DSCN2980

Komisi Kerasulan Awam menghimbau umat Katolik untuk terlibat dan ikut dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden, karena nasib dan masa depan bangsa ditentukan oleh keterlibatan seluruh rakyat Indonesia termasuk umat Katolik.

Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Bandung Pastor Paulus Rusbani Budi Setiawan Pr berbicara dengan PEN@ Indonesia sesudah talkshow bertajuk ”Peluang dan Tantangan Ormas Katolik dalam Mengawal  Pemilu Berintegritas” di Kantor KWI, Cikini, Jakarta Pusat, 20 Februari 2014.

Talkshow itu menghadirkan dua pembicara pegiat Komisi Kerawam, yakni mantan anggota Dewan Komisi Keadilan Pemilu (DKKP) Osbin Samosir dan anggota Komisi Pemilihan Umum Pusat Hadar Gumay.

Menurut Kepala Paroki Kristus Sang Penabur, Subang, beberapa waktu lalu Komisi Kerawam KWI yang berfokus di bidang sosial, politik dan kemasyarakatan melaksanakan retret dan rekoleksi bagi para caleg Katolik. Tujuannya, menurut imam yang akrab dipanggil Pastor Iwan, agar umat Katolik memiliki perwakilan legislatif yang berkualitas, memiliki integritas, dan memiliki kedalaman spiritual yang baik.

Pendidikan politik, lanjut pastor yang juga bergiat di Komisi Kerawam KWI itu, dilakukan oleh komisi itu di berbagai tempat sesuai permintaan keuskupan, agar umat Katolik ikut terlibat dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden serta tidak golput.

Menjawab pertanyaan tentang Surat Gembala Prapaskah KWI 1997 “Keprihatinan dan Harapan” yang seolah-olah mendukung golput, Pastor Iwan mengatakan bahwa suasana saat itu tidak harus disamakan dengan suasana saat ini. Pemilu saat itu ditengarai karena situasi tekanan oleh pihak-pihak pemegang kekuasaan, sedangkan saat ini umat semakin leluasa menggunakan hak pilihnya.

Surat Gembala KWI Menyambut Pemilu Legislatif 2014  menulis bahwa para caleg yang dipilih harus dipastikan adalah “orang baik, menghayati nilai-nilai agama dengan baik dan jujur, peduli terhadap sesama, berpihak kepada rakyat kecil, cinta damai dan anti kekerasan.”

Surat itu juga tegas mengatakan bahwa caleg yang jelas-jelas berwawasan sempit, mementingkan kelompok, dikenal tidak jujur, korupsi dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan “tidak layak dipilih.”

Menjawab pertanyaan sikap Gereja terhadap umat yang terlibat dalam politik, imam itu menjawab bahwa Komisi Kerawam akan terus-menerus menyapa umat khususnya mereka yang terlibat dalam politik dengan mengutip pesan Mgr Al Soegijapranoto kepada Kasimo, “Jangan pernah kamu hidupi sebuah keputusan tanpa kamu terlibat di dalamnya.”

Pastor Iwan mengakui bahwa dalam hal pengkaderan Gereja Katolik tertinggal dibandingkan dengan Protestan. “Ini pengalaman berharga untuk Gereja agar ke depan lebih memberikan perhatian kepada awam yang terlibat dalam politik,” kata imam itu seraya menegaskan perlunya pendidikan politik bagi umat dan perlunya umat mengenal para caleg, khususnya yang Katolik.

Dalam talkshow itu Osbin Samosir mengajak para pastor untuk tidak terlalu banyak waktu berada di altar melainkan turun juga ke pasar. Selain itu dia mengajak organisasi-organisasi di lingkungan Katolik, misalnya Wanita Katolik RI dan PMKRI untuk melakukan kaderisasi dan terjun dalam dunia politik.

Sementara itu Hadar Gumay mengajak umat Katolik untuk ikut melakukan pengawalan seluruh proses pemilu, agar “pemilu berlangsung aman, tertib, bertanggungjawab, kredibel dan akhirnya memilih pemimpin yang sungguh-sungguh berpihak pada rakyat.” (Konradus R Mangu)

DSCN2976

Tinggalkan Pesan