HARI ORANG SAKIT  SEDUNIA

“Karya kesehatan harus dilakukan sebaik-baiknya, penuh keramahtamahan, kasih sayang, dan menyeluruh, karena sakit seseorang bukan hanya mengena pada fisiknya melainkan juga keseluruhan eksistensinya (bdk. Dolentium Hominum, 2).”

Para uskup Indonesia menulis hal itu dalam tulis pesan pastoral para uskup dengan judul “Karya Evangelisasi Gereja Katolik Indonesia di Bidang Kesehatan” yang dikeluarkan tanggal 12 November 2009, dan ditandatangani oleh Sekretaris KWI Mgr Johannes Maria Pujasumarta Pr dan Ketua KWI waktu itu Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap.

Pesan yang dikeluarkan setelah para uskup mengadakan studi serta tukar pikiran dan pengalaman selama tiga hari dengan tema “Wajah Misi kita di bidang Kesehatan: Refleksi KWI atas Karya Evangelisasi Gereja Katolik Indonesia di Bidang Kesehatan” itu masih relevan diperhatikan saat ini, khususnya memperingati Hari Orang Sakit se-Dunia yang dirayakan kemarin, 11 Februari 2014, pada Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes.

Utusan-utusan keuskupan, lembaga kesehatan yang diselenggarakan keuskupan dan tarekat, Perdhaki (Persatuan Dharma Karya Kesehatan Indonesia), KOPTARI (Konferensi Pimpinan Tarekat Religius Indonesia), UNIO Indonesia (Paguyuban Imam Diosesan Indonesia) membantu para uskup untuk memahami persoalan kesehatan dan mengeluarkan pesan itu.

Dalam pesan itu, para uskup menyadari sepenuhnya bahwa karya kesehatan itu ada karena Gereja Katolik berguru pada Yesus yang menyembuhkan demi pewartaan Kerajaan Allah dan karya itu strategis karena langsung mewujudkan kasih dan perhatian Allah kepada mereka yang menderita.

Mengutip Gaudium et Spes 10, “Sakit dan penderitaan itu lebih daripada sekedar persoalan medis tetapi langsung menyentuh hakikat manusia” para uskup menegaskan bahwa hakikat manusia yang menjadikan karya kesehatan mempunyai sisi insani sekaligus ilahi. “Bagi Gereja Katolik, penebusan Kristus dan rahmat penyelamatan-Nya sungguh menyentuh manusia seutuhnya, khususnya yang lemah, sakit, menderita dan sedang di ambang kematian,” tulis pesan itu.

Sejak tahun 2009 itu, para uskup sudah mengamati bahwa pelayanan kesehatan dari Gereja Katolik Indonesia juga mengalami tantangan dari dalam karena melemahnya spiritualitas dan semangat pengabdian, kurangnya kompetensi tenaga kesehatan, pengelolaan yang kurang memenuhi tuntutan profesionalitas dan kurangnya dana, dan dari luar antara lain perundang-undangan dan peraturan pemerintah, munculnya alat-alat medis baru, penyakit baru, rumah sakit modern yang berorientasi keuntungan, dan rendahnya kesadaran kesehatan masyarakat.

Maka, para uskup merasa perlu penyadaran diri rumah sakit Katolik untuk segera memperbaiki diri dari dalam serta menyesuaikan diri dan meningkatkan kemampuan penanganan dengan tetap berpegang pada iman dan moral Katolik yang menyayangi kehidupan.

“Munculnya banyak pelayanan kesehatan baru menuntut peningkatan mutu pelayanan terhadap pasien yang berdasarkan kasih. Semua itu mendorong kita untuk bersemangat memikirkan kembali peningkatan mutu dan keterjangkauan karya kesehatan serta selalu menimba kembali spiritualitas pelayanan kesehatan Katolik yang berasal dari Yesus Kristus sendiri,” tulis pesan itu.

Namun yang pertama diperlukan, kata para uskup, adalah pembaharuan spiritualitas yang harus terwujud dalam visi, misi, dan pelaksanaan karya kesehatan Katolik yang berdasar pada iman dan moral Katolik. “Pembaharuan spiritualitas mutlak perlu supaya sungguh terwujud pelayanan kesehatan Katolik yang bermutu dan menjangkau semua orang tanpa membeda-bedakan keadaannya serta tetap mengutamakan pelayanan kepada mereka yang miskin.”

Bahkan para uskup berpesan kepada pelbagai pihak agar “menggali kembali spiritualitas pelayanan yang berdasarkan Injil, dan mengimplementasikan dalam pelayanan nyata,” dan “semakin menyadari bahwa karya pelayanan kesehatan adalah bagian integral pelayanan Gereja yang mengandung misi pewartaan Kerajaan Allah.”

Para uskup minta agar mereka setia kepada visi dan misi pelayan dan institusi kesehatan yang sayang akan kehidupan, menghormati harkat dan martabat manusia dan menempatkan pasien sebagai “tamu Ilahi” yang dilayani dengan ramah tamah dan keikhlasan.

“Meningkatkan kerja sama antarlembaga pelayanan kesehatan Katolik agar semakin terwujud solidaritas dan subsidiaritas,” serta “Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan senantiasa menjaga keterjangkauan pelayanan kesehatan bagi mereka yang miskin dan sakit,” juga menjadi harapan para uskup.

Pekerja bidang kesehatan juga disapa oleh para uskup. Mereka diminta untuk setia pada pelayanan berdasarkan kasih, “bukan semata-mata demi keuntungan.” Selain itu, mereka diminta memberdayakan masyarakat agar semakin aktif untuk bertanggung jawab atas kesehatannya, dan mencari kemungkinan penggalangan dana maupun kemandirian masyarakat untuk menjamin kesehatan mereka.”

Para uskup berharap keuskupan, tarekat religius pemilik pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, pastor paroki, dewan paroki, dan seluruh umat agar semakin mempertegas sikap Gereja Katolik untuk mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, sebagai perwujudan nyata iman akan Allah yang berbelaskasih kepada yang sakit dan menderita. “Dalam dan melalui karya kesehatan, semoga Kabar Suka Cita semakin dialami oleh semakin banyak orang.”(paul c pati)***

Keterangan foto:

Ratusan pasien memohon kesembuhan dalam Misa Hari Orang Sakit se-Dunia ke-21 tahun lalu, 17 Februari 2013,  di Lobi Poli Spesialis Rumah Sakit Santa Elisabeth Semarang. Indonesia Press Photo/ Kencana

Tinggalkan Pesan