DSCN3518 

Konon, ada seorang laki-laki yang diyakini bertubuh pendek, tetapi memiliki pola hidup yang selalu membawa kebaikan. Hidupnya penuh dengan kasih, penuh persaudaraan, saling percaya, penuh kasih dan cinta kepada sesama yang menderita.

Laki-laki itu diyakini oleh masyarakat Sumatera Utara sebagai ‘utusan’ dari Yang Maha Kuasa untuk memberikan pencerahan bagi masyarakat setempat.

Uskup Agung Medan Mgr Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap menceritakan kisah itu dalam homili Misa Inkulturasi Umat Katolik Sumatera Utara yang dihadiri sekitar 1500 umat Katolik asal daerah itu di Paroki Santo Gregorius Agung Kota Bumi, Tangerang, 15 Mei 2014.

Kepala Paroki Gregorius Agung Pastor Andrianus Andy Gunardi Pr dan dua imam asal Keuskupan Agung Medan, Pastor Kristinus Mahulae OFMCap dan Pastor Celestinus Manalu OFMCap menjadi konselebran Misa yang bertema “Di dalam Kristus kita bersatu, diutus untuk menghasilkan buah yang baik, yaitu saling mengasihi satu dengan yang lain” itu.

Parayaan itu sekaligus merupakan Perayaan Paskah Warga Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara (IKKSU) dan pelantikan pengurus IKKSU di Paroki Santo Gregorius dan sekitarnya.

Mgr Sinaga mengaitkan cara hidup lelaki bertubuh pendek itu dengan cara hidup Jemaat Perdana yang sesuai Injil. “Kehidupan yang dilakoni manusia bertubuh pendek itu mirip dengan apa yang dilakukan oleh murid (jemaat) perdana Tuhan Yesus,” kata Mgr Sinaga seraya berharap umat dari Sumatera Utara untuk hidup penuh kasih dan menumbuhkan persaudaraan. “Menurut saya sosok lelaki bertubuh pendek itu sesungguhnya adalah manusia yang hidup dalam semangat Injil,”’ kata Mgr Sinaga.

Uskup Agung Medan itu berpesan agar umat Katolik yang tergabung dalam IKKSU menjalin persaudaraan dengan suku-suku lain, misalnya Flores, Jawa, Sulawesi, Ambon, dan lain-lain untuk tetap menumbuhkan iman yang teguh kepada Yesus. “Hindarilah kelompok yang eksklusif, tetapi bangunlah persaudaraan, agar nama Tuhan Yesus tetap dimuliakan.”

Pastor Gunardi mengatakan sangat mendukung dan menghargai keragaman yang ada di parokinya.  Bahkan imam itu mengajak agar melalui Misa inkulturasi itu mereka dapat menimba nilai-nilai positif yang perlu dikembangkan untuk iman umat paroki.

Ekaristi itu menggunakan bahasa, nyanyian, dan kotbah dalam bahasa daerah dari Sumatera Utara disertai paduan suara yang memadukan musik khas Batak.

Ramah-tamah, hiburan, door prize dan tor-tor melengkapi acara seusai Misa.***  (Konradus R Mangu)

 

Tinggalkan Pesan