Mgr Kopong Kungpk

Banyak gedung gereja dibangun berkat sumbangan uang dari para perantau, tetapi banyak juga perantau bermasalah yang mengakibatkan munculnya hal-hal negatif.

Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung menggambarkan situasi dan kondisi umat Keuskupan Larantuka yang sejak lama memiliki budaya merantau dalam Surat Gembala Prapaskah APP 2014 yang dibacakan di semua gereja di wilayah keuskupan itu tanggal 9 Maret 2014.

Saban tahun, cerita uskup itu dalam surat bertema “Menjadi Gereja Kaum Musafir di Tengah Arus Buruh Migran dan Perantau,” banyak orang dari wilayah keuskupannya pergi mencari pekerjaan di daerah lain seperti Kalimantan, Batam, Sulawesi, dan Papua, dan tidak sedikit yang ke Malaysia, Singapura, dan Taiwan.

Positifnya, jelas uskup, perantau memperoleh  pengetahuan dan wawasan, perbaikan ekonomi keluarga, membangun rumah, membiayai sekolah anak-anak, melunasi hutang keluarga, bahkan menyumbangkan devisa bagi negara dan daerah. “Ada begitu banyak gereja, kapela dan sekolah dibangun berkat sumbangan uang dari para perantau,” tulis uskup.

Namun, lanjut Mgr Kopong Kung, sejak dulu orang di wilayah keuskupan itu mengistilahkan merantau dengan ‘melarat,’ karena “pengalaman-pengalaman di tanah rantau tidak selalu menyenangkan tetapi juga gagal dan menderita.”

Maka, uskup itu mencatat sejumlah problem yang tidak kecil pengaruhnya bagi kehidupan keluarga, masyarakat, Gereja dan diri pribadi perantau. “Banyak perantau bermasalah, karena tidak dilengkapi dokumen resmi, lalu menjadi tenaga kerja ilegal dengan berbagai risiko seperti ditangkap, dihukum, dan dipulangkan ke tanah air.”

Perantau, tegas Mgr Kopong Kung, “juga dapat mengakibatkan keluarga tidak utuh, pendidikan anak terlantar dan banyak dampak negatif lainnya.”

Di akhir surat gembala itu, Uskup Larantuka mengajak umat untuk melihat lebih jeli realitas migrasi dan perantauan di wilayah keuskupannya dan mempercakapkannya di komunitas basis, sekolah-sekolah, dan kesempatan pertemuan lainnya.

“Apapun situasi perantauan yang kita alami, kiranya tidak menjauhkan kita dari Allah, melainkan harus dapat membangkitkan kerinduan kita akan Allah. Perantau yang sukses adalah perantau yang melibatkan Tuhan dalam kehidupan dan pekerjaannya. Karena itu, marilah melihat realitas ini dan mempercakapkannya di komunitas basis masing-masing, di sekolah-sekolah dan pertemuan lainnya,” harap Mgr Kopong Kung.

Untuk mengatasi persoalan iman para buruh migran dan perantau, di tahun lalu pernah dilaksanakan di Larantuka sebuah pertemuan pastoral yang dihadiri oleh Uskup Maumere Mgr Gerulfus Kherubin Pareira SVD, Uskup Tanjung Selor Mgr Justinus Harjosusanto MSF, dan Uskup Agung Kota Kinabalu Mgr John Wong. Pertemuan itu membicarakan tentang rencana pastoral khusus untuk buruh migran dan perantau asal Flores di Kalimantan Timur dan di Sabah Malaysia. (Thomas  A. Sogen)

Tinggalkan Pesan