1520202_Articolo

Paus Fransiskus menyerukan agar hubungan persaudaraan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Apostolik Armenia Sisilia terus ditumbuhkan.

Bapa Suci menerima Yang Mulia Aram I, Katolikos Apostolik Gereja Armenia Sisilia, dalam audiensi di Vatikan tanggal 5 Juni 2014. VIS,Zenit, dan Radio Vatikan melaporan peristiwa itu dari Kota Vatikan. Katolikos itu berada di Roma selama tiga hari.

Dalam sambutannya, Paus Fransiskus berterima kasih kepada Tuhan atas pertumbuhan hubungan persaudaraan antara Gereja-Gereja, seraya mengatakan bahwa pertumbuhan itu merupakan karunia sejati dari Allah.

Paus mengatakan bawa komitmen Katolikos  itu untuk terjadinya persatuan umat Kristen telah diketahui semua orang. Katolikos itu telah memberi kontribusi signifikan terhadap Komisi Bersama untuk Dialog Teologis antara Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Ortodoks Oriental.

“Anda telah sangat aktif di Dewan Gereja-Gereja se-Dunia dan Anda terus menjadi yang paling suportif dari Dewan Gereja-Gereja Timur Tengah, yang memainkan peranan penting dalam membantu komunitas-komunitas Kristen di wilayah itu, saat mereka menghadapi banyak kesulitan,” tegas Paus.

Bapa Suci yakin bahwa dalam “perjalanan kami menuju persekutuan yang penuh, kami memiliki harapan yang sama dan rasa tanggung jawab yang serupa.”

Sejarah emigrasi, penganiayaan dan kemartiran yang dialami oleh begitu banyak umat beriman telah menimbulkan luka mendalam di hati semua orang Armenia, kata Paus Fransiskus.  “Kita harus melihat dan menghormatinya sebagai luka-luka yang diderita dalam tubuh Kristus,” lanjut Paus.

Paus menekankan bahwa kepercayaan dan harapan sungguh diperlukan. Kepercayaan dan harapan, lanjut Paus, dibutuhkan bukan sekedar oleh umat Kristen di Timur Tengah. “Kepercayaan dan harapan dibutuhkan oleh saudara-saudari Kristen kita di Timur Tengah, terutama mereka yang tinggal di daerah-daerah yang tersiksa karena konflik dan kekerasan.”

Namun, lanjut Paus, semua umat Kristen juga membutuhkan kepercayaan dan harapan karena mereka bisa saja melupakan Tuhan, berselisih dengan sesama, atau tak tahan untuk melakukan dosa.

“Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita perlu belajar rendah hati untuk saling menanggung beban dan saling membantu untuk menjadi orang Kristen yang lebih baik, pengikut Yesus yang lebih baik. Maka, marilah kita bersama-sama meningkatkan amal kasih, sebagaimana Kristus mengasihi kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita, dengan menyerahkan diri-Nya kepada Allah sebagai kurban yang menggembirakan.”

Setelah pertemuan tersebut, Katolikos dan Paus saling berbagi hadiah dan kemudian berdoa bersama di Kapel Redemptoris Mater.

Santo Yohanes Paulus II pernah berkunjung ke Armenia di tahun 2011, dan Katolikos itu banyak kali berkunjung ke Roma dan bertemu para Paus di Vatikan, kususnya dalam kunjungan tahun 2008 kepada Paus Benediktus XVI serta peransertanya dalam pelantikan Paus Fransiskus.

Dalam kunjungan  tiga hari itu, Katolikos itu juga berkunjung ke Dewan Kepausan untuk Persatuan Umat Kristen serta dikasteri lainnya dalam Kuria Romawi. (pcp)

Pope

Tinggalkan Pesan