1000 Lilin untuk SBD (2)

Ratusan frater dari Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang, Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD), Kongregasi Misionaris Claretian (CMF) dan Serikat Hati Kudus Yesus dan Maria (SSCC) lengkap dengan jubah putih berjalan sepanjang 1,5 kilometer dari Seminari Tinggi Penfui  menuju Bundaran Penghijauan Penfui.

Mengelilingi bundaran yang dikenal dengan Lingkaran Patung Kasih Kota Kupang mereka memasang 1000 lilin dan berdoa bersama. Lilin yang mereka nyalahkan dan doa yang mereka sampaikan tanggal 4 April 2014 itu adalah untuk perdamaian warga dan umat Sumba Barat Daya (SBD) Keuskupan Weetabula, Sumba.

“1.000 Lilin untuk Perdamaian Sumba Barat Daya.” Itu spanduk yang dibawa para frater bersama biarawan-biarawati dan berbagai mahasiswa, termasuk dari Fakultas Theologia Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Mereka semua dikoordinir oleh Frater Longginus Bone Pr.

Frater Longginus meminta agar elit politik di daerah itu mengembalikan perdamaian yang telah dirampas dan jangan memperalat dan mengorbankan masyarakat demi kepentingan mereka. “Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban hanya untuk kepentingan kelompok elit tertentu. Ibaratnya gajah dan gajah berkelahi lalu rumput yang menjadi korban,” katanya.

Perdamaian dan keadilan bagi masyarakat SBD adalah hal yang sangat penting dan tidak boleh dirampas untuk kepentingan apa pun dan oleh siapa pun, tegas frater itu. Sebab, lanjutnya, “masyarakat lebih merindukan pemimpin daerah definitif untuk melaksanakan pembangunan demi masyarakat kecil dan bukan sebaliknya menjadi provokator untuk kepentingan sekelompok orang atau golongan.”

“Kami Frater Seminari Tinggi Santo Mikhael yang tergabung Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua dan Keuskupan Weetebula-Sumba, bersama Frater Ordo Carmel, Frater Klaretian, Frater Hati Kudus, biarawan-biarawati, Mahasiswa Teologia Universitas Kristen Arta Wacana dan semua pencinta perdamaian dan keadilan menyatakan sikap kami untuk perdamaian dan keadilan di Sumba Barat Daya,” kata Frater Longginus.

Frater Longginus membaca lima butir sikap itu. Selain berbelangsungkawa terhadap korban kekerasan dan penembakan warga sipil, mereka menolak dengan tegas segala bentuk tindakan kekerasan dan penganiayaan yang terjadi di SBD yang berakibat pada ketidakstabilan kehidupan rakyat, segala bentuk politisasi suku, agama, ras dan antargolongan dari para politisi yang berakibat pada tindakan anarkis dan kekerasan, dan tegas berbagai bentuk isu provokatif dan tindakan politik yang memanfaatkan rakyat kecil sebagai objek dari kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan.

Selain itu, mereka mendukung sepenuhnya seruan moral perdamaian dan persaudaraan agar terciptanya suasana yang aman dan tenteram di SBD, tindakan profesional dan kriminalisasi dari aparat keamanan terhadap rakyat kecil, dan pengusutan tuntas dalang tindak kekerasan yang terjadi di SBD saat ini.      

Selain pembacaan puisi berjudul “Mari Kita Kembali” oleh Frater Korona Bria Pr, di lingkaran itu terdengar pula lagu-lagu rohani diiringi permainan gitar.

Saat itu pula semua perwakilan elemen yang hadir, termasuk pers, polisi memberikan dukungan tandatangan demi perdamaian SBD pada sebuah spanduk.

Konflik SBD adalah buntut dari Pilkada setempat. Pasangan yang menang akibat penggelembungan suara oleh oknum yang tidak bertanggung jawab disahkan oleh MK. Gugatan dilayangkan pasangan yang kalah ke pengadilan setempat. Ketua KPU setempat saat ini dihukum penjara. Masing-masing pihak ngotot untuk dilantik. Ada banyak korban materi, sejumlah rumah dibakar dan bahkan korban nyawa. Buntut terakhir, pembakaran gedung KPU setempat.  (Thomas A Sogen)

Foto oleh Frater Januario Gonzaga Pr     

Tinggalkan Pesan