12714876583_1278741234_b

Dalam sebuah upacara yang semuanya berlangsung dalam bahasa Latin, pada Pesta Tahta Santo Petrus, 22 Februari 2014, Paus Fransiskus melantik 19 kardinal baru dengan memberi mereka biretta merah dan cincin kardinal.

Sebanyak 18 dari para “pangeran baru” Gereja itu hadir dalam pelantikan di Vatikan itu, sementara Kardinal Loris Capovilla yang sudah berusia 98 tahun yang merupakan mantan sekretaris dari Beato Yohanes XXIII dan Uskup Agung emeritus Chieti-Vasto, Italia, dilantik secara in absentia.

Pelantikan itu, demikian Radio Vatikan, juga dihadiri Paus emeritus Benediktus XVI. Paus Fransiskus mengundang Paus emeritus itu untuk merayakan bersama peristiwa itu. Sebelum pelantikan, nampak Paus dan Paus emeritus itu saling berpelukan hangat dan bertegur sapa.

Dalam amanatnya, Paus mendorong seluruh Dewan Kardinal untuk mengenali tugas mereka sebagai tugas pelayanan dan kesiapan untuk berkorban. “Gereja butuh keberanian kalian untuk mewartakan Injil setiap saat,” kata Paus Fransiskus, “baik atau tidak baik waktunya, dan untuk menjadi saksi kebenaran.”

Bapa Suci juga mengatakan, “Gereja membutuhkan doa kalian untuk kemajuan kawanan domba Kristus.” Paus juga mengingatkan para kardinal bahwa “doa dan pewartaan Injil, adalah tugas utama uskup.”

Pada kardinal diminta untuk berdoa secara istimewa bagi orang yang menderita, dan bersama Paus mengungkapkan kedekatan spiritual dengan komunitas-komunitas gerejawi dan semua orang Kristen yang menderita diskriminasi dan penganiayaan. Paus mengatakan, “Gereja membutuhkan kita juga untuk menjadi pembawa damai, seraya membangun perdamaian dengan kata, harapan dan doa kita.”

Minggu, 23 Februari 2014, Paus merayakan Misa dengan para kardinal baru di Basilika Santo Petrus. Setelah Misa, Paus menyalami kerumunan orang yang berkumpul untuk doa Angelus di Lapangan Santo Petrus. Dalam sambutannya, Paus mendorong umat untuk mengupayakan persatuan umat Kristen seraya menghindari semua perpecahan, karena “umat itu bukanlah milik pengkhotbah, tetapi Kristus.”

Mengomentari Bacaan Kedua hari itu, Paus Fransiskus mengatakan, sejak saat-saat yang digambarkan oleh Santo Paulus, umat Kristen terbagi sesuai siapa saja pemimpinnya. Tapi Santo Paulus menjelaskan cara berpikir itu salah. “Segala sesuatu adalah milik-Mu Kristus! Bukan Paulus, Apolos, maupun Kefas; dunia, kehidupan, kematian, sekarang dan masa depan, semuanya adalah milik-Mu! Karena kamu adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah!” kata Paulus.

Umat Katolik lahir dari keuskupan, paroki, asosiasi, gerakan. Meski berbeda, kata Paus, “dengan Pembaptisan kita semua memiliki martabat yang sama, kita adalah anak-anak Allah.” Martabat kita,  lanjut Paus, “ada dalam Yesus Kristus.”

Orang-orang yang telah menerima tugas membimbing, mewartakan, memberi Sakramen, tidak harus merasa bahwa mereka memiliki kekuatan-kekuatan khusus, bahwa mereka adalah tuan-tuan. “Mereka harus melayani umat, membantu perjalanan mereka dengan sukacita.”

Gereja, “mempercayakan kesaksian gaya hidup pastoral ini kepada para kardinal baru,” lanjut Paus yang bercerita bahwa konsistori kardinal hari sebelumnya dan Misa hari itu memberi kesempatan berharga untuk mengalami Katolisitas, Universalitas Gereja yang terwakili dengan baik oleh aneka ragam asal-usul para anggota Dewan Kardinal, yang berkumpul dalam persekutuan erat di sekitar Penerus Petrus.

Paus juga berdoa agar Tuhan berkenan memberikan para kardinal itu rahmat untuk mengupayakan kesatuan Gereja, dan untuk membangun persatuan itu, karena persatuan lebih penting daripada pertikaian. “Kesatuan Gereja adalah dalam Kristus,” kata Paus.

Paus mengakhiri sambutannya dengan seruan untuk berdoa doa bagi para uskup, para kardinal dan Paus, sehingga mereka bisa melayani umat Allah, karena “panggilan dari seorang uskup, kardinal, Paus adalah untuk menjadi pelayan dalam nama Kristus.”

Paus meminta untuk mendoakan mereka, “agar kami dapat menjadi pelayan-pelayan yang baik: pelayan yang baik bukan tuan-tuan yang baik.”(pcp)***

1 komentar

Tinggalkan Pesan