IMG_1334

Ketika masih bertugas sebagai ekonom Keuskupan Agung Semarang (KAS) sejak awal 2005, Pastor Fransiskus Assisi Sugiarta SJ tetap sibuk merasul dalam reksa pastoral sosial dan pendidikan, karena “berkaitan dengan orang-orang kecil, para petani dan kelompok tani, menjadi salah satu makna dari imamat saya.”

Pastor Sugiarta memang terlibat dalam kelompok sosial Lembaga Pendampingan Usaha Buruh, Tani dan Nelayan (LPUBTN). Lembaga itu hanya memiliki sedikit anggota, namun semangatnya besar, “untuk berusaha mewujudkan kembali cita-cita para pendiri awal Romo Dijkstra dan Mgr Soegijapranata, yang mencoba untuk mewujudkan perutusan Gereja, memperhatikan orang-orang kecil,” kata imam itu.

Imam yang akrab dipanggil Pastor Giarta atau Romo Giarta itu mengaku bahwa keterlibatannya di lembaga itu bukan hanya memberi kepadanya makna istimewa untuk panggilan imamatnya, tetapi juga memberi kesempatan bagi dirinya untuk “belajar sangat banyak dari reksa pastoral itu.”

Dampak pelayanan lembaga itu ternyata begitu signifikan baik pada generasi muda, maupun timbulnya kader-kader penggerak di berbagai macam tempat, kata Pastor Sugiarta. Imam itu lalu bercerita tentang orang-orang yang awalnya pencuri-pencuri kayu, sekarang sudah berubah hidupnya. “Itu sangat signifikan bagi saya,” kata imam kelahiran 3 Oktober itu.

Pastor Sugiarta juga gembira melihat kader-kader penggerak yang terbentuk, karena  mereka sudah bisa bergerak sendiri di lingkungannya, menggerakkan teman-temannya bahkan lintas agama. “Yang terpenting dalam melakukan pendampingan pada kelompok tani maupun pengusaha kecil adalah pembinaan pribadi-pribadi manusia.”

Keterlibatannya dalam reksa pastoral sosial dan pendidikan dilakukan setelah mendapat restu dari uskup dan Provinsial Serikat Yesus. Menurut imam itu, dalam tata kelola reksa pastoral sosial, semestinya dibangun suatu wajah sosial yang bisa dilihat di seluruh KAS.

“Banyak instansi, banyak pribadi yang sudah melakukan tetapi rupanya membutuhkan koordinasi sehingga bekerja secara sinergis dan menghasilkan secara signifikan dan relevan,” kata Pastor Sugiarta seraya menegaskan banyak tantangan dan kesulitan dalam menjalankannya.

Tanggal 5 April 2014, jabatannya sebagai ekonom KAS sudah diserahkan kepada Pastor Aria Dewanta SJ. Kini Pastor Giarta tinggal di Paroki Ambarawa. Dalam Misa serah terima jabatan itu, Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta menegaskan, meskipun berada dalam berbagai tantangan, Pastor Sugiarta tetap bertahan untuk setia pada tugas perutusannya.

“Saya tahu betul tugas perutusan itu dilaksanakan dengan setia karena ia tetap mempunyai hubungan dekat dengan Tuhan. Didukung dengan doa-doa rutin entah pribadi maupun bersama-sama,” kata Mgr Pujasumarta.

Uskup agung juga menghimbau ekonom yang baru beserta stafnya untuk bisa mengelola apa yang bisa menjadi kontribusi atau partisipasi umat yang menghidupkan KAS. “Hidup keuskupan ini didukung oleh semangat subsidiaritas dan solidaritas,” kata Mgr Pujasumarta.

Menurut Uskup Agung Semarang itu, Pastor Sugiarta telah berusaha mewujudkan Gereja yang melekat pada jati dirinya yaitu Gereja papa miskin. “Maka, kalau Gereja mengingkari jati diri itu, lalu Gereja kehilangan jati diri.” (Lukasi Awi Tristanto)

Keterangan foto: Pastor Fransiskus Assisi Sugiarta SJ (tengah) sedang menandatangani surat keputusan

Tinggalkan Pesan