AP Andrew Medichini, Pool

Tanggal 24 hingga 26 Mei 2014 Paus Fransiskus berziarah ke Yerusalem. Dalam penerbangan pulang ke Vatikan para wartawan mewawancarai Paus  di pesawat dan Paus menjawab begitu lugas dan jelas. “Kita hidup dalam zaman komunikasi yang luar biasa. Apa yang dikatakan oleh Paus dari dalam pesawat itu bisa kita ketahui di layar kita masing-masing,” kata Pastor Albertus Sujoko MSC dari Pineleng, Sulawesi Utara, seraya mengingatkan pada Hari Minggu Komunikasi se-Dunia, 1 Juni 2014 ini, bahwa “Komunikasi lebih mendekatkan kita bersama dan membuat kita lebih terhubungkan ….”

Secara khusus PEN@ Indonesia mengangkat apa yang dikatakan Paus dalam wawancara itu, yang diterjemahkan oleh Pastor Sujoko dari tulisan wartawan Vatikan, Andrea Tornielli, tentang pelecehan seksual kepada anak-anak, penggelapan uang di IOR, kependudukan di Eropa, Yerusalem sebagai Ibukota Palestina, selibat para imam, relasi dengan Gereja Ortodoks, kunjungan ke Sri Lanka dan Filipina serta kebebasan agama, kemungkinan Paus Fransiskus mengundurkan diri,  dan tentang keluarga yang cerai dan nikah lagi.

Saat ini, kata Paus Fransiskus tentang pelecehan seksual kepada anak-anak, ada tiga uskup yang sedang diselidiki dan salah satunya telah dibuktikan dan hukumannya segera akan diputuskan, dan tidak akan ada toleransi kepada siapapun bila menyangkut pelecehan kepada anak-anak.

“Bila seorang imam melakukan pelecehan itu, ia mengkhianati tubuh Kristus. Imam harus membimbing anak-anak menuju kesucian. Dan anak-anak itu percaya kepadanya. Maka jika ia melakukan pelecehan, ini adalah masalah yang sangat serius. Alih-alih membimbing anak-anak menuju kesucian, imam itu justru menciptakan masalah yang akan membekas pada anak-anak itu untuk sepanjang hidup. Akan segera dibuat misa bersama bagi para korban pelecehan itu di Kapel Santa Marta. Lalu saya akan mengadakan pertemuan dengan mereka. Harus dilakukanuntuk mengatasi masalah ini.”

Suatu kali Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya bahwa skandal tidak bisa dihindari, karena kita adalah manusia biasa dan kita semua adalah pendosa, demikian Paus berbicara tentang penggelapan uang di IOR. IOR atau Istituto per le Opere di Religione adalah Institut untuk Karya-Karya Agama, yang dikenal luas dengan nama Bank Vatikan.

“Masalah ini harus diusahakan untuk tidak terjadi. Pengaturan keuangan perlu kejujuran dan transparansi. Dua komisi yang menginvestigasi IOR dan yang mengawasi seluruh keuangan Vatikan, kini telah mencapai kesimpulan untuk melanjutkan reformasi bersama dengan sekretariat ekonomi yang dipimpin Kardinal Pell. Penyelidikan masih jalan terus. Para bapa Gereja mengatakan, “Ecclesia semper reformanda”. Kita pendosa dan lemah. Sekretariat ekonomi akan membantu menghindari skandal dan masalah. Misalnya, ada 1600 rekening ilegal pada IOR yang telah ditutup. IOR ada untuk membantu Gereja, para uskup, keuskupan-keuskupan, staff  pegawai Vatikan, para janda mereka, kedutaan-kedutaan Vatikan berhak untuk mempunyai rekening di IOR, tapi bukan yang lain-lain. IOR bukan bank untuk umum. Sekarang IOR sudah diperbaiki. Semua rekening yang tidak termasuk dalam kelompok tadi itu, telah ditutup. Saya ingin tambahkan satu hal lagi: persoalan menyangkut 15 juta euro itu sedang diselidiki; belum jelas apa yang telah terjadi.”

Masyarakat Eropa adalah masalah kepercayaan dan ketidakpercayaan, dan masalah beberapa teori tentang Euro. Namun pengangguran adalah masalah serius, kata Paus tentang masalah kependudukan di Eropa. 

“Dunia menganut sistem ekonomi global yang berpusat pada uang, bukan pada manusia. Supaya tetap bertahan, sistem ekonomi itu mengorbankan banyak hal. Ia mengorbankan anak-anak: tingkat kelahiran anak di Eropa sangat rendah. Di Italia rata-rata setiap keluarga memiliki kurang dari dua anak, dan di Spanyol lebih kurang lagi. Sistem ekonomi juga mengorbankan lansia, bahkan dengan euthanasia tidak langsung (euthanasia in disguise). Maksudnya, orang sakit tidak diberi obat, lalu mati, obat hanya bisa dilayani sampai pada tahap tertentu. Anak-anak muda pun dikorbankan. Saya sangka anak muda pengangguran di Italia mencapai 40%, di Spanyol 50%, di Andalusia 60%. Ada satu generasi antero yang tidak belajar dan tidak bekerja. Budaya pemborosan (the culture of waste) ini sangat serius. Eropa bukan satu-satunya tempat budaya boros itu, namun itu sangat terasa terlebih di Eropa. Sistem ekonomi seperti itu adalah tidak manusiawi. Seperti saya tulis dalam Evangelii Gaudium, ‘sistem ekonomi ini membunuh.’”

Ada banyak usulan tentang masalah Yerusalem, kata Paus tentang Yerusalem sebagai Ibukota Palestina. Gereja Katolik dan Vatikan mengambil posisi dari sudut pandang religius: sebuah kota damai untuk tiga agama.

“Kriteria jelas bagi perdamaian itu perlu dirundingkan, misalnya bagian ini akan menjadi ibukota negara ini dan bagian yang sana akan menjadi ibukota negara yang sana. Namun bukan sayalah yang harus mengatakan bahwa hal ini dan itu yang harus dilakukan, saya bodoh kalau membuat itu, saya kira kita harus masuk dalam masalah ini dalam semangat persaudaraan dan saling percaya untuk melakukan perundingan-perundingan. Diperlukan keberanian dan saya berdoa kepada Tuhan semoga kedua presiden itu memiliki keberanian itu untuk melakukannya. Tentang Yerusalem, semua yang bisa saya katakan adalah: ia harusnya menjadi kota damai untuk tiga agama.”

Gereja Katolik mempunyai imam-imam yang menikah dalam Ritus Timur, kata Paus tentang selibat para imam.

“Selibat bukanlah dogma iman. Selibat adalah aturan hidup yang saya sangat junjung tinggi dan saya percaya seibat adalah anugerah bagi Gereja. Pintu selalu terbuka, karena selibat itu bukan dogma iman.”

Ketika berbicara dengan Batrik Bartholomeus tentang kesatuan, mereka meyakini bahwa hal itu akan tercapai melalui perjalanan bersama dan tidak bisa menciptakan kesatuan dalam kongres teologi, kata Paus tentang relasi dengan Gereja Ortodoks.

“Ia menyakinkan saya bahwa pendahulunya Athenagoras mengatakan kepada Paulus VI: “Marilah kita bawa semua teolog itu ke dalam suatu pulau, dan kita akan berjalan bersama-sama: kita perlu membantu satu sama lain, misalnya dalam menggunakan gereja, bahkan di Roma banyak umat Gereja Orthodox memakai Gereja Katolik untuk beribadah. Kita bicara tentang konsili-lengkap Orthodox (the pan-orthodox council) sehingga dapat dicapai suatu kesepakatan tentang pesta Paskah. Ini sangat bodoh: “katakan padaku, kapan Kristus-mu bangkit dari mati? Kristus-ku minggu depan; Kristus-ku minggu lalu” dan saya berbicara sebagai saudara, kami saling mengasihi, dan kami berbicara kesulitan-kesulitan yang kami hadapi sebagai pemimpin. Kami berbicara banyak tentang ekologi dan mengusahakan inisiatif bersama untuk menangani masalah itu.”

Ada dua agenda kunjungan Paus Fransiskus ke Asia: yang satu di Korea Selatan pada bulan Januari nanti, dan dua hari kunjungan ke Sri Lanka dan Filipina, tempat korban tsunami, demikian Paus tentang kunjungan ke Sri Lanka dan Filipina serta kebebasan agama.

“Masalah kebebasan mempraktekkan agama bukan hanya di Asia, melainkan di tempat lain pula. Kebebasan beragama tidak dianut oleh semua negara. Beberapa negara melakukan pembatasan; yang lain melakukan penindasan. Ada banyak martir dewasa ini, baik katolik maupun bukan. Di beberapa tempat kalian dilarang mengenakan salib, memiliki Alkitab dan mengajar katekese kepada anak-anak. Saya pikir sekarang ada lebih banyak martir daripada masa Gereja perdana. Kita perlu mendekati tempat-tempat tertentu dengan hati-hati, pergi ke sana dan membantu mereka, pergi untuk berdoa bagi Gereja yang menderita, menderita sangat banyak. Bahkan uskup-uskup dan Tahta Suci bekerja diam-diam untuk membantu umat yang dilarang berdoa bersama. Ada tempat di mana umat ingin merayakan Ekaristi, dan ada pria yang memakai baju kerja biasa, namun bertindak sebagai imam dan ia bersama-sama dengan umat mengelilingi meja dan pura-pura minum teh, walaupun mereka sebenarnya sedang merayakan Ekaristi dan pria itu adalah imam. Kalau polisi datang, mereka cepat-cepat menyembunyikan buku-buku doa, sehingga kelihatan bahwa mereka hanya sedang minum teh.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia akan melakukan apa yang Tuhan sampaikan kepadanya untuk dilakukan. Berdoa dan berusaha untuk mengikuti kehendak Tuhan. Demikian Paus berbicara tentang kemungkinan mengundurkan diri sebagai Paus.

“Benediktus XVI tidak lagi mempunyai kekuatan yang diperlukan dan dengan jujur, sebagai seorang beriman, demikian rendah hatinya, ia mengambil keputusan. Tujuh puluh tahun lalu, Paus Emeritus tidak ada. Apa yang akan terjadi dengan Paus Emeritus? Kita perlu melihat Paus Benediktus XVI sebagai institusi, ia membuka pintu, yaitu pintu bagi paus-paus emeritus. Kini pintu sudah dibuka, apakah ada paus emeritus berikutnya, hanya Tuhan yang tahu. Saya percaya, jika uskup Roma telah kehilangan kekuatannya, ia harus mengajukan kepada dirinya sendiri pertanyaan yang telah dibuat oleh Paus Benediktus XVI.”

Sinode nanti akan membahas tema keluarga, sebagai masalah yang di depan mata, kata Paus tentang keluarga yang cerai dan nikah lagi.

“Persoalan dan situasi aktualnya ada. Ceramah pendahuluan yang disampaikan Kardinal Kasper memuat lima bab, empat di antaranya menjelaskan hal-hal positif tentang keluarga dan landasan teologisnya. Bab 5 membahas masalah pastoral dari keluarga yang berpisah dan pembatalan nikah, serta komuni bagi mereka yang sudah bercerai dan menikah lagi. Yang saya tidak suka ialah orang-orang di dalam maupun di luar Gereja berfikir bahwa tujuan sinode itu ialah untuk mengizinkan orang yang sudah bercerai boleh menerima sambut komuni, seolah-olah seluruh persoalan direbus dan diperas menjadi satu masalah itu saja. Kita tahu, sekarang keluarga menghadapi krisis, krisis global. Orang muda tidak mau menikah; mereka hanya hidup bersama saja. Saya tidak mau kita jatuh pada satu pertanyaan ini saja: apakah dimungkinkan atau tidak memberi pelayanan komuni kepada orang keluarga yang bercerai? Masalah pastoral menyangkut keluarga itu sangat luas. Dan setiap masalah perlu dibahas satu per satu. Saya ingin menunjuk apa yang dikatakan Paus Benediktus XVI dalam tiga kesempatan: prosedur pembatalan nikah perlu dilihat kembali; iman orang yang mau melangsungkan perkawinan juga perlu dievaluasi; dan kita perlu menegaskan bahwa orang yang bercerai tidak diekskomunikasi. Begitu sering mereka diperlakukan seolah-olah telah diekskomunikasi. Memilih tema keluarga dalam sinode mendatang adalah sebuah pengalaman spiritual; diskusi perlahan-lahan akhirnya mengarah pada tema tentang keluarga. Saya yakin bahwa Roh Kudus yang membimbing kita sampai ke situ.”***

 

 

 

 

1 komentar

Tinggalkan Pesan