DSC09276 (1)

“Seminari sudah ada di Keuskupan Agung Merauke. Manfaatkan momen ini untuk memperbanyak doa untuk panggilan. Jumlah umat Katolik di Kota Merauke semakin berkurang. Jumlah imam juga sedikit. Renungkan hal ini di rumah!”

Bupati Merauke Romanus Mbaraka menegaskan hal itu saat Uskup Agung Merauke Mgr Nicolaus Adi Saputra MSC dan dua konfraternya Pastor Anton Fanumbi MSC dan Pastor Cayetanus Tarong MSC merayakan Pesta 25 Tahun Imamat di Gereja Kristus Hidup Paroki Sang Penebus Kampung Baru, Merauke, 8 Januari 2014.

Perayaan yang dihadiri sekitar 3000 umat itu didahului Misa dengan 30 imam konselebran. Selain bupati, hadir juga Sekretaris Daerah Merauke Daniel Pauta dan Kapolres Merauke AKBP Petrus Patrick Rudolf Renwarin.

Kepada tiga imam itu, bupati berterima kasih karena telah mendampingi umat atau warganya selama 25 tahun. Kepada umat dia minta untuk berdoa agar Tuhan tidak meninggalkan para imam itu.

“Menjadi imam hingga 25 tahun bukan gampang. Tetapi terkadang saya berbicara keras dengan Mgr Nicolaus tentang imam asli Papua dan meminta tolong agar memperhatikan imam lokal,” kata Romanus Mbaraka yang prihatin karena banyak orang Katolik pindah Gereja dan pindah agama.

Imam lokal hendaknya diperhatikan dan setiap keluarga Katolik hendaknya mendidik anaknya menjadi imam, harap bupati di depan uskup, para imam dan umat yang hadir.

Drumband SMP YPPK Yohanes Aerts dan tarian adat Mappi, Muyu dan Tanimbar menjemput tiga biarawan MSC itu. Menurut Ketua Dewan Paroki Kampung Baru, Thomas Kimko, hari itu menjadi perayaan 25 Tahun Imamat dari Mgr Adi Saputra yang ditahbiskan imam 1 Februari 1989 dan dari Pastor Anton serta Pastor Cayetanus yang ditahbiskan imam 8 Januari 1989 di dua tempat berbeda.

“Karena teman seangkatan, walaupun tanggal tahbisan berbeda, disatukan saja,” kata Thomas yang berharap dengan peristiwa itu umat sadar bahwa keuskupan itu sangat kekurangan imam dan mau “berdoa supaya ada panggilan imam, biarawan serta biarawati di sini.”

Seminari Pastor Bonus sudah berdiri. Beberapa orang sedang belajar di STFT Fajar Timur-Jayapura, di Seminari Tinggi Ledalero, dan di Seminari Tinggi Filsafat Pineleng. Kongregasi para suster dan bruder juga terbuka menerima calon. Namun, panggilan memang sulit sehingga perlu “ditopang dengan doa.”

Menurut Pastor Anton dalam kotbahnya, gembala menjaga domba-domba, “tetapi terkadang gembala masa bodoh dan domba keluar kandang.” Pengalaman itu, kata imam itu, selalu mereka alami.

Selama pendidikan mereka dituntun oleh gembala lain, pamong, pastor, guru dan teman angkatan, yang menuntun kecerdasan mereka untuk kelak jadi gembala. “Tugas kami di seminari hanyalah belajar dan belajar. Di saat tertentu kami diminta mengambil keputusan mau lanjut atau pulang saja,” kata imam itu.

Namun, dorongan untuk tetap hidup setia kepada Tuhan datang dari keluarga, umat di kampung tempat bertugas dan sanak keluarga, kata pastor asal Tanimbar itu.

Beberapa imam yang hadir menceritakan pengalaman dan memberi pesan. Pastor Kees de Rooy MSC dari Belanda bersyukur karena tiga imam itu yang tetap tinggal di Papua selama 25 tahun imamat. Tapi, imam itu berpesan agar imam muda di keuskupan itu “selalu kreatif agar tetap berkarya di Papua.”

Superior Daerah Papua, Pastor Robertus Sukiswadi MSC berterima kasih atas perhatian umat untuk imam MSC dan imam lain di Papua dan bersyukur karena mereka selalu mengingat Sabda Sang Gembala “untuk menambah panggilan khusus di Papua.” Imam itu meminta umat untuk selalu mencintai imam mereka dalam suka serta duka.(Agapitus Batbual)***

Tinggalkan Pesan