DSCN3374

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta (Vikjen KAJ), Pastor Yohanes Subagyo Pr mengajak 201 anggota komunitas Sumber Daya Rasuli (Sudara) untuk menciptakan suasana Gereja yang nyaman, ramah, dan penuh pelayanan di tempat tugasnya masing-masing. “Gereja harus ramah dan terus menyapa semua orang tanpa ada sekat-sekat perbedaan.”

Pastor Yohanes Subagyo Pr berbicara dalam homili Misa yang mengawali seminar sehari bertema “Catholic Leaders’ Inspiration” yang dilakukan di aula Katedral Paroki Maria Diangkat ke Surga, Jakarta, 10 Mei 2014. Sekretaris Eksekutif KWI Pastor Edy Purwanto Pr menjadi konselebran Misa itu.

“Suasana penuh pelayanan di tempat kerja adalah mutlak bagi seluruh umat Katolik. Di dalam komunitas Sudara, seluruh anggota juga mengandalkan Roh Kudus untuk merahmati agar Kabar Gembira dirasakan oleh semua orang,” kata Pastor Subagyo.

Seminar sehari dari wadah HRD Katolik KAJ itu menghadirkan nara sumber, Rektor STF Driyarkarya Pastor Simon Petrus Lili Tjahjadi Pr, Vice Chairman Perfec 10 Counsulting Group Adhy Trisnanto, HRD PT Indofood Josef Bataona, Director Corporate Human Resourses Kompas Gramedia Sigit Suryanto, CEO Marga Mandala Sakti Wiwiek D Santoso, dan CEO PT KAI Ignasius Jonan.

Vikjen KAJ meminta seluruh anggota dan pengurus Sudara untuk terus-menerus melaksanakan serta mewujudkan cita-cita Gereja, mengaktualisasi visi dan misi Gereja, serta memikirkan cara menyampaikan Kabar Gembira kepada anggota Gereja di tempat pekerjaan mereka masing-masing.

Dalam seminar yang dilaksanakan untuk memperingati 20 tahun perjalanan komunitas Sudara (1994-2014) itu, Pastor Tjahjadi menjelaskan perbedaan antara etika dan etiket. Etika itu adalah kebiasaan sedangkan etiket berhubungan dengan sopan santun. “Ada tiga prinsip  dasar etika profesi yakni,  kehendak baik, keadilan dan hormat kepada diri sendiri.”

Adhi Trisnanto mengatakan, etika profesi dalam menjalani tugas itu penting. “Seorang karyawan diharapkan menerapkan etika profesi terus-menerus.” Manajemen pengelolaan manusia, khususnya di lingkungan Kompas Gramedia, kata Sigit Suryanto, menempatkan manusia sebagai subjek Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang diwujudkan dalam tiga hal, “menjunjung tinggi martabat manusia, menghargai nilai-nilai kehidupan dan memperhatikan kesejahteraan umum.”

Sedangkan Josef Bataona mengatakan bahwa dia bukan melakukan tugas karena tuntutan job description tapi lebih daripada itu dia merasa terpanggil melakukannya dengan sebaik-baiknya. “Saya melakukan karena dengan demikian saya semakin melayani banyak orang,” katanya.

Peraih penghargaan “Best Contribution to HR Community Award Asia HRD Congres Kuala Lumpur (2009) ini, menegaskan penghargaan yang diterima hanya merupakan peneguhan. Yang terpenting adalah banyak orang merasakan manfaat dari apa yang saya kerjakan sebagai HRD PT Indofood.

“Ketika ada pertanyaan kepada saya kapan target menjadi direktur, saya hanya mengatakan sekaligus berdoa agar yang telah saya lakukan bermanfaat bagi banyak orang,” kata pria kelahiran Lamalera, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Ignasius Jonan, kepemimpinan yang dilakoni seseorang harus memperhatikan aspek kemanusiaan, artinya memperhatikan manusia sebagai ciptaan yang paling tinggi.

Sudara terbentuk tahun 1994 dalam rekoleksi HRD Katolik di Jakarta yang dipimpin oleh Pastor Bernardus Soebroto Mardiatmaja SJ di Wisma Klender. Sudara yang diharapkan mampu menginspirasi tugas HRD dengan prinsip-prinsip Katolik, yaitu semangat kasih, adil dan mengusahakan ASG, itu mengadakan pertemuan bulanan untuk memperkuat kehidupan rohani dan untuk sharing di antara mereka. (Konradus R Mangu)

Tinggalkan Pesan