Canterbury-and-wife

Paus Fransiskus bertemu Uskup Agung Anglikan dari Canterbury Justin Welby, seraya mengungkapkan harapan agar pertemuan itu membantu “memperkuat ikatan persahabatan kami lebih lanjut serta komitmen kami untuk rekonsiliasi dan persatuan umat Kristen.”

Audiensi itu berlangsung di hari kedua kunjungan pemimpin Anglikan itu ke Roma, 16 Juni 2014. Dalam kunjungan itu, demikian Radio Vatikan, uskup agung itu juga bertemu dengan komunitas St Egidio, mengadakan Doa Malam di tempat tinggal Keluarga Santo Gregorius di Bukit Caelian, mengunjungi Pusat Pengungsi Joel Nafuma di Roma dan berjumpa dengan Jaringan Freedom Global.

Dalam pertemuan yang dilaporkan oleh Philippa Hitchen dari Radio Vatikan, Paus mengenang rasa malu para murid pertama ketika Yesus bertanya kepada mereka apa yang sedang mereka perdebatkan. Kami juga merasa malu ketika “merenungkan jarak antara panggilan Tuhan dan tanggapan kita yang sangat sedikit.” Tujuan untuk persatuan penuh mungkin tampak jauh, kata Paus, namun itu tetap merupakan tujuan yang harus mengarahkan setiap langkah kita di sepanjang jalan.

Berbicara tentang Komisi Internasional Katolik Anglikan-Roma (ARCIC) dan komisi Katolik Anglikan-Roma untuk Persatuan dan Misi, Paus mengatakan bahwa keduanya adalah forum yang penting untuk mempelajari “dalam semangat konstruktif, tantangan-tantangan  lama dan baru demi kesepakatan ekumenis kita.”

Paus Fransiskus juga berterima kasih kepada Uskup Agung Anglikan untuk kepemimpinannya dalam memerangi perdagangan manusia dan perbudakan modern yang disebut sebagai “kejahatan yang teramat berat terhadap martabat manusia.”

Sehari sebelumnya Uskup Agung Canterbury Justin Welby bertemu dengan staf dan pendukung Global Freedom Network, sebuah prakarsa ekumenis dan lintas agama untuk memberantas perdagangan manusia yang diluncurkan bulan Maret lalu dan bermarkas di Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengetahuan.

Dalam pertemuan itu, para pemimpin Katolik dan Anglikan berjanji membersihkan gereja-gereja mereka dari setiap hal yang terkait dengan ke perbudakan dan perdagangan manusia, yang mereka gambarkan sebagai salah satu dari “persoalan-persoalan yang paling menghancurkan dan melumpuhkan.”(pcp)

Tinggalkan Pesan