perlu takut menyuarakan kegelisahan nurani kristianitas kita terhadap pemimpin yang Indonesia butuhkan. Ada calon-calon pemimpin yang bisa kita dukung untuk memimpin negeri ini dengan baik, juga selaras dengan nilai-nilai kristiani.

Apa harapan dan kegundahan dalam pesta demokrasi ini?

Secara pribadi, meskipun ada banyak kecemasan sosial tentang politik Indonesia yang sarat korupsi dan kejahatan kekuasaan, saya tetap gembira dan percaya bahwa proses politik yang benar yang dimulai sekarang, meskipun tertatih-tatih, suatu saat membawa hasil yang baik. Rasa bosan terhadap perilaku elite yang menjijikkan pada suatu titik akan jadi titik balik dari kecenderungan negatif destruktif dalam praktek-praktek politik saat ini.

Ruang-ruang publik harus menjadi arena munculnya calon pemimpin politik. Jadi, bukan hanya partai politik saja. Lihat beberapa pemimpin politik lokal yang muncul bukan sebagai politikus. Mereka orang baik yang mampu mendidik diri dengan pengabdian berdasarkan kegelisahan mereka tentang Indonesia yang lebih baik.

Jokowi dan Ahok bisa disebut sebagai satu dua contoh dari sekian banyak calon pemimpin yang masih tersembunyi. Ini yang harus Indonesia temukan dan dukung sebagai bagian dari proses pembaharuan. Saya percaya, jika publik mulai terlibat dengan lebih terdidik dalam politik, Indonesia akan mencapai jalur yang menuju masa depan lebih baik.

Apakah Indonesia akan memiliki pemimpin yang baik untuk lima tahun ke depan?

Indonesia, publik, harus yakin bahwa mereka akan memilih orang baik dan tepat ke depan. Indonesia punya calon pemimpin yang baik. Persoalannya, apakah Indonesia mau memilih mereka atau hanya melihat dan terhipnotis secara politis dengan penampilan fisik atau kekuatan modal politik.

Di titik ini, netralitas sebagai warga Gereja atau pemimpin Gereja tidak begitu dibutuhkan. Kita perlu mendorong publik menentukan pemimpin yang benar dan baik, yang sudah terbukti melayani rakyat mulai dari tahap paling bawah, yang sudah teruji melayani rakyat di tingkat paling bawah. Orang seperti itu pasti akan jadi pemimpin yang tepat untuk Indonesia.

Indonesia, publiknya, sesungguhnya hanya butuh pemimpin bersih dan jadi bagian kegelisahan mereka, yang mirip dengan kehidupan mereka, bukan yang hanya bisa pamer kemewahan dan posisi politik tinggi. Sebab, publik bisa mengurus diri sendiri dengan baik jika punya panutan di level politik dan kekuasaan. Saya melihat ada calon-calon pemimpin generasi baru yang bisa jadi panutan. Itu yang harus dipilih, itu yang harus didukung.***

(Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah ARUE Edisi 47 Tahun IV Juni 2014. Majalah nasional itu, seperti PEN@ Indonesia, dijalankan oleh Keluarga Dominikan Indonesia)   

 

Tinggalkan Pesan