20111222SampahJakarta211211

Ada orang yang hidup di perumahan, kalau pagi berangkat kerja dengan mengendarai sepeda motor sambil membawa tas kerja dan tas keresek berisi sampah. “Sampah dibuang di sungai supaya baunya dinikmati orang lain. Dia tidak mau mencium bau sampah sendiri, tapi biar orang lain yang mencium sampah itu. Nah, ini ciri bahwa kita kurang sehat,” kata seorang imam.

Orang-orang zaman sekarang ada yang hidup tidak sehat. Hal itu dibenarkan Pastor Petrus Sunu Hardiyanto SJ dengan kisah di atas. Padahal, kata provinsial Serikat Yesus (SJ) itu dalam homili Ekaristi Novena Roh Kudus hari ketujuh di Gereja Santa Teresia Bongsari Semarang, 5 Juni 2014, “sampah tidak perlu dibuang di tempat lain.”

Persoalannya, bisakah sampah diselesaikan di halaman sendiri. “Bisa Tidak?” Bisa, jawab imam itu. Contohnya, cerita imam itu, atas inisiatif Pastor Maryono telah dibuat tempat pengolahan sampah di pekarangan Gereja Bongsari, “sehingga sampah tidak dibuang keluar tapi menjadi pupuk kompos.”

Tidak hanya pekarangan luas, pekarangan kecil pun bisa dipakai untuk menyelesaikan sampah, lanjut  Pastor Sunu. Imam itu pun berkisah bahwa sudah tiga tahun seorang temannya tidak membuang sampah dapur dari rumahnya karena tiga lubang kecil yang dibuatnya. “Sampah dapur ditaruh di sana, penuh pindah sebelahnya. Nanti satu bulan sudah jadi pupuk. Sederhana, bisa dicoba. Itu caranya menjadi sehat,” tegas imam itu.

Jadi, menurut imam itu, merawat bumi supaya bumi itu sehat bisa dilakukan oleh orang-orang Katolik. Selain merawat alam, umat Katolik bisa belajar pada alam yang selalu memberi, sehingga umat Katolik bisa bernafas karena oksigen yang dihasilkan pepohonan. “Apakah pernah pohon minta ganti kepada kita?” tanya Pastor Sunu, seraya menekankan bahwa alam selalu memberi.

Sesuai ajakan pastoral Keuskupan Agung Semarang agar untuk beriman secara cerdas, tangguh dan misioner, Pastor Sunu berharap umat secara cerdas menyelesaikan sampah sendiri di rumah. Sampah itu bisa menjadi pupuk yang bisa dipakai untuk menanam sayur. “Menanam sayur sendiri itu tidak susah, malahan menurunkan suhu bumi,” kata imam itu.

Menyadari bahwa bumi saat ini rupanya kurang sehat dan tidak sehat, buktinya semakin panas dan semakin banyak orang harus menggunakan pendingin udara (AC) di rumahnya, Pastor Sunu mengajak umat untuk menyehatkan bumi, karena dengan demikian, “kita menyehatkan hidup kita, menyehatkan anak kita, menyehatkan keluarga kita, dan menyehatkan komunitas kita.”

Dengan novena pada Misa yang dirayakan pada hari Lingkungan Hidup itu, Pastor Suni mengajak umat Katolik untuk merawat bumi, berguru pada bumi, serta merawatnya untuk kesehatan kita, dan berguru kepadanya untuk memberi.(Lukas Awi Tristanto)

Pastor Petrus Sunu Hardiyanta SJ

Tinggalkan Pesan