DSC_1515

Melihat pemuda lintas agama termasuk mahasiswa Islam yang menghadiri talkshow tentang pemeliharaan kerukunan antarumat beragama yang berlangsung di aula Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang, Pastor Ignasius Ismartono SJ memuji mereka.

“Saya memuji kelompok pemuda yang datang hari ini, seperti anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari Universitas Islam Tangerang. Posisi para pemuda seperti ini perlu diapresiasi karena di atas pundak mereka nasib bangsa dititipkan,” kata Pastor Ismartono yang menjadi salah satu pembicara dalam talkshow yang dihadiri sekitar 300 orang, tanggal 10 Juni 2014.

Selain HMI, acara itu juga dihadiri wakil-wakil Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), perwakilan pengurus Budha, Hindu dan Konghucu, Islam, Kristen, dan seluruh anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tangerang.

Imam Jesuit yang kini mengajar di SMA Kanisius itu lalu mengajak kaum muda untuk mulai bekerja sama tanpa perlu melihat latar belakang agama teman kerjanya. “Yang lebih penting bersama umat lain melakukan kebaikan bersama,” tegas imam itu dalam acara yang juga dihadiri para tokoh agama serta pimpinan organisasi keagamaan di wilayah Kota Tangerang.

Segala sesuatu yang baik dan membawa manfaat, lanjut imam itu, hendaknya  dilakukan secara bersama-sama. “Sebagai warganegara, seluruh umat perlu melihat apa yang sedang dialami, diderita bangsa saat ini. Jika korupsi, masalah kesehatan, dan masalah pendidikan semakin memburuk, permasalahan itu bisa diatasi lewat sesuatu yang dikerjakan bersama-sama.”

Menanggapi kesulitan membangun gereja, Pastor Ismartono mengajak umat Katolik membangun gereja yang ramah lingkungan. “Jangan bangun gereja megah-megah. Sederhana saja,” kata imam itu seraya mengajak umat Katolik Ciledug untuk terus melakukan pendekatan untuk bisa membangun gerejanya, karena sebagian persoalan diakibatkan oleh persoalan internal.

Topik yang paling mendominasi pertanyaan peserta adalah tentang problem Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk Gereja Katolik Santa Bernadeth, Ciledug. Pembangunan gereja yang sudah mengantongi IMB dari pemerintah Kota Tangerang sejak 22 Agustus 2012 itu dihentikan oleh Forum Komunikasi Umat Islam Sudimara Pinang Bersatu.

Imam itu juga menganjurkan kepada umat Katolik untuk terus-menerus membaca dan memahami Nostra Aetate, dokumen Konsili Vatikan II tentang hubungan Gereja dengan agama-agama bukan Kristen. “Ini sangat penting Agar pada saat dialog, umat Katolik bisa menjelaskan dengan sebaik-baiknya.”

Narasumber lain dalam talkshow itu adalah Abubakar Mustollah dari Majelis Ulama Indonesia Tangerang. Enam agama di Indonesia, katanya, berkembang dan selalu hidup berdampingan meskipun ada perbedaan di antara pemeluk agama.

Di daerah-daerah tertentu, dia membenarkan, kerap kali terjadi intoleransi. Dan untuk merajut kerukunan antarpemeluk agama dia mengajak umat untuk setia menjalankan ajaran agama masing-masing. “Saling memahami satu dengan lain dan menjauhkan kecurigaan merupakan modal penting untuk merajut kerukunan,” kata Abubakar.

Merajut kerukunan dan kebersamaan dalam kemajemukan, jelasnya, harus berawal dari niat baik masing-masing pemeluk agama di Indonesia, terlebih para tokoh agama. “Tanpa niat baik dan komitmen bersama, wacana kerukunan hidup beragama itu sulit direalisasikan.”

Ketua FKUB Kota Tangerang Amin Munawar mengatakan, situasi kerukunan umat beragama merupakan tanggung jawab seluruh umat, Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Buddha dan Konghucu, “karena dengan situasi rukun, damai dan sejahtera maka kesejahteraan bisa dicapai.” 

Kepala Paroki HSPMTB Pastor Ignasius Swasono SJ berharap kegiatan itu memberikan sumbangan penting untuk kebaikan bersama. “Sekalipun jumlah anggota Katolik sedikit, namun diharapkan kegiatan ini mendorong orang lain melakukan kebaikan bersama,” kata imam itu.(Konradus R Mangu)

DSC_1541

 

Keterangan foto: Pastor Ismartono duduk paling kanan di foto pertama dan berdiri kedua dari kiri di barisan depan pada foto kedua. Foto Alam_Komsos

Tinggalkan Pesan