DSC09599

Lima orang dengan penampilan sangar membidik dengan busur panah seseorang yang sedang memegang Alkitab, namun mereka dihalangi lima orang lainnya. Alkitab pun diangkat tinggi mengitari Lapangan Mandala, Merauke. Tak lama kemudian, muncul beberapa orang berpakaian Nusantara dan beberapa yang lain dengan pakaian bercorak burung Cenderawasih. Satu persatu mereka menyanjung Alkitab.

Suasana ini merupakan bagian dari adegan tarian dari Sanggar Tari Yelmasu, Merauke, yang menggambarkan bagaimana Agama Katolik pertama kali diperkenalkan orang luar kepada Suku Marind di Papua. Tarian itu ditayangkan untuk merayakan HUT ke-112 Kota Merauke, tanggal 12 Februari 2014.

Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan karangan Uskup Agung Merauke Mgr Jacobus Duivenvoorde MSC yang diterbitkan oleh Keuskupan Agung Merauke, Desember 1999, menyebutkan bahwa kontak pertama orang Marind dengan Pastor van der Heijden SJ terjadi tahun 1892.

Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) baru diundang ke Indonesia Timur, yang berpusat di Langgur, Maluku Tenggara, tahun 1902. Tanggal 28 Nopember 1903, dua imam MSC Belanda Pastor Mathias Neijens dan Pastor H Geurtjens tiba dan memulai karya di Langgur.

Rombongan pertama MSC yang tiba di Merauke tanggal 14 Agustus 1905 adalah Pastor Henri Nollen MSC, Pastor Philipus Braun MSC, Bruder Andrian van Roesel MSC dan Bruder Melchior Oomen MSC. Mereka mendirikan gereja kecil di Kampung Wendu di pesisir pantai lalu berpindah ke Kampung Buti.

Pemda Kabupaten Merauke menetapkan hari lahir Merauke tanggal 12 Februari 1902, karena menurut sejarah yang ditulis oleh website resmi Pemda Merauke, diketahui Merauke ditemukan tanggal 12 Februari 1902. Orang yang pertama menetap di sana adalah pegawai pemerintah Belanda. Mereka mencoba untuk hidup di antara dua suku asli yaitu Marind Anim dan Sohoers.

Hari kelahiran Merauke, menurut Albertina Mekiuw yang mengetuai perayaan itu, seiring dengan kegiatan evangelisasi agama Katolik di Selatan Papua. “Karnaval yang diikuti 33 kelompok SD, 22 SMP, 21 SMA atau SMK, 9 Perguruan Tinggi, 54 etnis budaya Nusantara, 46 organisasi, 9 BUMD atau BUMN, 25 SKPD, dan 8 TNI-Polri, digelar tanggal 11 Februari  mengikuti napak tilas masuknya agama Katolik masuk di Merauke,” katanya.

Wakil Ketua I Lembaga Masyarakat Adat Malind Anim Kabupaten Merauke, Albertus Moiwen Gebze bahagia karena umur Merauke sudah 112 tahun, tapi juga tidak bahagia, karena etnis Marind tak merasa Kota Merauke milik mereka. “Pesta ini milik orang lain saja. Mereka mereka merasa asing di tanahnya sendiri. Titik hari ulang tahun kali ini belum mencapai kebanggaan,” katanya.

Dia mengajak PEN@ Indonesia untuk melihat karnaval yang hanya diikuti dua kelompok Marind. “Pemerintah setempat harus memberikan peran kepada lembaga adat Malind Animha, supaya mereka mengatur kelompok etnis Marind ini agar pesta ini juga milik mereka. Mereka harus ada dalam barisan ini, supaya napak tilas cacatan sejarah awal terjadinya Merauke ini bisa kena. Dulu kota ini sempit saja sesuai arah karnaval ini tetapi sekarang kota sudah luas,” katanya.

Misi Katolik masuk Merauke pun demikian. “Awalnya misionaris Katolik mengalami kesulitan. Untungnya, misionaris Katolik tahu bahwa ada satu kesatuan agama asli yang disebut Alawih dengan Allah Pencipta yang mereka bawa. Dengan ditambahkan Putra Allah yaitu Yesus serta santo dan santa, mereka akhirnya percaya bahwa agama Katolik ini milik sendiri. Misionaris Katolik menanamkan agama dengan sikap fanatik sehingga agama lain selain Katolik dianggap aliran aneh,” kata Albertus seraya menambahkan bahwa sikap hening orang Katolik di gereja ternyata sama dengan budaya orang Marind.

Di usia ke-112 itu, Albertus mengatakan bahwa orang Marind terdesak dan terdorong untuk mencari jalan alternatif untuk bersekolah dan tidak hanya menonton. “Kita harus bangkit merobah diri. Kita jangan mengenang masa emas dulu. Sekarang, saat terjadi pergeseran budaya serta ilmu, kita harus maju untuk Merauke ke depan,” katanya.(Agapitus Batbual)***

DSC09572

Tinggalkan Pesan