734317-99d17082-c754-11e3-b337-28333468c677

“Di salib kita melihat keburukan manusia, kalau kita membiarkan diri kita sendiri dibimbing oleh kejahatan; tapi kita  juga melihat besarnya kemurahan Tuhan yang tidak memperlakukan kita sesuai dosa-dosa kita, tetapi sesuai kemurahan-Nya.”

Itulah inti pesan singkat tak tertulis Paus Fransiskus pada Jumat malam, 18 April 2014, saat memimpin Via Crucis tradisional atau Jalan Salib, yang dilaksanakan di Colosseum kuno Roma. Pesan itu disampaikan kepada kaum imigran, penganggur, orang sakit, orang jompo dan tahanan yang berkumpul dalam kegelapan malam seputar amfiteater kuno, di belakang salib kayu sederhana, demikian laporan Emer McCarthy dari Radio Vatikan.

Allah, kata Paus Fransiskus, menempatkan semua beban dosa-dosa kita di Salib Yesus, semua ketidakadilan yang dilakukan oleh setiap Kain terhadap saudaranya, semua kepahitan pengkhianatan Yudas dan Petrus, semua kesombongan kaum tirani, semua arogansi teman-teman palsu. Itu salib berat, seperti malam orang-orang terbuang, berat seperti kematian orang yang dicintai, berat karena membawa semua keburukan orang jahat.”

Salib muncul dari reruntuhan yang menandai 14 perhentian perjalanan terakhir Kristus di sini di bumi, yang dipanggul di antara dua lilin yang bernyala oleh kaum imigran, narapidana, tunawisma, lansia, perempuan, orang cacat, dan mantan pecandu narkoba. Dari Bukit Palatine di seberang Colosseum, Paus Fransiskus berlutut dalam doa saat meditasi dibacakan oleh Uskup Agung Giancarlo Maria Bregantini dari Italia.

Selama ini, uskup agung dari wilayah selatan, Campobasso, itu berdiri di garis depan memerangi kejahatan terorganisir di Italia bagian selatan. Refleksinya berbicara tentang “semua kesalahan yang telah menciptakan krisis ekonomi dan konsekuensi sosialnya yang berat yakni ketidakamanan kerja, pengangguran, ekonomi yang mengatur bukan melayani, spekulasi keuangan, bunuh diri di antara pemilik usaha, korupsi dan riba.”

Emer McCarthy selanjutnya melaporkan bahwa meditasi-meditasi itu juga mengecam pelecehan perempuan dan anak-anak, kesepian orang-orang tua, kesepian para tahanan yang menahan penyiksaan, korban kejahatan terorganisir dan rentenir. Uskup agung itu menulis, “Hari ini, banyak saudara-saudari kita, seperti Yesus, terpaku di tempat tidur penderitaan, di rumah sakit, di rumah jompo, dalam keluarga kita.  Ini saat sulit, hari-hari pahit kesepian dan bahkan keputusasaan.”

Saat salib sampai di perhentian di depan Bapa Suci, yakni perhentian ke-14, Paus berbicara singkat memberikan sambutan tanpa naskah kepada ribuan peziarah yang berkumpul dalam terang lilin yang berkerlap-kerlip. Paus berbicara tentang “keburukan-keburukan” yang bisa dimiliki manusia kalau kita membiarkan diri dibimbing oleh kejahatan.

Tapi, lanjut Paus, “itu juga salib yang mulia, semulia fajar setelah malam yang panjang, karena merupakan totalitas dari kasih Allah, yang lebih besar dari perbuatan kita yang salah dan dari pengkhianatan-pengkhianatan kita. Di depan Salib Kristus, kita melihat, kita hampir dapat menyentuh dengan tangan-tangan betapa banyak kita dicintai terus-menerus. Di depan salib itu, kita merasa seperti ‘anak-anak’ dan bukan ‘benda-benda’ atau objek-objek.”

Paus mengakhiri sambutannya dengan mengatakan, “Oh, Yesus, bawalah kami dari Salib menuju Kebangkitan dan ajarilah kami bahwa kejahatan tidak akan memiliki kata akhir, selain cinta, kasih dan pengampunan. Oh Kristus, bantulah kami untuk sekali lagi meminta, “Kemarin saya disalibkan dengan Kristus, … hari ini saya dipermuliakan bersama Dia. Kemarin saya mati bersama Dia, hari ini saya hidup bersama Dia. Kemarin saya dikubur bersama Dia, hari ini bangkit bersama Dia.”

Paus Fransiskus kemudian mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama mengingat orang yang sakit, orang yang terbuang di bawah beban salib, agar dalam cobaan salib mereka dapat menemukan kekuatan Harapan, Harapan akan Kebangkitan dan Kasih Allah.” (pcp)

way-of-the-cross

Tinggalkan Pesan