10313857_662602367147420_9200970818841616877_n

Di pagi yang cerah di halaman San Damaso, istana apostolik, dalam suasana kemiliteran yang megah, 30 pemuda satu per satu dipanggil dan mengucapkan janji setia untuk menjaga Paus, seraya memegang bendera dengan tangan kiri dan mengangkat tangan kanan dengan tiga jari terbuka, jempol, telunjuk dan jari tengah, sebagai tanda Tri Tunggal Mahakudus.

Sebagai anggota-anggota baru Garda Swiss Kepausan, mereka bergabung dalam pasukan elit yang telah melindungi Paus dan melayani Gereja sejak tahun 1506.

Pengucapan janji itu berlangsung dalam upacara di hadapan pejabat-pejabat Vatikan, Duta Besar Swiss untuk Tahta Suci yang baru, Pierre-Yves Fux, dan Uskup Agung Giovanni Angelo Becciu, Wakil Urusan Umum dari Sekretariat Negara.

Dalam pidatonya, komandan Garda Swiss Kepausan, Kolonel Daniel Anrig, mengatakan kepada rekrutan baru yang mengucapkan janji “untuk melayani Sri Paus secara setia, loyal dan tulus serta menyerahkan semua kekuatan mereka untuk dia, bahkan dengan risiko hidupnya sendiri, jika perlu.”

Peristiwa yang berlangsung setiap tahun tanggal 6 Mei itu menandai peristiwa paling signifikan dan paling hitam dalam sejarah garda. Di tahun 1527, sebanyak 147 anggota kehilangan nyawanya saat berperang melawan tentara Kekaisaran Romawi Suci saat Penjarahan Kota Roma. Pertempuran itu memungkinkan Paus Clement VII melarikan diri ke tempat yang aman melalui lorong batu yang mengarah dari Vatikan ke Castle Sant Angelo di Sungai Tiber.

Selama bertugas sebagai Garda Swiss, pria-pria itu akan mengenakan seragam biru, merah, oranye dan kuning yang terkenal. Seragam itu berulang tahun ke-100 tahun ini, karena dirancang oleh Komandan Jules Repond tahun 1914.

Selain melindungi Paus, mereka diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan turis, melakukan tugas-tugas seremonial dan membantu dalam peristiwa-peristiwa Vatikan.

1505499_787777721233834_4978409197678038560_n

Semalam sebelum pengucapan janji itu, Paus Fransiskus bertemu dengan anggota-anggota baru Garda Swiss Kepausan. Mereka ditemani keluarga dan rekan-rekannya. Kepada mereka Paus mengatakan, “di balik setiap seragam, ada seorang manusia yang nyata yang memiliki keluarga dan tanah air, yang memiliki kepribadian dan kepekaan, yang memiliki keinginan dan rencana dalam kehidupan.”

“Seragam kalian menggugah dan menarik perhatian orang,” kata Paus Fransiskus. Namun, lanjut Paus, “Ingatlah bahwa yang perlu diperhatikan bukanlah seragam, melainkan orang yang mengenakannya, karena keramahannya, semangat menyambutnya, karena sikapnya yang baik hati terhadap semua orang. Pertimbangkan ini juga dalam hubungan di antara kalian sendiri, sesuai kepentingannya, juga dalam kehidupan komunitas kalian.”

Paus juga minta agar mereka tidak mengabaikan orang-orang yang berada dalam kesulitan di seputar mereka dan hendaknya mereka mengenali saat-saat ketika seseorang sedang “membutuhkan senyum serta dorongan dan persahabatan.”

“Hindari jarak negatif yang memisahkan pertemanan dan, dalam kehidupan semua orang di dunia, dapat menimbulkan penghinaan, marjinalisasi dan rasisme,” kata Paus.

Dengan pelayanan khusus kalian, kata Paus, mereka diminta “memberikan kesaksian Kristen terang dan menyenangkan kepada siapa pun yang datang ke Vatikan untuk mengunjungi Basilika Santo Petrus dan untuk menemui Paus. Berkarya dalam Garda Swiss, lanjut Paus, berarti menjalani pengalaman yang membutuhkan perjumpaan waktu dan ruang dalam cara yang sangat khusus.

“Jalanilah hari-harimu dengan giat! Teguhlah dalam iman dan bermurah hatilah kepada orang-orang yang kalian temui.” (paul c pati, berdasarkan Radio Vatikan dan Zenit.org)

10311180_662602740480716_5816057466089503204_n

Tinggalkan Pesan