14034210341_9085f4225c_b

Dua santo (orang kudus) terbaru dalam Gereja Katolik adalah “paus-paus abad keduapuluh” dan “tidak takut memandang luka-luka Kristus,” kata Paus Fransiskus dalam homili Misa Penggelaran Kudus Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus II pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 27 April 2014.

“Mereka hidup melewati peristiwa-peristiwa tragis di abad itu, tetapi mereka tidak kewalahan dengan peristiwa-peristiwa itu,” lanjut Paus Fransiskus dalam homilinya seperti dilaporkan oleh Radio Vatikan, yang kemudian diterjemahkan oleh PEN@ Indonesia.

Paus menambahkan bahwa bagi kedua orang kudus itu, “Allah lebih kuat; iman lebih kuat – iman akan Yesus Kristus Sang Penebus manusia dan Tuhan dari sejarah.”

Sebelumnya dalam Misa yang juga dihadiri oleh Paus Emeritus Benediktus XVI, Paus Fransiskus membacakan pengumuman resmi tentang kekudusan kedua Paus itu dalam ritus kanonisasi. Mendengar nama-nama dari kedua Paus itu dibacakan dalam bahasa Latin dalam pengumuman resmi itu, orang banyak lalu menyambut dengan gemuruh tepuk tangan.

Ratusan ribu orang dari seluruh dunia berkumpul di dan sekitar Lapangan Santo Petrus untuk menghadiri Misa Kanonisasi untuk Santo Yohanes XXIII dan Santo Yohanes Paulus II. Ribuan peziarah lain berkumpul di lapangan-lapangan seputar Kota Roma untuk menyasikan Misa itu lewat layar-layar lebar. Sekitar 100 kepala negara dan pemerintahan juga hadir.

Paus Fransikus menggambarkan Santo Yohanes XXIII sebagai “paus keterbukaan kepada Roh Kudus” dan Santo Yohanes Paulus II sebagai “paus keluarga.” Setiap gambaran itu disampaikan, terdengar tepuk tangan gemuruh.

Paus Fransiskus juga menggarisbawahi iman yang mendalam dari kedua pendahulunya itu dengan mengatakan, “Inilah dua orang yang berani, yang dipenuhi dengan parrhesia atau kebebasan berbicara Roh Kudus, dan mereka memberi kesaksian kepada Gereja dan dunia tentang kebaikan dan kerahiman Allah.

Kedua santo yang baru itu “mengajarkan kita untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam misteri kerahiman ilahi,” kata Paus Fransiskus.

14057183433_333ba09f2d_b14033992591_c9de0fe4eb_b

Dalam homili juga dikatakan bahwa Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus II bekerja sama dengan Roh Kudus dalam memperbaharui Gereja sesuai dengan sifat-sifat asli Gereja, sifat-sifat yang orang-orang kudus berikan kepada Gereja sepanjang abad-abad.

“Janganlah kita lupa bahwa orang-orang kuduslah yang memberikan arah dan pertumbuhan kepada Gereja. Dalam mengadakan Konsili Vatikan Kedua, Yohanes XXIII memperlihatkan keterbukaan yang sangat bagus kepada Roh Kudus. Dia membiarkan dirinya dipimpin dan dia ada bagi Gereja sebagai seorang gembala, seorang hamba-pemimpin, yang dipimpin oleh Roh Kudus. Inilah pelayanan besar bagi Gereja; dia adalah paus keterbukaan terhadap Roh Kudus.”

“Dalam pelayanannya terhadap Umat Allah, Yohanes Paulus II adalah paus keluarga. Dia sendiri pernah berkata bahwa dia mau dikenang sebagai paus keluarga. Secara khusus saya bahagia mengungkapkan ini saat kita berada dalam proses perjalanan bersama keluarga-keluarga menuju Sinode tentang keluarga. Pastilah perjalanan ini dibimbing dan ditopang olehnya dari tempatnya di surga.”

“Semoga kedua santo baru ini serta para gembala umat Allah menjadi perantara bagi Gereja, sehingga dalam perjalanan dua tahun menuju Sinode ini Gereja terbuka kepada Roh Kudus dalam pelayanan pastoral kepada keluarga. Semoga keduanya mengajarkan kita untuk tidak malu karena luka-luka Kristus dan semakin mendalam memasuki misteri kerahiman ilahi, yang selalu berharap dan selalu memaafkan, karena kerahiman ilahi selalu mencintai,” kata Paus Fransiskus. (pcp)

14037635674_bfc2050af3_b

Tinggalkan Pesan