Picture 800

Sarjana baru Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) menjadi katekis yang dipanggil untuk menjadi sakramen keselamatan, tanda kehadiran Kristus yang menghidupkan, bukan mematikan, menjadi katekis yang digerakkan oleh semangat Injil, mampu memaknai dan menghayati panggilan jiwa dengan idealisme dan komitmen yang tinggi.

Ketua STPKat Santo Fransiskus Assisi Suster Theresiani OSF berbicara saat wisuda sarjana IV Program S1 di Gedangan, Semarang, 15 Mei 2014. Sebanyak 127 wisudawan-wisudawati dihasilkan tahun ini. Prosesi wisuda dilakukan dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta. Dalam wisuda itu, wisudawan-wisudawati mengucapkan janji wisuda.

“Usaha yang kami selenggarakan ini, selain tanggung jawab moral sebagai institusi namun juga mau menjawab tuntutan pemerintah agar guru-guru agama Katolik mampu mengikuti jenjang pendidikan tinggi dengan mendapakan gelar sarjana,” kata Suster Theresiani.         

Searah dengan visi dan misi, lanjut suster itu, STPKat berusaha melaksanakan dan mewujudkan Tri Darma Perguruan Tinggi dengan kekhasan STPKat yang berlandaskan spiritualitas Santo Fransiskus Assisi yakni membawa cinta-damai dan keadilan serta seluruh alam ciptaan. “Bersaudara dengan menebarkan kasih, perdamaian serta keadilan baik lewat kehidupan dalam keluarga, di sekolah, Gereja dan masyarakat,” tegas suster itu.

Menurut Suster Theresiani, Santo Fransiskus Assisi dimaknai sebagai katekis yang berpandangan luas, bersikap terbuka terhadap setiap perubahan, serta memiliki semangat pembaru dengan dedikasi dan komitmen yang tinggi.

“Semakin jelaslah peran katekis maupun pekerja petugas pastoral di jaman ini, terus menerus mewartakan kegembiraan Injil,” kata suster itu seraya mengharapkan para katekis mempersiapkan generasi muda supaya semakin mengenal kasih-Nya dan juga mengenal peradaban bangsa-masyarakat Indonesia dengan segala kemajemukannya.

“Lahan pekerjaan kalian tidak hanya terbatas di sekolah sebagai guru agama, tetapi juga terlibat dalam pastoral paroki,” tegas suster.

Suster  Theresiani juga berharap agar para katekis sungguh profesional dengan panggilan iman yang mendalam sehingga signifikan dan relavan dalam upaya pengembangan kesejahteraan umum.

Ketua Yayasan STPKat Suster Yohana Maria OSF menegaskan, seorang murid tidak melebihi gurunya. Dia akan sempurna kalau menjadi seperti gurunya. Maka, meskipun sudah diwisuda, para guru agama Katolik atau katekis tetap menjadi murid, “karena apapun status, apapun kedudukan kita di dunia ini hanya satu Guru kita yaitu Yesus Kristus, Sang Gembala dan Guru Agung kita.”

Suster Yohana mengingatkan wisudawan-wisudawati supaya tetap berjalan meskipun dicerca dan dihina. “Saya yakin kita hidup di tengah serigala. Jangan takut karena Sang Guru abadi, guru agung sudah melakukan,” tegas suster dalam wisuda yang dihadiri keluarga dan kerabat wisudawan-wisudawati itu.

Menurut Suster Yohana, wisuda bukan berarti sudah selesai. “Tetapi justru sebagai titik awal untuk memulai mengkonkretisasi hasil belajar dalam hidup sehari-hari. Tidak terlepas suatu ketika nanti lemah tidak berdaya, bangkit lagi,” katanya.

Hal senada juga disampaikan wisudawati terbaik, Maria Yustina. “Wisuda kali ini bukan akhir dari perjuangan kita, melainkan awal perutusan baru dengan dijiwai semangat misioner Santo Fransiskus Assisi, selalu akan berusaha menjadi katekis yang memiliki semangat pembaru dengan dedikasi dan komitmen yang tinggi untuk terus mewartakan Injil di jaman yang penuh tantangan ini,” katanya.

Sesudah Misa dan wisuda, Mgr Pujasumarta menyatakan harapannya agar para katekis baru itu bisa memperkuat Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang sekarang dalam proses mengembangkan formatio iman yang berjenjang dan berkelanjutan.

“Maka, saya harapkan para wisudawan ini nanti masuk ke dalam masyarakat dan umat paroki, lingkungan-lingkungan, dan mendampingi umat dari awal sampai usia lanjut,” kata Mgr Pujasumarta seraya menambahkan bahwa para wisudawan-wisudawati akan mendapatkan sertifikat yang dikeluarkan oleh Komisi Kateketik KAS.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Katolik Eusabius Binsasi mengatakan sarjana yang menamatkan pendidikan tinggi di sekolah tinggi pastoral adalah ahli dalam bidang agama Katolik. “Sebagai orang yang ahli, tentu pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan bagaimana mengimplementasikan hidup nilai-nilai Katolik dalam kehidupan setiap hari akan sangat diharapkan,” katanya. (Lukas Awi Tristanto)

 

 

 

Tinggalkan Pesan