DSC01400

Perjalanan panggilan menuju imamat memang tidak mudah dan banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun para diakon tertahbis, yang adalah pelayan Kristus, hendaknya tidak pernah diam apalagi takut mewartakan sabda Tuhan di manapun mereka berada.

Uskup Atambua Mgr Dominikus Saku menegaskan hal itu dalam homili Misa Tahbisan 5 diakon dari Keuskupan Agung Kupang, 3 dari Keuskupan Atambua, 2 dari Keuskupan Weetabula, dan 5 dari Kongregasi Misionaris Klaretian (CMF) di Kapela Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang NTT, tanggal 30 Mei 2014.

Mantan Dekan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang itu lalu menguatkan para diakon dengan berujar, “Ketika berada di tengah-tengah umat, berlakulah seperti pelayan-pelayan Yesus Kristus yang tampak di antara para murid, yang melayani Tuhan dan manusia dengan gembira dan antusias.”

Dengan dikuatkan oleh Roh Kudus, kata Mgr Domi Saku, seorang diakon akan memberi bantuan kepada uskup dan imam dalam melaksanakan tugas sebagai pelayan sabda, pelayan altar, dan pelayan kasih sambil menunjukkan diri sebagai hamba bagi semua orang.

“Kesatuan dengan para uskup dan para imam serta pencurahan Roh Kudus menjadikan Anda layak melaksanakan tugas suci tersebut,” kata uskup itu kepada 15 diakon yang baru.

Dalam melaksanakan tugas-tugas pokok sebelum menerima tahbisan imamat, menurut Uskup Atambua, seorang diakon perlu memperhatikan beberapa hal utama yakni kesuburan doa dan membaca Kitab Suci.

“Diakon bersama umat Allah harus bertekun dalam doa dan membaca Kitab Suci karena tanpanya semua menjadi kering, keduanya adalah ‘kantor’ dan sekaligus tugas pokok kaum tertahbis,” tegas Mgr Domi Saku dalam Misa yang juga dihadiri oleh sekitar 60 imam.

Selain itu, lanjut uskup, seorang diakon harus bersatu hati dengan uskup, para imam dan semua umat yang dilayani. “Diakon diambil dan terpilih dari umat dan selanjutnya akan dikembalikan kepada umat untuk menjalankan tiga tugas pokoknya sebagai pewarta sabda, pembantu uskup dan pastor, serta penggembala dan pemimpin umat Allah.”

Tugas-tugas itu secara otomatis menghantar seorang pelayan pada salib, “yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus diterima meskipun perjalanan menuju imamat harus dilakukan dengan tertatih-tatih,” kata Mgr Domi Saku. (Thomas  A  Sogen)

DSC01373

Tinggalkan Pesan