10439453_680919091982414_6967488299916936463_n

“Harapan saya, pertemuan ini menandai awal perjalanan baru tempat kita mencari hal-hal yang menyatukan, agar yang memisahkan diatasi,” kata Paus Fransiskus saat berterima kepada Presiden Palestina dan Israel, Mahmoud Abbas dan Shimon Peres dan delegasi perwakilan umat Yahudi, Kristen dan Muslim, yang semuanya berkumpul di Vatikan di malam 8 Juni 2014 untuk berdoa bagi perdamaian di Timur Tengah dan seluruh dunia.

Paus juga berterima kasih kepada Patriark Ekumenis Konstantinopel, Bartholomew I, yang bersama Paus menyambut tamu-tamu yang terkenal itu. “Kehadiran Anda di sini adalah karunia besar, tanda dukungan yang sangat dihargai, serta kesaksian ziarah yang sedang kami, umat Kristiani, lakukan menuju persatuan penuh.”

Kehadiran kedua presiden itu, menurut Paus Fransiskus, adalah tanda besar persaudaraan yang mereka berikan sebagai anak-anak Abraham. “Ini juga merupakan ungkapan konkret kepercayaan kepada Allah, Tuhan dari sejarah, yang hari ini nampak pada kita semua sebagai saudara dan yang mau membimbing kita dalam jalan-jalan-Nya.”

Pertemuan doa bagi perdamaian di Tanah Suci, di Timur Tengah dan di seluruh dunia itu, kata Paus, diikuti dengan doa yang dipanjatkan orang-orang yang jumlahnya tak terhitung dari berbagai budaya, bangsa, bahasa dan agama.

“Mereka telah berdoa untuk pertemuan ini dan bahkan sekarang mereka bersatu dengan kami dalam permohonan yang sama. Pertemuan ini menjawab keinginan besar semua orang yang merindukan perdamaian dan memimpikan dunia tempat pria dan wanita bisa hidup sebagai saudara dan saudari bukan lagi sebagai lawan dan musuh,” kata Bapa Suci.

Juga dikatakan, dunia diwariskan kepada kita dari generasi masa lalu, tapi juga dipinjamkan kepada kita oleh anak-anak kita. “Anak-anak kita yang lelah, lelah karena konflik dan kerinduan akan fajar perdamaian. Anak-anak kita yang memohon kepada kita untuk meruntuhkan tembok permusuhan dan untuk memulai menjalani langkah dialog dan perdamaian, sehingga cinta dan persahabatan akan menang.”

Paus menceritakan banyak anak menjadi korban tak berdosa dari perang dan kekerasan. “Adalah tugas kita untuk memastikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia. Kenangan akan anak-anak ini menanamkan dalam diri kita keteguhan untuk perdamaian, kekuatan untuk tetap berani berdialog, kesabaran untuk setiap hari menenun kain hidup bersama yang lebih kuat, yang penuh hormat dan damai, demi kemuliaan Allah dan kebaikan semua orang.”

Perdamaian, lanjut Paus, menuntut keberanian untuk mengatakan ya untuk perjumpaan dan tidak untuk konflik. “Ya untuk dialog dan tidak untuk kekerasan, ya untuk negosiasi dan tidak untuk permusuhan, ya untuk menghormati kesepakatan dan tidak untuk aksi provokasi, ya untuk kejujuran dan tidak untuk tipu daya,” kata Paus seraya menekankan bahwa semua itu memerlukan keberanian, kekuatan dan keuletan.

Sejarah mengajarkan bahwa kekuatan sendiri tidaklah cukup, jelas Paus. “Lebih dari sekali kami berada di ambang perdamaian, tapi yang jahat, yang menggunakan berbagai cara, berhasil menghalanginya. Itulah sebabnya kita berada di sini, karena kita tahu dan percaya bahwa kita perlu pertolongan Allah.”

Paus mengatakan bahwa mereka telah mendengar panggilan, dan mereka harus menanggapi panggilan memecahkan spiral kebencian dan kekerasan itu, dan memecahkannya dengan satu kata saja yakni “saudara.” Tetapi, lanjut Paus, “untuk dapat mengucapkan kata ini kita harus mengangkat mata kita ke surga dan saling mengakui sebagai anak-anak dari satu Bapa.”(pcp)

04245518.r

Tinggalkan Pesan