Pastor Jost Kokoh

Oleh Pastor Jost Kokoh Prihatanto Pr

“..Ingatlah bahwa rasul itu adalah orang Katolik yang sadar. Mereka insjaf betul bahwa mereka telah menerima kurnia dari Tuhan jang banjak djumlahnja itu tiada hanja untuk menghibur hati mereka belaka, akan tetapi pun djuga untuk membakar djiwanja dengan semangat jang berkobar, dalam menguduskan hati sendiri dan orang lain. ..”  (Mgr Soegijapranata).

Saya bersama segelintir rekan dan teman “CJ – Catholic Jeepers” yang kerap dolan dolin bareng di warung wedangan “HIK – Hidangan Istimewa Kampung” dari Tiga Tjeret di depan Mangkunegaran sampai Pak Gendut di Solo Baru, pernah asyik-masyuk membuat survey amatiran di akhir tahun 2012 bahwa walikota yang paling terkenal di Indonesia adalah Joko Widodo alias “Jokowi” dari Solo. Bupati paling jujur di Indonesia adalah Basuki Tjahaya Purnama alias “Ahok” dari Belitung Timur dan wakil walikota yang paling berhasil di Indonesia adalah FX Hadi Rudyatmoalias “Bung FX” dari Solo.

Solo sendiri yang bersemboyan “Berseri” (“Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah”) dengan motto yang saya temukan secara pribadi, “Spirit Of Loving Otherspada awalnya tidak lebih dari sebuah desa terpencil yang tenang, 12 km di sebelah timur Kartasura, ibukota kerajaan Mataram. Pakoe Boewono II yang menjadi Raja Mataram waktu itu mencari tempat yang lebih pas untuk membangun kembali kerajaannya, dan di tahun 1745 Masehi, kerajaannya dibongkar dan dipindah menuju Kota Solo yang terletak di tepi Kali (Sungai) Bengawan Solo. Adapun pada medio Oktober 2012 yang lalu, kota Bengawan Solo ini dipimpin oleh walikota baru bernama lengkap FX Hadi Rudyatmo. Ia dilantik menggantikan Joko Widodo yang terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bagi Bung FX yang akrab disapa dengan sebutan “Pak Rudy” ini, menjadi  orang nomor satu di kota Solo sejatinya tidak terlalu dia harapkan. Menurut walikota yang dikenal vokal dan kerap “nakal” ikut berdemonstrasi di jalan ini, menjadi walikota adalah sebuah tugas pelayanan dan pewartaan yang harus dipertanggungjawabkan.

Bukan juga sebuah kebetulan ketika saya pernah diminta untuk beberapa kali mengisi session dan pembekalan ekumenis di Loji Gandrung, rumah dinas walikota Solo, sehingga saya bisa berjumpa dan bertegur sapa dengan walikota Solo yang katanya bertampang rambo tapi berhati bimbo ini. Dari perjumpaan dan keakraban insani yang mengalir begitu saja, saya tertarik pada semangat pelayanan FX. Hadi Rudyatmo alias “Bung FX” yang ber-slogan khas: “mendengar, melihat dan berbuat”, dengan segala carut marut kasih dan ruwet renteng kisahnya, yang“iluminata et illuminatrix”,  yang cerah dan mencerahkan karena sejarah hidupnya pasti bukan melulu sebagai narasi masa lalu (historie), tapi lebih sebagai sesuatu yang hidup (geschichte) baginya juga bagi banyak orang lainnya.

Di lain matra, setiap kali melihat kehidupan Bung FX yang adalah splendor veritatis – yang penuh dengan warna-warni pelangi kemanusiaan, saya langsung terkenang sepenggal kalimat alkitabiah dari Bunda Maria, yakni: Ecce Ancilla Domini – Aku ini adalah HAMBA Tuhan (Luk 1:38). Bukankah Yesus sendiri juga mengosongkan diri-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia? (Filipi  2:7). Kata “HAMBA” ini sendiri merupakan sebuah akronim dari lima jalan cinta seorang pemimpin kristiani, yakni: Hangat, Andal, Militan, Bahagia dan Aktual.

Hangat: Bersahabat

Dasar kehangatan adalah sebuah keyakinan bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:7-12). Hangat disini bukan sekedar keramahan kata dan kemurahan tindakan. Bukan pula sekedar kemanisan senyum dan kehangatan pandangan. Bukan pula sekedar gayeng seperti dagelan Extravaganza, lawakan Srimulat, anekdot Tukul, Sule-Parto dengan OVJ-nya, atau Charlie Chaplindan Mr. Bean dengan kekonyolannya. Hangat itu sendiri lebih pada suatu sikap yang tulus dan bersahabat: akrab-dekat, mendukung, dan meneguhkan orang lain. Sikap hangat ini bisa dipetakan menjadi empat tataran sederhana: hangat terhadap Allah, diri sendiri, orang lain dan terhadap lingkungan hidup.

•      Diri sendiri: menerima, merawat, mengolah dan mengembangkan potensi (rohani, jasmani) sebagai warga gereja, warga negara, warga dunia

•      Orang lain: menerima dengan aktif, merawat, menolong, berlaku ramah, bersetiakawan, mengembangkan potensi, memajukan martabat, memperjuangkan HAM.

•      Lingkungan: mengenal, menerima (tidak merusak), melestarikan alam, baik secara personal, sosial, maupun legal (politis)

•      Allah: dekat dan mempercayai, terbuka dan terarah, bersyukur sekaligus memuliakan Allah, mengandalkan pun bertaut pada Allah, rela dibentuk oleh Allah

Buah kehangatan sendiri adalah persaudaraan sejati karena kehangatan itu sendiri bersumber dan berbuah pada kasih, dan bukankah “kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Kor 13: 4-5).

Andal: Cakap

Andal (baik dalam persaudaraan/intern, maupun  pengutusan/extern) merupakan sebuah rentangan bersambung dari availabilitas (kesiapsediaan) sampai dengan akuntabilitas (pertanggungjawaban). Setiap pemimpin diharapkan memiliki kecakapan, serta mampu mengelola diri dengan segenap kemampuan dan kelemahan diri, peka dan tanggap jaman (bukan malahan gagap jaman). Bukankah merupakan sebuah harapan bahwa sebuah masyarakat akan hadir secara lebih nyata kalau para pemimpinnya juga mau memperbaharui diri terus menerus (in permanent genesis). Di sinilah menjadi jelas bahwa setiap pemimpin diharapkan menjadi hamba setia, yang berkomitmen dan andal mengembangkan semua talenta. Spiritualitas yang bisa dihayati adalah: dialektis. Di satu pihak, berakar dalam hidup iman, sekaligus pada saat yang sama, dituntut dalam pelayanan yang bisa membaca tanda-tanda jaman dan bahasa masyarakat. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25: 21).

Militan: Bersemangat

Seorang imam mestinya sehati sejiwa (cor unum et anima una) dengan gerak keuskupan dan gerejanya. Mengacu pada pesan Kardinal Darmoyuwono, seorang imam (dalam hal ini: imam diosesan) adalah imamnya uskup, uskup yang tidak punya imam ibarat macan tanpa gigi. Maka, setiap imam diharapkan: semakin berakar dalam Kristus, sang misionaris agung; semakin bertumbuh sekaligus berdayatahan dalam kesetiaan yang kreatif kepada Uskup dan pembesarnya (creative fidelity); semakin berbuah dalam karya pelayanan yang lebih bermutu dan siap sedia untuk diutus. Di sinilah, bukankah menjadi tepat kata Yesus, “setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah?” (Lk 9:62).

Bahagia: Bersyukur setiap saat

Pengalaman bersyukur atas rahmat dan kesadaran untuk mau berbagi pengalaman syukur inilah dimensi keempat dari spiritualitas “HAMBA”. Belajar bersyukur juga dalam penderitaan dan kerapuhan, karena Tuhan sebenarnya dapat membuat kita bersyukur tanpa sebab, bukan? Jelasnya, setiap pemimpin diajak menghayati hidup dan karyanya dengan bahagia: Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” (Mazmur  126:2)

Aktual: Terlibat di tengah masyarakat

Setiap pemimpin diharapkan terlibat tanpa terlipat dalam pergulatan dan suka duka gereja dan dunianya. Bukankah salah satu tugas seorang pemimpin adalah menjadi jembatan? Tentu saja yang dimaksudkan adalah menjadi jembatan antara Allah dan manusia, dan antarmanusia yang membentuk dunia. Dari peran ini lahir peran kedua yang tidak kalah penting, yakni andil/keterlibatan. Seorang pemimpin perlu melakukan keterlibatan di tengah carut-marut kehidupan yang kerap hanya mengikuti logika kalah-menang, yang melupakan mereka yang kalah bersaing atau yang sama sekali tidak ikut dalam persaingan karena memang tak punya sesuatu. Dengan kata lain: seorang pemimpin perlu memiliki keterlibatan sekaligus keberpihakan, karena Yesus yang memanggilnya pun mempunyai keberpihakan kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Itu tak berarti seorang pemimpin lalu melupakan yang lain. Yang lain pun didekati dan perlu selalu diyakinkan untuk terlibat dalam keberpihakan dasar kristiani ini, karena jelaslah menjadi seorang pemimpin tidak hanya sibuk pada urusan altar (dimensi vertikal) tapi juga ikut terlibat di tengah pasar (dimensi horisontal). Mengacu pada para Bapa Konsili, di sinilah perlu semacam concientization: penyadaran terus-menerus, bahwa para pemimpin diharapkan menjadi mediator concientization, sebuah komunitas yang menunjang dialog antara altar dan pasar, antara Gereja dan dunianya (Gravissimum Educationis 8). Hal ini dipertegas oleh pandangan Karl Rahner, dalam A Faith that Loves the Earth, 77-83, bahwa Gereja mesti terlibat dalam kenyataan harian karena benarlah Gereja tidak hanya ada di awang-awang: “Church change the world by acting on it”. Mengambil istilah Martin Buber, setiap pemimpin harus berani mengambil keputusan untuk ‘berbalik’, mengubah arah (turning-reversal). Para pemimpin jangan malah asyik dengan “armchair spirituality”, ongkang-ongkang kaki, puas dengan merenung-menung saja. Keberpihakan menjadi kata kunci dalam dimensi HAMBA yang kelima ini, sehingga Gereja sungguh menjadi kota di atas gunung, dan cahaya di atas kaki dian bagi dunianya (Mat 5:13).

Akhirnya, baiklah kita mengingat kenang pesan bijak bestari Mgr Soegijapranata yang “iluminata et illuminatrix”,  yang cerah dan mencerahkan tentang esensi dari wakil rakyat, yaitu sebagai “… hoi aristoi, atau para bangsawan muliawan pilihan rakyat yang terpilih bukan karena asal-usulnya, melainkan karena luhurnya budi pekerti, perhatian, kemampuan, kepekaan, kesusilaannya. Karenanya harus tanggap terhadap sifat dan keadaan bangsa serta tanah airnya, paham terhadap pemerintahan, paham dan mendalami panas-perih, kesulitan dan penderitaan bangsa, paham terhadap gejolak nasional dan internasional, meyakini kewajiban dan tanggung jawabnya, penuh kesetiaan terhadap kesanggupan dan sumpahnya”.

Vaya con Dios – mari pergi bersama Tuhan, pastinya untuk “mendengar melihat dan berbuat!”

Salam HIK – Harapan Iman dan Kasih.

(Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah ARUE Edisi 47 Tahun IV Juni 2014. Majalah nasional itu dijalankan oleh Keluarga Dominikan Indonesia)   

 

 

Tinggalkan Pesan