17182_large

“Bisa dibayangkan betapa takut dan ngeri yang dirasakan kedua orang ibu ini. Keduanya terjebak di tengah arus banjir bandang yang menghajar Kota Manado. Di depan mata mereka rumah-rumah hanyut terbawa banjir bandang. Kedua ibu ini terus meneriakkan permintaan tolong pada warga lainnya yang hanya bisa menonton dari seberang lokasi.”

Laporan itu terdengar dari laporan stasiun TV Trans 7 tanggal 15 Januari 2014, seraya memperlihatkan gambar kedua ibu yang berteriak-teriak kebingungan di atas rumahnya yang hancur dan tergenang air. Seng rumah tetangganya nampak beterbangan, dan di bawahnya arus banjir mengalir begitu deras. Warga lain kelihatan kebingungan di atas seng, dan ada yang berenang terbawa arus kencang itu.

Menurut Tim Layanan Bencana Keuskupan Manado yang diketuai Pastor Joy Clemens Derry Pr dengan telepon genggam 081245108988, curah hujan yang deras turun di sebagian besar kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Utara sekitar pukul 21.30 tanggal 14 Januari 2014, dan mengguyur terus sampai besok harinya pukul 05.00.

Tanggal 15 Januari 2014, BMKG menyampaikan informasi bahwa di daerah Sulawesi Utara terjadi gejala osilasi madden-julian (MJO) dengan tiupan angin berkecepatan 20-40 mil/jam, dan pukul 10.00 ketinggian air sungai di Sungai Tondano, Tateli, Sario, Bahu, Paal 2 mengalami kenaikan signifikan dan menyebabkan rumah-rumah di bantaran sungai terendam dan hanyut terbawa air.

Sejam kemudian air sungai meluap sampai rumah-rumah penduduk dan perkantoran. Banjir hampir di seluruh kecamatan Kota Manado, sebagian Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa dan Minahasa Utara. Pukul 12.00, hujan terus turun dan terjadinya tanah longsor di Jalan Raya Manado-Tomohon, Kota Tomohon, dan Kecamatan Malalayang.

Hingga pukul 18.00 di hari Kamis, 16 Januari 2014, saat Tim Layanan Bencana itu membuat laporan situasi itu,  hujan masih terus turun dalam intensitas sedang.

Keadaan mencekam. Berbagai stasiun TV menayangkan berbagai gambar mencekam, mobil hanyut dibawa air, orang terpaksa berjalan dalam banjir sambil berpegangan di pagar rumah dan memanjat pohon, penyelamatan anak-anak TK dan SD yang terjebak sekitar 18 jam di sekolah, rumah-rumah dan mobil terbenam dalam air bahkan mobil saling bertindihan seusai banjir, hingga longsor dan putusnya jalan.

Laporan situasi oleh tim keuskupan menulis bahwa korban jiwa menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara berjumlah 13 orang meninggal (lima di Kota Manado, lima di Jalan Raya Manado-Tomohon, tiga di Desa Tateli Kabupaten Minahasa), sedangkan puluhan orang dinyatakan hilang. Kompas TV memberitakan dalam berita pagi tanggal 17 Januari 2014 bahwa jumlah korban tewas sebanyak 16 orang.

Saat itu dikatakan, pengungsi yang terdata di BPBD berjumlah 40 ribu orang, transportasi dalam dan menuju Kota Manado lumpuh, kemungkinan terjadi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) karena masih banyak warga belum menggunakan masker dan cuaca yang berubah tiba-tiba, serta kehilangan harta benda, kerusakan rumah tinggal dan perkantoran, kerusakan jalan dan jembatan serta terhentinya aktivitas masyarakat di beberapa kantor swasta, PNS, dan persekolahan.

Namun, berdasarkan survey langsung ke lokasi, kebutuhan mendesak warga, tegas tim itu, adalah makanan siap saji,  bahan makanan (mie, beras, telor, ikan kaleng) masker dan obat-obatan, selimut atau sarung, tikar, air mineral atau air bersih, perlengkapan kebersihan, popok dan makanan bayi, pakaian dalam dewasa, dan terpal.

Langkah pertama tim, yang dilengkapi sekretaris dan bendahara serta 12 anggota, tiga pastor, dua suster, satu frater, dan enam awam, adalah mengadakan assessment di lokasi banjir dan tanah longsor tanggal 15 sampai 16 Januari 2014 pukul 19.00 untuk pembuatan laporan situasi dan kajian kebutuhan.

Ketika melakukan assessment, kata Pastor Benny Salombre, mereka bertemu sekelompok relawan dari Bolaang Mongondow Selatan yang lengkap dengan seragam. “Ternyata mereka telah menjadi relawan terlatih,  yang tahun 2009 dilatih oleh tim DRR Keuskupan Manado,”  kata imam itu.

Menurut informasi yang diterima PEN@ Indonesia dari Sekretariat Keuskupan Manado, selain Posko Pelayanan Bencana Keuskupan Manado yang dikoordinir Pastor Joy Derry di Kantor Keuskupan Manado, telah dibuka dapur umum di Kampus De La Salle Kombos, LSY Komo, dan Pastoran Perkamil.

Dijelaskan, daerah-daerah yang mengalami banjir dan tanah longsor adalah Paroki Tikala Baru, Paroki Manado, Paroki Perkamil, Paroki Tuminting, Paroki Kleak, Paroki Rike, Paroki Karombasan, Paroki Kembes, Paroki Tanawangko, Paroki Kleak, Paroki Tateli, Paroki Rumengkor, dan Paroki Mokupa.

Pastor Steven Lalu Pr dari Roma memuji teman-temannya di Keuskupan Manado dengan menulis dalam sebuah milis, “Kerasulan kemanusiaan adalah ungkapan iman kita. Bravo. Iman menggerakanmu. Karyamu bukan karena ada perintah atau iming-iming dana tapi untuk ungkapkan imanmu. Karyamu bukan karena ikut-ikutan supaya jangan dicap Gereja tidak peduli. Dan karyamu bukan untuk maksud politis apapun tapi untuk ungkapkan iman. Kita percaya Tuhan ajar kita untuk bantu orang yang menderita.”

Penyiar Trans 7 selanjutnya melaporkan, bukan hanya kedua ibu itu yang terjebak. Warga lain yang lebih berani berjuang menyelamatkan diri dengan cara masing-masing. Ada yang memilih memanjat pohon, ada yang naik ke atas seng, atau meloncat ke arus banjir dan berusaha menyelamatkan diri. Sejak subu air memasuki rumah warga, tapi sejak pukul 7 pagi gelombang banjir bandang kembali datang dengan kekuatan lebih besar, dan dalam waktu singkat ratusan rumah hancur dan hanyut.

Tengah malam ketika berita ini sedang ditulis, hujan deras tiba-tiba turun lagi. Pada pukul 01.00 Wita, tanggal 17 Januari 2014, tulis Tribunnews.com, “Hujan ini datang tiba-tiba tak seperti hujan biasa yang selalu diawali dengan gerimis … Air seolah tumpah seperti ember berisi penuh air yang ditumpahkan dari langit. Tak sedikit warga khawatir dengan hujan tengah malam ini.” Dan, status di BlackBerry Messenger kembali dipenuhi permohonan “Pray For Manado.”(paul c pati)***

Foto dari Sindonews.com

Tinggalkan Pesan