IMG_1209

Masyarakat tradisional menganggap kelor sebagai pengusir kekuatan jahat. “Tapi kita harus mengubah. Harus ada proses demitologisasi. Kelor dibersihkan dari mitos-mitos seperti itu dan kemudian kita belajar betul-betul apa yang ada di dalamnya.”

Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta Pr mengatakan hal itu saat meminta agar pengelola Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) menanam kelor di tempat ziarah itu. Sekitar 7000 umat mendengar himbauan Mgr Pujasumarta dalam homili Misa Novena Perutusan IX di GMKA, 11 Mei 1014.

Menurut uskup agung itu, banyak kisah yang menceritakan bahwa penyakit orang-orang disembuhkan karena kelor, dan dari berbagai sumber dikatakan bahwa banyak anak-anak di negara-negara Afrika, yang dulu terkenal mengalami mal nutrisi, terselamatkan berkat tanaman kelor yang penuh gizi.

“Kita harus membuat keluarga kita sehat, membuat anak-anak sehat, juga membuat generasi masa depan sehat, bukan hanya secara rohani dengan makan dan minum dari Tubuh dan Darah Tuhan, tetapi  secara jasmani,” kata uskup agung seraya mendorong umat untuk mengenali dan memanfaatkan alam ciptaan, misalnya memanfaatkan lahan tidur dan lahan kosong di rumah. “Kalau tak ada tanah, buat polibag, buat pot-pot untuk menanam segala hal yang ada menjadi penyembuh kita.”

Mgr Pujasumarta percaya, kalau sudah merasakan satu hal kecil yang sangat bermanfaat, “mata kita akan terbuka, ternyata tidak hanya daun kelor, tetapi daun macam-macam bisa menjadi obat bagi penyembuh kita.”

Yesus sebagai gembala digambarkan menuntun kita ke air yang jernih, bagian dari alam semesta. Dalam Credo atau Aku Percaya dikatakan “Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tidak kelihatan.”

Mgr Pujasumarta lalu mengajak umat supaya betul-betul menghayati bahwa alam semesta ini penuh kasih setia Tuhan. “Udara yang kita hirup, gratis. Isinya adalah kasih setia Tuhan. Barang-barang sekitar kita diberikan kepada kita, kasih setia Tuhan,” kata uskup agung yang gemar mengampanyekan umatnya supaya menanam kelor di pekarangan rumahnya.

Dikatakan bahwa ada begitu banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang tidak disadari tetapi betul-betul bermanfaat bagi kehidupan. Alam semesta yang penuh kasih setia Tuhan itu juga penuh dengan daya penyembuhan. Tradisi pun menceritakan bahwa banyak orang disembuhkan dengan bahan-bahan obat yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan.

“Itu obat-obat herbal yang penuh kasih setia Tuhan supaya menjadi penyembuh bagi kita. Dan Gembala yang baik ini mengantar kita ke padang luas hijau yang penuh tumbuh-tumbuhan yang menyejukkan dan menyembuhkan. Itulah Gembala kita yaitu Yesus Kristus,” kata Mgr Pujasumarta yang mengajak supaya alam semesta ini sungguh-sungguh dirawat dan dilestarikan.

Pengelola GMKA sudah melakukan penghijauan di sekitar GMKA dengan menanam trembesi agar menjadi lebih rindang. “Coba bayangkan kalau kita tidak berbuat sesuatu tahun yang lalu, dibiarkan begitu saja, tanah ini akan menjadi semakin gersang. Tetapi kalau kita pelihara lalu akan menjadi sesuatu yang penuh kasih setia Tuhan,” tegas Mgr Pujasumarta. (Lukas Awi Tristanto)

 

Tinggalkan Pesan