2014-03-27T113601Z_666959526_GM1EA3R1I6D01_RTRMADP_3_POPE-OBAMA (1)

“Ini kehormatan besar. Saya seorang pengagum berat. Terima kasih banyak (mau) menemui saya.” Dengan kata-kata ini, Presiden AS Barack Obama menyalami Paus Fransiskus saat kedua pemimpin itu bertemu untuk pertama kalinya di Istana Apostolik Vatikan, tanggal 27 Maret 2014.

Paus Fransiskus dan Presiden Obama kemudian berbicara secara pribadi selama lebih dari 50 menit dalam bahasa Spanyol didampingi anggota Sekretariat Negara, Mgr Mark Miles, demikian laporan yang diterima dari Zenit.org dan Radio Vatikan.

Komunike yang dirilis Kantor Pers Tahta Suci menyatakan bahwa Bapa Suci dan Presiden Obama bertukar pandangan tentang “tema-tema internasional,” khususnya  berkaitan dengan daerah-daerah konflik. Paus dan presiden berharap agar “ada penghormatan atas kemanusiaan dan hukum internasional serta solusi yang dirundingkan antara pihak-pihak yang terlibat.”

Dalam konteks hubungan bilateral dan kerja sama antara Gereja dan Negara, lanjut komunike itu, juga dibicarakan tentang persoalan-persoalan khusus bagi Gereja di negara itu, seperti pelaksanaan hak atas kebebasan beragama, serta isu reformasi imigrasi.

Baik Presiden dan Paus bersama bertekad juga untuk memberantas perdagangan manusia di dunia.

6092582w

Setelah pertemuan itu, datang juga para anggota delegasi yang menemani Presiden Obama, yakni Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Duta Besar AS untuk Tahta Suci Kenneth F Hackett, Penasihat Keamanan Nasional AS Susan Rice dan Sekretaris Pers Gedung Putih Jay Carney.

Presiden Obama menghadiahkan  kepada Bapa Suci berbagai bibit dari taman Gedung Putih. Bibit-bibit itu ditempatkan dalam kotak-kotak yang dirancang dengan kulit Amerika dan terbuat dari kayu dari tempat ziarah nasional Basilika Maria Diangkat ke Surga, salah satu katedral Katolik tertua di Amerika Serikat.

“Setiap kotak berisi bibit yang berbeda,” jelas Obama kepada Paus. “Jika Anda punya kesempatan dan datang ke Gedung Putih, Anda dapat melihat taman itu.”

Como no! (Tentu saja!),” jawab Paus dalam bahasa Spanyol.

Presiden AS itu juga memberikan sumbangan bibit yang akan diberikan atas nama Bapa Suci. “Benih-benih ini akan menghasilkan beberapa ton produk segar. Hadiah ini diberikan untuk menghormati komitmen Yang Mulia untuk menabur benih perdamaian global demi generasi masa depan,” demikian tulis sebuah catatan dalam hadiah itu.

Sementara itu, Bapa Suci memberikan dua medali kepada presiden. Medali pertama dilapisi perunggu, sebuah pekerjaan tangan. Medali itu menggambarkan malaikat yang memeluk dan menyatukan belahan utara dan selatan dari bumi, seraya mengalahkan perlawanan  seekor naga,” demikian penjelasan dari catatan Tahta Suci. Dalam ukiran pada medali itu tertulis: “Dunia Solidaritas dan Perdamaian Ditemukan pada Keadilan.”

“Sosok malaikat menggambarkan tantangan-tantangan kontemporer: menyatukan wilayah utara dan selatan dari dunia dan mengakurkan mereka seraya melawan semua kekuatan yang mengganggu, seperti eksploitasi, oposisi yang keras, bentuk-bentuk baru kolonialisme, ketidakpedulian, ketidakpercayaan dan prasangka.”

Hadiah kedua yang diberikan Bapa Suci adalah replika dari medali yang memperingati peletakan batu pertama barisan tiang bagian utara dari Basilika Santo Petrus. Medali itu menggambarkan proyek asli Bernini yang termasuk barisan tiang ketiga, yang akan mencakup Basilika Santo Petrus.

Paus Fransiskus juga memberikan salinan Seruan Apostoliknya, Evangelii Gaudium. Setelah menerima salinan itu, Presiden Obama mengatakan kepada Paus: “Kau tahu, saya benar-benar akan mungkin membaca ini saat berada di Oval Office, saat saya benar-benar frustrasi dan saya yakin (seruan) itu akan menguatkan dan menenangkan saya.” Kantor Oval adalah tempat kerja resmi Presiden AS.

Ketika pertemuan itu berakhir, Presiden Obama dan Bapa Suci tetap berjabat tangan sementara presiden mengucapkan terima kasih kepada Bapa Suci karena telah menerima dia.

Muchas gracias (terima kasih),” kata Presiden dalam bahasa asli Paus. “Doakan saya dan keluarga saya. Semoga mereka berserta saya dalam perjalanan [hidup] ini. Anak-anak perempuan saya serta istri saya harus banyak bersabar dengan saya.”

Setelah mengucapkan selamat berpisah, Presiden Obama bersama dengan delegasinya bertemu dengan Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan. (pcp)

obama-pope-francis_0

Tinggalkan Pesan