1033538banjir-manado780x390

Oleh Lukas Awi Tristanto*

Atas nama keuntungan ekonomi, alam dieksploitasi sedemikian rupa. Manusia sekarang bertekad mengeruk seluruh isi alam tanpa mengindahkan kelestarian di masa depan. Padahal Sang Pencipta menakdirkan bahwa manusia tak pernah bisa hidup sendiri tanpa sesamanya yakni sesama manusia maupun sesama ciptaan Tuhan seperti alam, flora dan fauna. Maka, selain disebut sebagai makhluk sosial, manusia juga merupakan makhluk ekologis karena ia tak pernah bisa hidup sendiri tanpa alam ciptaan.

Sebagai makhluk ekologis, manusia semestinya menyadari cara hadir di bumi dan cara berelasi dengan bumi dan alam ini. Namun kenyataannya, manusia telah mengeksploitasi alam ini atas nama kesejahteraan  manusia yang mengakibatkan kerusakan yang masif.

Dengan merusak alam ciptaan, manusia sebenarnya sedang menghancurkan peradaban dirinya sendiri. Fritjof Capra, fisikawan berkebangsaan Austria yang menulis buku “The Web of Life” mengatakan bahwa pada dasawarsa-dasawarsa mendatang nasib umat manusia akan tergantung pada melek ekologis, yaitu kemampuan memahami prinsip-prinsip dasar ekologi dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip ekologis.

Namun, dengan dalih keuntungan ekonomi yang serakah, alam dihancurkan. Tanah-tanah dipacu (dipaksa) dengan pupuk kimia dan obat-obatan pertanian supaya menghasilkan pangan yang melimpah. Akibatnya, daya dukung tanah menurun. Makhluk-makhluk hidup yang berjasa menyuburkan tanah pun mati terkena racun.

Sementara itu, untuk meraup keuntungan ekonomi tinggi, bukit-bukit dibabat, hutan-hutan digunduli. Tak jarang hal itu harus berhadapan dengan penduduk setempat yang benar-benar menggantungkan hidupnya pada alam sebagai petani. Mereka terancam. Tak hanya mereka dan alam tempat mereka bergantung, bahkan kebudayaan mereka pun terancam. Benarlah seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi, dunia ini cukup untuk menghidupi seluruh manusia, tetapi tak akan cukup untuk satu orang yang serakah. Apalagi di negeri ini, keserakahan itu menggurita dalam lembaga yang mempunyai otoritas.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa keserakahan merusak jatidiri manusia ekologis. Melek ekologis sebagaimana yang menurut  Capra menentukan nasib manusia berganti menjadi buta ekologis. Masa depan akan menjadi bencana jika planet ini dihuni manusia yang buta ekologis. Bahkan tak perlu menunggu masa depan, beberapa kejadian alam pun telah menunjukkan bencana itu, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kepunahan beberapa spesies penting dalam rantai makanan.

Demi pelestarian alam, manusia semestinya kembali kepada jatidiri sebagai makhluk ekologis yang melebur dalam pola-pola relasi antar makhluk. Kearifan alam selama ini telah memperlihatkan bahwa makhluk hidup satu dengan lainnya sebenarnya saling membutuhkan dalam kondisi seimbang. Kearifan alam juga sudah ditangkap oleh para nenek moyang dalam memperlakukan alam. Mereka hidup sangat selaras dengan alam dalam pola saling ketergantungan. Maka, relasi itu tak pernah mengenal dominasi, namun keselarasan. Bahkan sampah bagi makhluk satu menjadi makanan bagi makhluk lainnya. Hal itu terlihat ketika petani memakai kotoran ternak sebagai pupuk bagi tanaman. Itu adalah melek ekologi.

Untuk menyelamatkan alam ini tak ada yang lain kecuali membangkitkan melek ekologi pada manusia zaman sekarang. Karena dengan demikian, ia akan kembali memperbaiki pola relasinya dengan alam ciptaan. Mungkin akan sangat berat melakukan hal itu mengingat sudah sekian lama, manusia hidup berjarak dengan alam ketika alam hanya menjadi obyek eksploitasi, bukan subyek yang sebenarnya menjadi mitra kehidupan.

Tibalah saatnya, manusia hadir dengan ramah terhadap alam sebagai sesama warga dalam komunitas kehidupan. Maka, pola-pola relasi yang dikembangkan adalah pola yang selalu mengarah pada relasi mutualisme dan meneguhkan. Dalam situasi itu seperti yang pernah dikatakan Thomas Berry (1914-2009), kita sebenarnya sedang memasuki era Ecozoic, yakni zaman ketika kelakuan manusia dibimbing oleh gagasan komunitas bumi yang utuh, suatu periode di mana manusia tampil di bumi dalam cara yang sungguh saling meneguhkan.

Maka, hal konkret yang bisa dilakukan adalah memperbaiki cara berelasi dan berproduksi serta cara mengonsumsi. Aras pikiran, perasaan, tindakan kita harus selalu berkiblat pada kelestarian dan kesejatian alam baik dalam ranah pemerintahan (eksekutif, legislatif, dan yudikatif), pendidikan, keluarga, maupun masyarakat kita sendiri.

Hal serupa juga ditegaskan dalam Pesan Natal Bersama KWI dan PGI 2013 “Datanglah, ya Raja Damai”, dengan semangat kedatangan Kristus, Gereja-Gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia didorong untuk tidak jemu-jemu menjadi agen-agen pembawa damai di mana pun berada dan berkarya. Salah satunya adalah terus memberi perhatian serius terhadap upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian dan pemulihan lingkungan. Mulailah dari sikap diri yang peduli terhadap kebersihan dan keindahan alam di sekitar kita, penghematan pemakaian sumber daya yang tidak terbarukan, serta bersikap kritis terhadap berbagai bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan semangat pelestarian lingkungan. Dengan demikian kita juga berperan dalam memberikan keadilan dan perdamaian terhadap lingkungan serta generasi penerus kita (no. 3).

*Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang

20130220-142642_4

 

Tinggalkan Pesan