VaticanSyria_LG (1)

Lokakarya para ahli politik dan tokoh-tokoh Gereja terkemuka yang Vatikan lakukan selama sehari berakhir tanggal 13 Januari 2014 dengan seruan untuk segera mengadakan gencatan senjata di Suriah.

Mengakhiri permusuhan adalah “perintah kemanusiaan” demikian sebuah pernyataan yang mereka hasilkan seraya memohon bantuan rekonstruksi, dialog antarkomunitas dan keikutsertaan penuh semua aktor regional dan global, demikian Zenit.org dari Kota Vatikan, 14 Januari 2014.

Pertemuan 13 Januari yang diselenggarakan oleh Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengetahuan di Casina Pio IV, Taman Vatikan, itu diadakan menjelang konferensi Jenewa II yang akan dimulai 22 Januari. Pembicaraan yang didukung oleh PBB itu bertujuan untuk memadukan kesepakatan antara rejim Suriah dan kelompok-kelompok oposisi untuk membentuk pemerintah transisi.

Pembicaraan-pembicaraan itu juga mendahului kunjungan Menteri Luar Negeri AS John Kerry ke Vatikan tanggal 14 Januari. John Kerry berperan penting dalam pembicaraan-pembicaraan itu dan juga dalam proses perdamaian antara Israel dan Palestina.

Tema pertemuan adalah “Suriah: Dengan korban tewas sebanyak 126.000 orang dan 300.000 anak yatim dalam 36 bulan perang, bisakah kita tetap acuh tak acuh?”

“Ngerinya kekerasan dan kematian di Suriah membuat dunia kembali berefleksi. Untuk mendapatkan kesempatan baru menuju perdamaian,” kata para ahli dalam pernyataan akhir, “marilah kita semua berupaya dengan rukun dan saling percaya memetakan langkah rekonsiliasi dan rekonstruksi.”

Para peserta mendaftarkan tujuh poin rencana untuk perdamaian yang dimulai dengan “gencatan senjata segera” tanpa prasyarat politik. Ini termasuk mengakhiri persenjataan kedua pihak oleh “kekuatan-kekuatan asing,” kata mereka, seraya menambahkan bahwa itu adalah “perintah kemanusiaan” yang merupakan “langkah pertama untuk rekonsiliasi.”

Bantuan kemanusiaan harus segera diberikan, lanjut mereka. Mereka juga meminta masyarakat internasional untuk memberikan banyak “dukungan keuangan dan manusia” guna membantu membangun kembali negara itu “sebelum semua persoalan politik dan sosial diselesaikan.”

Kaum muda dan orang miskin harus diberikan “peran istimewa” dalam upaya rekonstruksi ini, kata mereka, karena ekonomi Suriah berada dalam “keadaan ambruk” dan pengangguran kaum muda adalah “dampak yang tak diharapkan.”

Para ahli politik juga menganjurkan “dialog antarkomunitas.” Setelah bertahun-tahun kekerasan antarkomunal, tulis pernyataan itu Tahta Suci “berkomitmen untuk mendukung semua agama dan komunitas agama” di Suriah.

Mengakui konflik di negara itu didorong oleh kekuatan-kekuatan luar, secara positif peserta melihat bahwa rakyat Suriah sendiri telah hidup damai dalam sebagian besar sejarah mereka “dan bisa melakukannya lagi.” Tapi mereka juga mengakui bahwa konflik regional yang telah “melanda Suriah” harus diselesaikan “guna menciptakan kondisi untuk perdamaian jangka panjang.”

Jenewa II harus memastikan “peranserta inklusif” semua pihak, di dalam dan luar wilayah itu, lanjut mereka. Mereka juga melihat, “sangat pentingnya” kesepakatan terbaru yang dicapai antara Iran dan Dewan Keamanan PBB tentang program nuklir. Perjanjian itu bisa jadi “landasan penting” perdamaian abadi di Suriah, kata mereka, laksana terobosan dalam pembicaraan damai Israel-Palestina saat ini.

Pernyataan itu diakhiri dengan ungkapan prasyarat-prasyarat untuk perdamaian abadi yakni segera menghentikan kekerasan, mulai membangun kembali, melakukan dialog antarkomunal, mengembangkan penyelesaian semua konflik regional, dan mengikutsertakan semua aktor regional dan global dalam mengupayakan perdamaian di Jenewa II.

Langkah-langkah itu, lanjut mereka, akan memberikan “dasar keamanan dan rekonstruksi di mana perdamaian abadi dapat dibangun.”

“Transformasi Politik diperlukan,” kata mereka. Itu “bukan prasyarat untuk mengakhiri kekerasan” tapi akan lebih “menghantar penghentian kekerasan dan membangun kembali kepercayaan.”

Mereka menutup dengan mengutip kata-kata Paus Fransiskus dalam doa bagi perdamaian di Suriah September lalu. Dalam doa itu Paus mengatakan bahwa “kekerasan dan perang tidak pernah menjadi jalan menuju perdamaian.”

Presentasi dalam lokakarya itu diberikan oleh para ahli politik termasuk mantan kepala Badan Energi Atom Internasional Mohammed ElBaradei, ekonom Amerika Jeffrey Sachs, dan Pyotr Stegny, mantan duta besar Rusia untuk Israel dan ahli dalam diplomasi dan kebijakan luar negeri Rusia di Timur Tengah.***(pcp)

Tinggalkan Pesan