20140422cnsbr5121

Takhta Suci mengadakan konferensi pers tanggal 22 April 2014 di Kota Vatikan dengan menampilkan para postulator penggelaran kudus Beato Yohanes XXIII dan Beato Yohanes Paulus II. Keterangan pers itu merupakan yang pertama dari serangkaian konferensi pers yang akan diadakan minggu ini hingga kanonisasi-kanonisasi yang akan dilaksanakan hari Minggu, 27 April 2014.

Mgr Insero Walter, kepala Kantor Komunikasi Sosial untuk Vikariat Roma, membuka keterangan pers itu dengan memberikan rincian pertemuan kaum muda malam itu di Basilika Santo Yohanes Lateran, yang  berjudul “L’eredita’ dei Santi” (Warisan Orang-Orang Kudus), kalimat yang diambil dari Efesus 1:18.

Postulator penggelaran kudus untuk Yohanes XXIII, Pastor Giovangiuseppe Califano OFM, dan postulator untuk Yohanes Paulus II, Mgr Slawomir Oder, menjawab pertanyaan utama yang bermunculan saat itu yakni, “Mengapa Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II digelari santo?” Zenit.org dan Radio Vatikan melaporkan peristiwa itu.

Berbicara kepada pers, Pastor Califano memberikan refleksinya tentang Beato Yohanes XXII dan beberapa aspek kehidupannya yang dipertimbangkan dalam penggelaran beato itu menjadi santo.

“Kalau kita berpikir tentang Yohanes XXIII, gambaran yang muncul adalah gambaran kerendahan hati, kemurahan hati, sukacita yang otentik,” kata imam itu.

Sifat-sifat ini dimanifestasikan, misalnya, dengan kunjungan-kunjungannya ke rumah sakit anak-anak Bambino Gesu, serta dengan kemauannya untuk pergi keluar ke daerah-daerah pinggiran.

“Tulisan-tulisan yang kami miliki tentang Yohanes XXIII sangat penting dalam proses kanonisasi,” kata  imam itu seraya menambahkan bahwa sejak masih tahun pertama di seminari tulisan-tulisan Yohanes XXIII sudah menunjukkan kerinduannya untuk menjadi seorang kudus.

Pada usia 21, Yohanes XXIII yang saat itu bernama Angelo Giuseppe Roncalli berkata: Tuhan benar-benar menginginkan agar aku menjadi orang kudus. Kemudian, dalam masa kepausannya, Yohanes XXIII dikutib saat mengatakan: “Mereka memanggil saya Bapa Suci. Saya harus demikian: Suci. Dia mengejar kesucian ini,” kata Pastor Califano, “dengan mempertahankan kesatuan dengan Yesus, doa Rosario, dan tetap mengawasi tindakannya sendiri.”

Pastor Califano juga mencatat kerendahan hati Yohanes XXIII dengan mengenang kata-kata Santo Fransiskus dari Assisi. “Tuhan itu segalanya dan aku bukan apa-apa. Itu cukup bagiku. Inilah yang menghibur hati Yohanes XXIII.”

Mgr Oder mengatakan kepada pers bahwa sebagian kehidupan spiritual Beato Yohanes Paulus II dibentuk oleh “doa, dan kemampuan refleksi diri yang luar biasa,” dan juga hidup penuh penderitaan. Ketika masih muda, ia menderita karena kematian ibunya, kemudian saudara lelakinya, dan akhirnya ayahnya.

Dari usia yang sangat muda, Karol Wojtyla “harus menghadapi penderitaan yang luar biasa,” kata Mgr Oder. Namun, “sintesis program hidupnya adalah bahwa manusia harus menjalani hidupnya sedemikian rupa sehingga hidupnya sendiri menjadi pengalaman akan kemuliaan Allah.”

Kehidupan rohaninya juga ditandai oleh devosi yang kuat kepada Maria: “Bimbingan spiritual yang membentuk dia adalah spiritualitas Maria yang mendalam, rangkulan Maria yang erat yang membimbingnya sepanjang hidupnya,” kata Mgr Oder.(pcp)

jpii_4

Tinggalkan Pesan