DSC09823 

Ketika bertugas di Sabang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Komandan Yonif Linud 432 Mayor Aji Mimbarno menyaksikan Tugu Nol Kilometer dibangun dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan budaya setempat sebagai Bumi Serambi Mekah. Kini, tugu itu menjadi ikon provinsi itu.

Ketika bertugas di Merauke, dan guna menciptakan perpaduan, muncul  tekad membuat sesuatu yang sama dengan memperhatikan kearifan budaya Merauke. Karena masyarakat Merauke penganut agama Kristiani, dia pun ingin menyandingkan Tugu Nol Kilometer di Merauke dengan Tugu Salib.”

“Perpaduan dua batas wilayah Sabang-Merauke harus bersanding untuk mempererat Indonesia,” kata Mayor Aji Mimbarno.

Sekarang di dekat Tugu Nol Kilometer di bagian timur Indonesia, di Distrik Sota, Kampung Sota, Kabupaten Merauke, berdiri sebuah salib. Salib setinggi tujuh meter dan terbuat dari beton itu berdiri di atas fondasi dan lantai tegel putih setinggi setengah meter dan lebar delapan meter.

Salib, jelasnya, memiliki symbol kristiani dan mengisahkan perjalanan Tuhan Yesus menuju bukit Golgota. “Saat semua orang melihat salib, perasaan ego, saling permusuhan, dan curiga berhenti. Yang ada adalah kasih dan perdamaian di Merauke ini. Kasih kepada sesama memiliki sejarah panjang. Janganlah merusak nilai paling berharga ini,” kata Mimbarno.

Meskipun Mimbarno dan hampir semua anggota Yonif Linud 432 beragama Islam, tetapi mereka bekerja keras membangun dan mendirikan salib itu di tempat yang dinamakan Taman Salib Kasih, yang berarti perbedaan agama, suku dan ras tidak berlaku lagi saat melihat Salib Kasih itu.

Bahkan Komandan Yonif Linud 432 itu berharap agar pemilik tanah di mana salib itu didirikan, pekerja dan semua orang yang memperhatikan bangunan salib ini, mendapatkan pahala Tuhan yang mengalir terus hingga dari tanah Marind itu.

Harapan lain adalah agar tugu rohani menjadi situs yang berguna untuk semua orang, agar masyarakat Papua dan siapa saja yang menginjakkan kakinya di Merauke bisa mengambil manfaatnya dari salib itu, dan agar memberikan rahmat jasmani dan rohani sekaligus menjadi ikon wisata.

Tujuan lain, kata Mimbarno, agar semakin banyak pengunjung datang dan “masyarakat asli, suku Marind dan subsuku Kanume, bisa  menjual produknya entah sayur, umbi, nenas dan lain sebagainya.”

Bupati Merauke Romanus Mbaraka menyambut baik pendirian Taman Salib Kasih. “Merauke sekarang menjadi serambi Timur Indonesia, dan bukan bagian belakang lagi. Tuhan selalu memperbaharui hidup di dunia juga di Kampung Sota,” katanya.

“Pendirian salib ini baru mimpi kecil saja. Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil. Secara pribadi, agama bukan penyelamat tetapi penuntun hidup, mengajarkan umatnya untuk hidup baik,” kata bupati.

Setelah mendapat dukungan dari berbagai teman baik Muslim maupun Kristen, dia mengijinkan Mimbarno yang datang menghadap dan bertanya kepadanya cara membangun salib.

“Tidak ada ajaran agama di dunia yang membedakan warga kulit, agama, ras dan lain-lain. Hanya satu ajaran yaitu kasih. Maka saya namakan tempat itu Taman Salib Kasih. Kasih tidak ada batas. Kasih tidak mengenal batas negara,” kata umat Paroki Santo Yosep Bambu Pemali, Keuskupan Agung Merauke itu.

Bupati minta Kepala Pengelolah Badan Perbatasan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) untuk segera membuat landscape di sekitar tempat itu. Dia juga minta semua pendatang dan warga sekitar Kampung Sota untuk menjaga monumen itu.

“Kalau ada tanaman adat, silahkan ditanami, sehingga tempat itu bagus dan indah, sebagai tempat yang layak untuk berdoa. Jangan hanya berputar melihat Tugu Kilo Meter Nol, tetapi paling kurang mengangkat hati untuk Tuhan di daerah perbatasan ini,” katanya.

Pastor Johanes Kota Sado Pr yang memberkati salib itu bangga karena Taman Salib Kasih berdiri atas inisiatif para prajurit TNI Yonif Linud 432/WSJ Kostrad Pengamanan Perbatasan RI-PNG yang hampir semua beragama Islam. (Agapitus Batbual)

 

Tinggalkan Pesan