164 (Small)

Ketika tiba di Manado 50 tahun lalu, Pastor Dr Jan van Paassen MSC tidak dijemput di airport, maka imam itu dihantar oleh seorang Muslim yang bukan asli Manado untuk menemukan Katedral Manado. Tapi, tanggal 25 Maret 2014, imam itu bukan hanya dijemput oleh Uskup Manado Mgr Josef Suwatan MSC, Uskup Amboina Mgr Canis Mandagi MSC, dan Provinsial MSC Indonesia Pastor Benediktus Rolly Untu MSC, tetapi mendapat kalungan bunga bahkan ditandu oleh para frater menuju Kapel Seminari Pineleng.

Kronik Seminari Agung Pineleng 25 Maret 1964 menulis, sekitar pukul 15.00 pada Hari Raya Kabar Sukacita Malaekat kepada Santa Maria Perawan, yang tahun itu ditunda tanggal 6 April 1964, tibalah di seminari itu Pastor Dr Jan Van Paassen MSC. Maka, Misa yang dirayakan di kapel seminari yang kini bernama Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng, tanggal 25 Maret 2014, adalah Misa 50 tahun Pastor Jan berkarya di Keuskupan Manado.

“Kita patut bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada Pastor Jan van Paassen atas segala pelayannya selama 50 tahun ini. Pastor Jan memang memiliki sifat khas dan unik yang sudah sangat dikenal oleh para muridnya dan oleh uskup sendiri. Beliau sangat kritis dan tidak segan-segan menyampaikan kritikan dan koreksi demi kebaikan,” kata Pastor Albertus Sujoko MSC dalam kotbah.

Doktor Teologi Moral itu meminta kepada pihak-pihak yang pernah kena kritik dan sakit hati untuk memberi maaf kepada Pastor Jan dan memahami beliau dengan baik. “Kita patut meminta maaf kalau sering mengecewakan beliau karena sikap dan tingkah laku kita sebagai muridnya dan umatnya.”

Di atas semuanya itu, mantan ketua STF Seminari Pineleng itu mengajak semua yang hadir untuk bersyukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus karena telah mengutus Pastor Jan “untuk hidup dan berkarya di tengah-tengah kita, yang hari ini genap 50 tahun.”

Dalam Misa yang dipimpin oleh Uskup Manado, Uskup Amboina, dan Provinsial MSC serta dihadiri banyak imam yang pernah menjadi murid Pastor Jan, suster, bruder dan umat, Pastor Sujoko mengisahkan cerita Pastor Jan sendiri saat mendarat di Bandara Sam Ratulangi tanpa dijemput siapa pun, tanpa mengenal siapa pun dan tanpa tahu arah dan kendaraan yang harus ditumpangi.

Untunglah seorang pegawai kantor gubernur menawarkan jasa dengan memberikan tumpangan di mobilnya. Orang Jawa yang Muslim itu mengantar Pastor Jan ke Gereja GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa) Sentrum Manado. “Ini bukan gereja Katolik, pasti bukan di sini,” kata Pastor Jan. “Jangan cemas, saya masih tahu satu gereja lain lagi.” Orang itu lalu mengantar Pastor Jan ke Katedral Manado.

Kebetulan saat itu melintas Pastor Smouth MSC yang langsung mengantar Pastor Jan ke Seminari Pineleng. Karena tiba di seminari pukul 3 sore, saat bangun tidur, Pastor Jan bertemu rektor seminari, Pastor Petrus Akerboom MSC yang bersiap mandi dengan handuk dan piyama.

“Kau mau buat apa di sini?” tanya rektor dengan bahasa Belanda. Itu barangkali cara Pastor Akerboom mengungkapkan kegembiraan dan selamat datang kepada tenaga dosen baru yang muda dan sehat itu. Sapaan itu nampaknya bergurau dan “kurang bersahabat”.

Tiga tahun kemudian, 1967, dosen muda itu menjadi rektor, menggantikan Pastor Akerboom yang meninggal dunia secara mendadak setelah dirawat satu malam di RS Gunung Maria, tanggal 29 Juni 1967, pada Pesta Santo Petrus dan Paulus.

“Hari kedatangan Pastor Jan sama dengan hari ini, 25 Maret, saat Gereja merayakan Hari Raya Santa Maria Menerima Kabar Sukacita dari Malaekat Gabriel, karena sembilan bulan kemudian, 25 Desember, kita merayakan hari Natal. Lukas, sebagai satu-satunya penginjil yang menceriterakan dengan lengkap kisah awal kehidupan Yesus, bahkan menceriterakannya sejak permulaan Yesus mulai dikandung oleh Santa Maria,” kata Pastor Sujoko.

Dalam cahaya iman, lanjut imam itu, penyelenggaraan Allah itu Mahabijaksana. “Allah sudah mengatur bahwa tanggal itulah kabar sukacita dari tanah Belanda dibawa oleh Pastor Jan van Paassen MSC ke tanah Minahasa, khususnya di Seminari Agung Pineleng. Tidak ada keterangan menjelaskan mengapa justru hari itu bukan hari lain.”

Pastor Sujoko bercerita, tiga hari sebelum pesta itu Pastor Jan membuat refleksi di email Pineleng Group tentang kata “kebetulan”. Beliau heran mengapa kata itu selalu dipakai. Memang antara lain untuk menyatakan kerendahan hati orang Indonesia, misalnya, “Saya yang kebetulan adalah camat Pineleng, mewakili bapak bupati …” Padahal, dalam Kitab Suci tidak pernah dipakai kata kebetulan. “Yang pasti semua terjadi karena Tuhan sudah menyelenggarakannya. Sehingga bukan kebetulan bahwa Pastor Jan tiba di Manado tanggal 25 Maret 1964. Dalam kacamata iman, tidak ada hal yang kebetulan.”

Jawaban paling memuaskan mengapa tanggal itu Pastor Jan tiba di Manado karena Allah mengaturnya demikian, kata  imam itu. “Allah  sudah mengatur bahwa hari ini kita semua yang ada di sini  boleh turut hadir, dalam keadaan sehat, bukan dalam keadaan sedang sakit, untuk bisa merayakan pesta 50 kehadiran sang misionaris kecil ini.”

Misionaris kecil, karena Pastor Jan terkesan dengan cara Mgr Dr Gerardus Vesters menulis m.S.C di belakang namanya dengan m (missionarius) huruf kecil dan S.C (Sacro Cordis, Hati Kudus) huruf besar. “Karena Yesuslah yang besar sedangkan dia kecil saja,” kata imam itu.

Mgr Vesters adalah pemimpin rombangan MSC pertama yang mendarat di Manado 2 September 1920 ditemani Pastor A Bröcker MSC dan J Klemann MSC. Mgr Vesters datang sudah sebagai Uskup Manado yang diangkat oleh Paus Benedectus XV di Roma tahun 1920. Nama waktu itu Prefek Apostolik untuk Prefecturat Sulawesi. Hanya tiga tahun (1920-1923) Mgr Versters menjadi Uskup Manado. Mgr Walterus Panis MSC menggantikan Mgr Versters yang dipindahkan ke Rabaul Papua Nuginie. Uskup Manado berikut adalah Mgr Nicolaus Verhoeven MSC, pendiri Seminari Tinggi Pineleng tahun 1954, kemudian Mgr Theodorus Moors MSC dan sekarang Mgr Josef Suwatan MSC.

Pastor Jan sudah menulis sejarah Gereja Keuskupan Manado yang akan diterbitkan sebelum 15 Agustus 2014, saat Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng merayakan ulang tahun ke 60.

Menurut Pastor Jan, dia berangkat dari Belanda 21 Maret setelah perkawinan adiknya, 19 Maret. Saat transit di Singapura terjadi penundaan ‘satu hari entero’ karena ada pesawat terbakar di Bandara Singapura. Imam itu tiba di Provinsialat MSC, 24 Maret, dan “saya diberikan kamar untuk menginap satu malam, kamar yang kotor, gelap dan lembab, sehingga saya ingin cepat-cepat ke Manado.”

Tanggal 25 Maret pagi, Pastor Jan berangkat ke Manado. “Saya baru tahu bahwa kamar di provinsialat Jakarta yang kotor dan gelap itu sudah yang terbaik karena itu kamar provinsial, Pastor Andreas Sol MSC, yang sedang pergi.” Pastor Sol, guru dari Pastor Jan di seminari Belanda, kemudian menjadi Uskup Amboina. Sekarang Mgr Sol berusia 98 tahun dan tinggal di Biara MSC di Ambon.

‘Sang misionaris kecil ini’ tiba di Manado dan terus menetap di Bumi Nyiur Melambai, Tanah Toar Lumimuut. Sudah genap 50 tahun lamanya. Imam itu sudah menjadi Warga Negara Indonesia.

Pastor Jan pernah mengatakan kepada Pastor Sujoko dan Pastor Jacobus Wagey Pr: “Saya sudah tiga kali pesta 50 tahun di sini: 50 tahun kelahiran, 50 tahun hidup membiara, dan 50 tahun Imamat. Jadi, 50 tahun berada di Manado tidak perlu dirayakan.”

Namun, menurut Pastor Wagey, peristiwa itu harus dirayakan. “50 tahun berkarya sebagai misionaris mempunyai makna berbeda dan nuansa yang lain dari pesta kelahiran atau membiara atau imamat. Ini perayaan syukur pihak-pihak yang pernah dilayani oleh Pastor Jan selama 50 tahun menjadi misionaris.”

Pastor Sujoko mengatakan, Pastor Jan suka memilih Injil Markus 10:28-30 yang paralel dengan Lukas 18:28-30. Markus mengatakan, “Siapa yang meninggalkan rumahnya, saudaranya, orangtuanya dan ladangnya, akan menerima 100 kali lipat sekarang pada masa ini juga: rumah, saudara laki-laki dan saudara perempuan, anak dan ladang … dan pada akhir zaman ia akan menerima hidup yang kekal (bukan istirahat kekal, melainkan hidup yang kekal). Lukas hanya menyebutkan, “akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, “ tidak ada kata 100 kali lipat. Sedangkan Injil Matius “menyebut 100 kali lipat” tetapi tidak menyebutkan “sekarang ini juga.”

Pastor Jan lebih suka versi Injil Markus yang menyebutkan keduanya, yaitu “100 kali lipat pada saat sekarang ini juga.” Mungkin itulah yang dialami Pastor Jan selama berkarya di Minahasa, kata Pastor Sujoko.(paul c pati)

van Paassen1

Tinggalkan Pesan