Anak-Anak Dominikan peserta kursus jurnalistik

Seorang mahasiswi Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) Surabaya memanggil nama seorang nenek yang baru selesai diperiksa oleh seorang dokter untuk menunggu terlebih dahulu, karena obatnya masih sedang dipersiapkan oleh apoteker dan asisten apoteker.

“Tunggu sebentar di sini nek, nanti namanya dipanggil!”

“Lo, mbak tahu nama saya?”

Mahasiswi penerima beasiswa dari Keluarga Dominikan Indonesia itu tersentak mendengar pertanyaan lugu nenek itu. Dia pun menjelaskan bahwa nama nenek itu sudah tercantum dalam daftar obat sesuai nama yang disebutnya saat pendaftaran.

Mahasiswi itu bernama Dwi Fitriani. Gadis Muslim itu adalah penerima beasiswa dari Keluarga Dominikan Indonesia. Bersama teman-teman UKDC lainnya yang menerima beasiswa itu, mereka disebut Anak-Anak Dominikan.

Mereka bukan sekedar menerima beasiswa tetapi dibina dalam komunitas keluarga, berdoa dan melaksanakan berbagai karya, serta menerima pendampingan  berkesinambungan lewat berbagai studi. Dalam Bulan Maret 2014, mereka menerima studi jurnalistik yang kini mulai menjadi karya mereka.

Setelah studi, Dwi Fitriani bersama Fransisca Tika Paramitha, Angga Nanda Pratama, Peppi Risqi Saputri, Ninoy Christian da Silva, dan Alfredo dos Santos mempraktekkan ilmunya dengan meliput dan menulis Baksos Kesehatan Paroki Redemptor Mundi Surabaya bagi korban letusan Gunung Kelud di  Desa Kaumrejo, Ngantang, Malang, 9 Maret 2014. Sonny Gunawan, wakil ketua Beasiswa Dominikan, mendampingi

Hasil tulisan dimasukkan ke Arue, majalah bulanan yang diterbitkan oleh Keluarga Dominikan Indonesia. Menurut Pembina Beasiswa Keluarga Dominikan Indonesia Pastor Andreas Kurniawan OP, “sebesar 20 persen dari penjualan Arue disisihkan untuk dana beasiswa itu. Berarti, majalah itu bukan hanya diterbitkan untuk berbagi tulisan yang memberikan inspirasi hidup menggereja tetapi membantu beasiswa Anak-Anak Dominikan.”

Kepala Paroki Redemptor Mundi itu bangga karena jumlah pelanggan media itu semakin banyak. “Berarti semakin banyak pula orang yang terpanggil membantu keluarga yang tak mampu mengirim anaknya ke perguruan tinggi.”

Dijelaskan, saat ini Keluarga Dominikan Indonesia memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswi yang belajar di UKDC dengan IPK 3.0 atau 2.8 khusus untuk jurusan arsitektur. “Kami memberikan beasiswa tanpa memandang latar belakang agama. Selain Katolik, saat ini 50 persen penerima beasiswa itu beragama Islam dan Protestan,” tegas imam itu.

Pastor itu bangga karena Anak-Anak Dominikan mau meningkatkan Arue sehingga kualitas dan kuantitasnya meningkat dan di saat yang sama semakin banyak orang membantu meningkatkan dana beasiswa bagi mereka.

Pastor yang akrab dipanggil Pastor Andre menjelaskan empat pilar Beasiswa Dominikan yang merupakan karya dan karsa bagi negara dan Allah yang Esa. Pertama, hidup komunitas atau keluarga di mana Anak-Anak Dominikan melakukan pertemuan dua minggu sekali dan rekoleksi dua kali setahun.

Sebagai Anak-Anak Dominikan, kata imam itu, dalam kehidupan apostolik, “mereka diminta membuat karya nyata berupa tulisan minimal dua dalam satu semester, melakukan live-in atau baksos, serta kerja praktek, dan harus siap diutus kepada semua orang.”

Dalam kehidupan doa, “saat berbicara dengan Tuhan atau tentang Tuhan,” lanjut Pastor Andre, Anak-Anak Dominikan diminta berdoa untuk Keluarga Dominikan dan Keluarga Dominikan Beasiswa, dan dalam kehidupan studi mereka diminta “belajar terus menerus untuk memberi nutrisi bagi kontemplasi” dengan tetap atau meningkatkan nilai IPK, serta belajar berbagai keterampilan tambahan, Bahasa Inggris dan jurnalistik.

Dalam baksos, dua anak membantu petugas poliklinik untuk menyiapkan obat sesuai resep dokter yang dibawa kepada mereka oleh empat anak lain. Anak-Anak Dominikan membantu OMK paroki membersihkan teras dan ruang kelas tempat pemeriksaan dokter yang senantiasa berdebu dan berpasir yang terbawa oleh alas kaki pasien.

Di akhir baksos, mereka merapikan tempat duduk dan meja siswa serta kasur-kasur yang digunakan untuk pelayanan akupunktur dan menyapu lantai sekolah dari debu dan pasir.

Pastor Andre menjelaskan, program Keluarga Dominikan Indonesia “bukan sekedar beasiswa tetapi kepemimpinan.” Maka, berbagai kegiatan dilakukan bagi Anak-Anak Dominikan. “Mereka didampingi dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap hidup agar kemampuan mereka terbentuk dan menjadi pemimpin yang melayani.”

Program ini, jelas imam itu, menggunakan training dan formasi “yang tidak menekankan kemampuan akademis yang baik, tetapi juga kepemimpinan yang menumbuhkan sikap moral dan komitmen sosial untuk orang miskin.” Maka, penerima beasiswa, tegas biarawan Dominikan itu, harus “menjadi pemimpin yang melayani di paroki, komunitas, sekolah dan tempat yang ditentukan.”

Lebih daripada itu, lanjut Pastor Andre, “setelah lulus, mereka diharapkan memberikan waktu, talenta, dan berkat mereka untuk program ini melalui skema yang akan ditentukan bersama, dan semua alumni yang sukses diharapkan mengambil satu anak beasiswa.”

Sebanyak 360 warga, anak-anak hingga lansia, yang menjadi korban erupsi Gunung Kelud di Desa Kaumrejo, datang memeriksakan kesehatannya dalam baksos itu, tulis anak-anak itu.

Mereka mengamati, tim kesehatan paroki itu diterima dengan baik oleh warga. “Kulo ya seneng banget wonten pengobatan ngeten niki, soale mboten ngadah arto damel ten puskesmas (Saya ya sangat senang ada pengobatan seperti ini, karena saya tidak punya uang untuk ke puskesmas),” kata Misiran (53) yang rematik akibat sering naik turun truk karena beberapa kali pindah tempat mengungsi.

Mereka menemui beberapa warga mengaku pengobatan gratis itu bermanfaat, karena keadaan ekonomi dan situasi lingkungan saat itu tidak memungkinkan warga untuk berobat ke klinik terdekat.

Selain pasien, dalam peliputan itu, mereka mewawancarai dokter, tim Poliklinik Redemptor Mundi Memang, Orang Muda Katolik (OMK), dan Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Paroki Redemptor Mundi, dan kader kesehatan Posyandu Kecamatan Ngantang.

“Senang sekali bisa berkumpul di sini untuk menolong orang lain dan mendapat banyak pengalaman,” kata Rutiah, seorang kader kesehatan. Meskipun beragama Islam, lanjut kader lain, Rumai’yah, mereka bekerja sama dengan tim Paroki Redemptor Mundi tanpa membeda-bedakan. “Kami tidak peduli orang itu dari mana dan beragama apa. Yang paling penting kami dapat bekerja sama melayani orang yang membutuhkan.” (paul c pati)

Anak-Anak Dominikan turut dan meliput baksos Paroki Redemptor Mundi di Desa Kaumrejo, Ngantang, Malang untuk Arue

Tinggalkan Pesan